(di antrean SPBU kutatap matanya
dan matanya menatap tanganku
dengan mewanti-wanti
apakah bergerak memberikan recehan
kepadanya)
seperti angin ia menatap untuk meniupkan sukmaku
dan dengan keringat yang berat di tubuhnya
ia datang kepadaku
menyuguhkan kecrekan nyaring dan suara trotoarnya
saat itu hawa sedang panas
tepat di atas kepala
tepat di dalam hati
tepat di lorong gang yang sempit
tempat di mana mentari terbenam selalu
lalu dengan tubuh belianya yang berkarat
dan pakaian compang-camping
ia menyanyikan lagu yang sering diputar di televisi
waktu pun bergerak perlahan
klakson berteduh sejenak
lidah orang-orang berhenti saling tikam
desah, tangis, tawa, amarah,
bermuara ke samudra
ingin ia memandikan kota dengan air mata
walaupun belum lancar bicaranya
kudengar suaranya dalam
yang terkulai di trotoar ia nina bobokkan
kudengar kecrekannya nyaring
yang lapar kini bersendawa
lirik tak jelas terucap
nada samar bunyinya
jeda lupa tuk disahut
macet, debu, asap dan antre menyatu
melahirkan suasana
kemudian setelah selesai
dengan tangannya yang menengah
(di antrean SPBU kutatap matanya
dan matanya menatap tanganku
dengan mewanti-wanti
apakah bergerak memberikan recehan
kepadanya)
Berastagi, 02 Februari 2024