Esai : Arti Sebuah Perjalanan Bagi Penyair: Catatan atas Buku ‘Pelangi Langit Perth’

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Arti Sebuah Perjalanan Bagi Penyair:
Catatan atas Buku “Pelangi Langit Perth”
 
… Perjalanan dan pengembaraan menjadi sesuatu yang berharga
untuk dicatat dan dipahat dalam jurnal kehidupan …
(penggalan pengantar buku oleh Rida K Liamsi)
 
 
Oleh  : Bambang Kariyawan Ys, M.Pd
 
 
Anugerah Menapaki Bumi Allah
 
Penggalan pengantar di atas menekankan akan pentingnya mencatat dan memahat kesempatan atas waktu yang diberikan Sang Pemilik Waktu. Menapaki bumi Allah yang lain adalah sebuah pengalaman berharga. Banyak cara menuangkan pengalaman yang terhampar agar lebih berkekalan. Salah satunya yang paling meninggalkan keabadian akan kenangan pengalaman itu lewat tulisan. Terkait dengan itu Al Ghazali pernah mengatakan bahwa yang paling jauh dari kita adalah masa lalu (kenangan). Jembatan antara masa lalu dan masa depan adalah dengan tulisan. 
 
Banyak pengalaman-pengalaman yang ditulis semisal berkesempatan ke tanah suci. Ada yang menuangkannya dalam bentuk puisi, cerpen, novel, dan tulisan pengalaman spiritual. Banyak pula karya-karya lahir karena mendapat kesempatan berkunjung ke tempat-tempat yang lain. Di antara sederet ragam genre tulisan, banyak yang memilih puisi sebagai puncak menuangkan kata-katanya.
 
Memang saat ini telah banyak antologi yang ditulis dengan tema-tema mengeksplor daerah setempat. Semisal antologi puisi Banjarbaru di Kalimantan Selatan, antologi puisi Banyuwangi, dan Riau pun pernah menerbitkan buku dengan tema Siak dalam antologi puisi “Menderas Sungai Siak”. Karya-karya tersebut dapat dieksplorasi tanpa harus berkunjung ke daerah tersebut. Namun tentunya akan beda rasa ketika karya-karya sastra yang dibuat karena pengalaman penulis pernah mengunjungi tempat tersebut. Buku Pelangi Langit Perth: Kumpulan Puisi karya Hening Wicara adalah salah satu buku yang ditulis dari pengalamannya berkunjung ke Perth, Australia.
 
 
Tubuh Pelangi Langit Perth
 
Buku puisi ini berjumlah 50 puisi yang dapat kita kelompokkan dalam bagian-bagian berupa 8 puisi tentang persiapan perjalanan seperti “Wajah di Balik Visa”. Bagian kuliner ada 6 puisi seperti “Restoran Manise”. Tentang gedung yang dikunjungi ada 4 puisi seperti “The Bell Tower”. Lingkungan alam sekitar Perth ada 10 puisi seperti “Pohon-Pohon Tua”. Manusia Perth digambarkan dalam 5 puisi seperti “Gadis-Gadis Perth”, dan beberapa puisi lain dalam kelompok tentang dinamika kehidupan masyarakat Perth.
 
Pelangi Langit Perth dapat kita klasifikasi kembali dalam jenis puisi berupa: Puisi perjalanan (traveling), dari mulai persiapan membuat visa, menunggu penerbangan di terminat, terbang, mendarat, urusan dengan imigrasi, berkunjung ke destinasi wisata, kuliner, bertemu orang-orang tempatan. Puisi rupa, dipotret dari sesuatu yang direkam oleh indra bahkan melalui selembar foto menjadi inspirasi. Puisi kontemplasi, pada setiap bait awal terdeskripsikan seperti sebuah cerita biasa namun pada akhirnya selalu ada diksi-diksi kunci yang membuat kita tersentak dan merenung.
 
Terminal International 
 
Bait awal:
Di terminal international pulau dewata,
Aku seperti tak sedang berada di nusantara
Sebab lebih banyak orang asing berambut kuning 
Bait akhir:
Di matamu yang jernih,
Aku tak hanya melihat hitam dan putih
Menatapnya membuatku lupa pada sedih
 
Di sinilah letak kekuatan penyair bermain kata yang diawali dengan objek yang dipandang dan diakhiri dengan sebuah kunci perenungan atas objek tersebut.
 
Dalam Langit Pelangi Perth ada tiga puisi pendek yang sangat menarik. Salah satunya “Dermaga”, tergambar dalam puisi empat baris tersebut. Pada puisi pendek ini tergambarkan kristal-kristal isi hati penyair pada baris “Ada dermaga selebar daun”.  
 
Dermaga 
 
Di dadaku
Ada dermaga selebar daun
Tempat di mana aku betah menunggumu,
Bertahun-tahun
 
 
Hikmah untuk Negeri Kita
 
Buku puisi ini bukan sekedar menuangkan aktualisasi bahagia selama melakukan perjalanan namun menyingkap sisi feminis penyair. Namun juga memberikan pelajaran berharga buat negeri kita. Bila di negeri ini para pejabat melakukan kunjungan kerja ke luar negeri dengan alasan studi banding, maka buku puisi perjalanan ini mengajarkan beberapa hal untuk negeri kita antara lain tentang keadilan hukum, harmonisasi, dan lingkungan.
 
Keadilan Hukum
 
Kanguru telah dipilih sebagai simbol negara mereka karena hewan ini selalu berjalan dan melompat maju. Simbol ini menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat untuk bersama membangun kemajuan negara. Untuk mencapai itu perlu adanya penegakan hukum sebagai jalan membangun kemajuan. Pelajaran itu terlihat pada puisi Hening Wicara dalam “Patung Kanguru”.
 
Patung Kanguru 
… Kangguru tidak pernah dan tidak akan pernah berjalan mundur!
Untuk menopang filosofinya,
Dibuatlah hukum yang tegas.
Tak sekedar mengatur perkara-perkara besar,
Tapi juga hal-hal remeh-temeh …
 
Harmonisasi
Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah di kota Perth tetap bersanding dengan bangunan-bangunan modern. Cara mereka memadupadankan bangunan lama dan modern itu menjadi pelajaran bagi negeri kita. Terasa sayang bila bangunan-bangunan sejarah yang monumental itu dihancurkan begitu saja tanpa dilihat penting nilai sejarahnya ke depan. Harmonisasi ini ditulis penyair dalam “Santa George’s Terrace”.
 
Santa George’s Terrace 
 
…Kota ini beda
Kami saksikan banyak bangunan klasik nan cantik
Juga bangunan modern dengan gaya arsitektur menarik
Keduanya berpadu hadirkan pesona eksotik
Di telinga kami, kota ini berbisik:
Kelak, orang-orang akan paham
Bahwa harmonis yang mereka rasakan
Terbuat dari pahit dan manis kenangan …
 
Bicara Lingkungan
 
Perth dikenal sebagai kota yang sangat memperhatikan keseimbangan lingkungan. Hal ditandai dengan tersedianya 400 hektar untuk taman kota terbesar di dunia yaitu Kings Park and Botanic Garden. Terdapat pohon-pohon tinggi berjajar rapi hingga bunga-bunga liar yang tumbuh subur. Serta begitu terpeliharanya sungai sebagai tempat hidup berbagai biota. Dapat dilihat pada salah satu puisinya “Sungai Swan”. Bisa kita bandingkan cara masyarakat kita dan Perth memperlakukan sungai.
 
Sungai Swan 
… Tak seperti di kampung halaman
Dibawanya gelisah daun kering,
Dibawanya ketakutan wadah plastik,
Dibawanya kepanikan karung bekas, 
Dibawanya keceriaan kaleng-kaleng
… Sungai Swan berbeda
Ia begitu tenang dan bersahaja
Bentuknya seperti angsa
Warnanya biru mega
Di kedalamannya yang entah
Tersimpan banyak kisah
 
Epilog
Penyair mahir memainkan ide-ide sederhana dengan menjadikan objek yang ada di hadapannya menjadi sub-sub objek kiasan. Kita bisa lihat dalam puisi “Sepiring Nasi Lemak” yang ditemukannya dengan bahagia di Perth. Namun bukan sekedar bicara tentang kuliner namun ada sesuatu berupa suara feminim yang ingin diungkapkan penyair.
 
Timunnya terlalu tipis, katamu
Ya, setipis rasa percaya kepada mantan
Yang sudah berkhianat, timpalku
 
Aroma santannya kelewat pekat, ujarku
Ya, sepekat kenangan bersama mantan
Yang kerap hadir di ingatan, selamu
 
Sambalnya sangat pedas, ucapmu
Ya, sepedas kata-kata mantan
Yang sampai kini terngiang di telinga, balasku
 
Ikan bilisnya banyak sekali, ujarku
Ya, tapi masih lebih banyak kesalahan mantan
Yang tak bisa dimaafkan, sambungmu
 
Bawang gorengnya kurang banyak, ucapmu
Ya, tapi masih kurang lagi tanggung jawab mantan,
Yang bikin kelimpungan, timpalku
 
Dan kita semakin lapar 
Hanya dalam waktu sebentar
Sepiring nasi lemak ludes kita hajar
 
Perth, 2018
 
Bambang Kariyawan Ys, Guru SMA Cendana Pekanbaru. Penerima Anugerah Bahasa dan Sastra Tahun 2020 Kategori Tokoh Pendidikan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau. Menerbitkan novel “Anak Air Asin” dan kumpulan cerpen “Lukah yang Tergantung di Dinding”.
 
 
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com
 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan