Esai Nasir Tamara : Kisah Emile Zola, Penulis dan Intelektual

KISAH EMILE ZOLA, penulis dan intelektual

Oleh Nasir Tamara

SABTU lalu, saya ikut diskusi publik via zoom tentang peran publik intelektual untuk mengenang Dr. Daniel Dhakidae cendekiawan terkemuka Indonesia anggota Asosiasi SATUPENA.

Saya pikir perspektif internasional penting dipakai dalam paparanku.

Di Eropa -di mana peran intelektual dihargai- tugas mereka adalah memperjuangkan nilai-nilai luhur yg universal.

Kisah penulis besar Prancis Emile Zola kita bisa pelajari. Ia menulis surat terbuka ‘J’accuse’ (‘Saya menuduh’) di harian Aurore, Paris di tahun 1898.

Dia mengkritik kekuasaan politik sampai ke Presiden yg menuduh secara sengaja Kapten Alfred Dreyfus pengkhianat negara karena bekerja sebagai mata-mata Jerman. Padahal bukan. Hasil rekayasa. Semata-mata karena perwira itu adalah seorang Yahudi pada masa di mana ada kebencian yg besar pada minoritas ini di ujung Abad ke XX.

Untuk itu Emile Zola dijatuhi hukuman berat karena berani mengemukakan kebenaran universal yg tertulis sebagai motto negara sejak Revolusi Prancis yaitu ´kebebasan, persaudaraan & persamaan’.

Sebelum ditangkap, penulis ini pergi ke Inggeris. Setelah pemerintah jatuh Emile Zola pulang ke negerinya.

Berkat perjuangan Emile Zola maka Kapten Dreyfus diberi grasi, dibebaskan.

Waktu itu koran Aurore termasuk pelopor dalam membela kebebasan pers.

Karya monumental Zola yg lahir dari ibu orang Prancis dan ayah dari Italia adalah Les Rougon Macquart. Kumpulan dari banyak buku roman yg ditulis sepanjang 1871-1893.

Salah satu karya terbaik lainnya adalah Germinal tentang kehidupan sangat berat para buruh tambang.

Kita beruntung karya Emile Zola berjudul Les Ventres de Paris diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Pasar-pasar Kota Paris di tahun 2017.

Kasus ´J’accuse’ terus diajarkan di fakultas hukum – kata Duta Besar Prof.Dr Mulya Lubis- karena tetap sangat relevan sampai sekarang
Setelah Emile Zola meninggal karena dibunuh, tiga dekade kemudian Julien Benda seorang cendekiawan Prancis mengkritik para intelektual yg lupa akan raison d’être mereka. Ia menulis buku ´La Trahison des Clercs’ yg berarti ´Pengkhianatan kaum cerdik pandai.

Buku ini banyak dibahas pada awal Orde Baru. Karena banyak cendekiawan yg terkooptasi oleh negara.
Kepergian Daniel sebagai intelektual terkemuka telah merangsang pembahasan tentang peran cendekiawan masa kini oleh berbagai kelompok. Termasuk dari para sahabat UGM & LP3ES.

Cendekiawan rupanya harus turun dari menara gading membantu mencari solusi dari masalah bangsa akibat pandemi & resesi ekonomi. Tentunya juga pengaruh peran media sosial yg cenderung -dg memakai algoritma-memecah belah bangsa. Belum lagi pemakaian neuro science untuk memanipulasi pemikiran yg dapat digunakan dalam politik.
Carpe diem.

Penulis adalah Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena), wartawan senior dan menulis buku fenomenal Ayatullah Khomeini. Tinggal di Jakarta.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan