Cerpen Nazla Thahira

BONEKA PANDA


Aku selalu bisa membuat orang berbahagia. Jika orang tersebut sedang sedih, maka akan kembali gembira saat melihatku. Teruatama anak kecil pasti akan gembira saat melihatku. Aku berwarna hitam dan putih .

Leiran, dialah yang selalu menyentuhku setiap saat. Leiran lah yang menjaga ku selama 14 tahun lamanya. Dia bisa dibilang orang yang sangat ceria. Saking cerianya dia bisa saja tidak bisa diam saat berada di luar ruangan. Aku sangat senang jika dia menyentuhku. Seperti merasa punya teman bercerita.

Saat senja sudah mulai redup, tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Aku melihat Leiran sedang bersedih. Seperti biasa dia memelukku dengan erat. Sungguh rasanya hangat saat dipeluk Leiran. Melihat dia menangis tersedu-sedu ingin aku berkata “mengapa kamu menangis? Apa yang menyebabkan kamu menangis Leiran?”, tapi aku hanya sebuah benda mati yang tak bisaa berbuat apa-apa.

Besoknya, matahari sudah mulai terbit. Aku masih melihat Leiran bersedih. Aku hanya bisa memberi aura yang ceria. Sungguh aku kehilangan Leiran yang ceria setiap saat. Aku mendengar perdebatan Leiran dengan orangtuannya.

“Kenapa kamu tidak bisa mendapatkan ranking 1 dikelas?!”

“Aku sudah berusaha dengan keras pa…”

“Ini yang kamu sebut usaha? Kalau sudah berusaha tidak mungkin kamu tidak mendapatkan ranking 1!”

“Sudah pa, setiap malam Leiran sudah belajar dan berusaha mati-matian.”

Mama Leirann pun menyuruh nya untuk masuk ke dalam kamar agar tidak mendengar kritikan papanya. Di dalam kamar, mamanya menenangkan Leiran agar tidak bersedih lagi. Aku dipeluk Leiran dengan eratt.

Besoknya aku mendengar papa Leiran berkata bahwa dia terlalu asik bermain denganku, sampai-sampai lupa waktu. Sungguh hatiku terasa seperti disayat saat mendengar ucapan itu. Leiran yang sedang bersedih membuatku berfikir akulah penyebabnya. Jika saja dia tidak terlalu sering bermain denganku, dia tidak akan lupa waktu. Seingatku Leiran tidak pernah bermain sampai lupa waktu.

Leiran menentang perkataan papanya yang menyebut akulah penyebab dia melupakan waktu belajar. Leiran merasa akulah yang membuat dia tenang disaat bersedih karena perkataan papanya. Ingin sekali rasanya mengubah Leiran seperti dulu.

Tiba-tiba papanya Leiran mengahmpiriku dan merobekku karena kesal dengan tentangan yang Leiran ucapkan. Sungguh rasanya sakit sekali. Niat papanya Leiran baik karena ingin anaknya pintar, tapi caranya salah. Membentak anak akan membuatnya semakin memberontak. Harusnya mereka saling berbicara dengan suasana yang tenang.

Leira semakin kencang tangisannya setelah melihatku dirobek papanya. Dia menjahitku sembari menangis tersedu-sedu. Berkat Leirann aku Kembali seperti semula. Aku hanya bisa dipeluk oleh Leiran. Aku tidak bisa menenangkan Leiran yang sedang sedih. Aku hanya sebuah boneka panda yang lucu. Leiran berteriak kepada papanya.

“Pa sungguh aku sudah capek dengan sikap papa yang seperti ini! Aku sudah berjuang, tapi papa tidak menghargai usahaku selama ini. Pa, aku sudah mendapatkan ranking 2 itu sudah cukup menurutku…”

Papanya terdiam setelah mendengar ucapan Leiran. Mungkin setelah mendengar perkataan Leiran, dia tersadar sikapnya terlalu berlebihan. Papanya meminta maaf karena telah bersikap kasar.

            “Maafkan papa ya nak… maafkan papa yang sudah bersikap terlalu berlebihan kepada kamu”

            “Iya pa, aku memaafkannya. Maafkan juga Leiran banyak salah sama papa dan sudah membentak papa tadi.”

Aku mendengarnya sangat senang. Jika dibicarakan dengan kepala dingin kan jadinya enak. Tidak ada yang tersakiti. Sama-sama menemukan solusi agar bisa naik ke ranking 1. Mereka sepakat agar belajar bersama dan membagi waktu. Leiran pun jadi sering memeluk aku lagi. Sekarang aku bisa kembali membuat Leiran Bahagia.

Duri, 16-November/2021


Nazla Thahira S,  kelahiran Duri tanggal 22 Januari 2007. Siswa kelas 9 di SMPS Cendana Mandau. Memiliki prestasi memenangkan lomba FLS2N menari, memenangkan lomba PBB dan memenangkan lomba senam. Saya gemar membaca novel dan menari. Saya paling menyukai novel Tere Liye yang berjudul “Harga Sebuah Percaya”. Saya juga menyukai novel Rina Yunita berjudul “Fana”. Tari yang saya suka tradisional dari pada modern, karna lebih gampang dipraktikkan.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan