Syair Menjemput Permaisuri – M. Rizal Ical

Syair Menjemput Permaisuri

Dengan menyebut asma Allah
Hilanglah segala pembuat resah
Menjauh pergi jerit gelisah
Berganti gembira riang membuncah

Setelah halal jalin ikatan
Akad nikah sekali ucapan
Cinta berlabuh tepat sandaran
Rayuan mesra berbalas jelingan

Rangkaian adat berlalu sudah
Riuh rendah gegap meriah
Tinggal menunggu hari terindah
Bersanding berdua menguntai madah

Sebelum bersanding langkah berarak
Tabuhan kompang penuh semarak
Orang melihat semua bersorak
Seperti raja begitulah lagak

Berjalan pelan ramai rombongan
Apit gegading sirih genggaman
Sedikit gugup mendengar sindiran
Sudah menjadi adat kebiasaan

Disambut silat suguhan adat
Pendekar Melayu ligat bersilat
Satu persatu datang mendekat
Kepada pengantin memberi hormat

Orang berseru sahut menyahut
Telagah gelanggang unjuk berlutut
Rangkaian jurus runtut berturut
Jumlah ganjil semangat melecut

Setelah selesai menuju pintu
Kain terhalang sudahlah tentu
Syarat masuk halangan berikut
Canda bersenda hilangkan takut

Berbalas pantun bahasa kias
Jual beli hitungan jelas
Kalaulah kurang tanggapan tegas
Terpaksa menambah supaya selaras

Debar semakin pintu terbuka
Sekejap masuk tatap semuka
Wajah permaisuri jelita sangka
Hati terpekur takjub seketika

Bergandeng tangan jalan bersama
Menyeruak bangga hadir menjelma
Sempurna hidup fitrah diterima
Bersatu cinta saling menerima

Serasa berjalan di sebuah taman
Melihat bunga mekar bermekaran
Kumbang datang menjemput jamuan
Bersimbah madu beradu jamuan

Engkalulah kasih sebelah rusuk
Siang malam wajah merasuk
Menganggu tidur semalam suntuk
Meski terkadang terakntuk-kantuk

Sekarang semua jelas terpampang
Merah inai sebagai lambang
Pengantin baru bukan sembarang
Siap arungi bahtera terbentang

Menjemput permaisuri duduk bersanding
Di atas pelamin pandang menjeling
Singasana bedelau tabir di dinding
Orang memandang sekalian bising

Bercakap-cakap pasangan sepadan
Seorang cantik seorang tampan
Orang datang bersalam salaman
Memberi restu do’a untaian

Marilah nikmati hari bersanding
Menjadi permaisuri berdua sebanding
Usah hirau soal keliling
Tentang asmara teramat penting

Hari bersanding ditunggu sangat
Duduk berdua merenda hasrat
Menunggu malam melepas hajat
Kembara dunia hingga akhirat

Berjanji setia selama hidup
Satu hati taut bertangkup
Saling percaya sudahlah cukup
Pintu kubur kisah penutup

Berakhir sudah untaian syair
Setenang raut menjunjung pikir
Menjemput permaisuri suratan takdir
Kini hidup bahagia mengalir

Kelapapati, 30 Zulkaidah 1442 H

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan