Membangun Istana Peradaban dari Ruang-Ruang Kepala: Catatan dari Pelantikan FLP Riau: oleh Daris Kandadestra

14

Selasa siang itu, 17 Februari 2026, suasana di salah satu sudut Kota Pekanbaru terasa lebih hangat dari biasanya. Di layar digital, wajah-wajah penuh semangat menyapa dari berbagai penjuru, sementara di ruang fisik, aura khidmat begitu kental menyelimuti prosesi pelantikan pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Riau dan Cabang Pekanbaru periode 2026-2028. Ini bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Ini adalah tentang meneguhkan kembali janji di jalan literasi.

Nafi’ah Al-Ma’rab, Ketua Umum FLP Indonesia, menatap dengan tenang dan berwibawa. Sebelum melantik para pengurus, ia menitipkan sebuah pesan yang melampaui urusan administratif organisasi. Bagi Nafi’ah, seorang penggerak literasi harus memiliki “kemurnian” dalam tiga lapis: bahasa, tingkah laku, hingga niat yang paling dalam.
Komunikasi adalah kunci,” ujarnya lembut namun tegas. Pesan itu seolah menjadi pengingat bahwa sebelum mengubah dunia dengan tulisan, seorang anggota FLP harus lebih dulu menata hatinya sendiri.

Literasi: Bukan Sekadar Mengeja, Tapi Menyadari

Nuansa batin tersebut kian mendalam saat acara beralih ke sesi bincang buku terbaru Nafi’ah, “Literasi Indonesia: Antara Gagasan dan Gerakan”. Yudi Muchtar, sosok yang baru saja mengemban amanah sebagai Ketua FLP Riau, membedah buku tersebut dengan kacamata reflektif.

Yudi tidak bicara soal angka buta huruf atau minimnya perpustakaan. Ia justru menukik pada akar masalah yang lebih fundamental. “Masalah literasi kita bukan soal kurangnya fasilitas,” kata Yudi sambil memegang buku bersampul merah-putih-hitam itu. “Masalahnya ada pada kesadaran dan karakter. Literasi adalah kerja peradaban, bukan sekadar aktivitas teknis membaca.”

Bagi Yudi dan pengurus FLP Riau yang baru, tantangan ke depan adalah bagaimana menggeser paradigma literasi dari sekadar “program kerja” menjadi sebuah “identitas sosial“. Buku ini, menurut Yudi, adalah kompas bagi mereka yang ingin bergerak dengan landasan ideologi yang kuat, meski ia juga mengingatkan perlunya data empiris untuk memperkokoh gerakan di lapangan.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Rumah yang Kokoh

Di sisi lain, Gustri Yulia, sang Sekretaris Wilayah, membawa ingatan hadirin pada usia organisasi yang kini menginjak 29 tahun. Angka yang tidak muda bagi sebuah komunitas. “Mestinya kita mulai bertanya, apa yang sudah dan akan kita berikan untuk FLP, bukan sebaliknya,” ajak Gustri dengan nada reflektif.

Semangat kebersamaan ini diperkuat oleh wejangan dari Dr. Bambang Kariyawan Ys. Tokoh literasi Riau ini memberikan analogi yang indah tentang sebuah rumah. Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah bangunan kolektif. “Tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kita ibarat bagian-bagian dari sebuah rumah yang saling melengkapi agar menjadi bangunan yang kokoh,” tuturnya. Kehadiran Mulyati Umar selaku pegiat literasi dan aktif berproses di FLP Riau menambah kehidmatan acara. Hal tersebut merupakan bentuk dukungan moril bagi kepengurusan FLP di Bumi Lancang Kuning.

Nakhoda Baru di Bumi Lancang Kuning

Kini, estafet kepemimpinan telah berpindah. Nama-nama seperti Yudi Muchtar di level Wilayah dan Nurhikmah di level Cabang Pekanbaru, beserta jajaran divisi yang lengkap—mulai dari Kaderisasi hingga Kepalestinaan—kini memanggul harapan baru.

Acara hibrid itu pun usai, namun pesan penutup dari buku Nafi’ah seolah masih terngiang di ruang pertemuan: Perubahan bangsa tidak lahir dari kebijakan semata, tetapi dari ruang-ruang kepala yang terisi pengetahuan.

Hari itu, FLP Riau dan Pekanbaru kembali membuktikan bahwa mereka bukan sekadar komunitas penulis. Mereka adalah para tukang bangunan yang sedang menyusun bata demi bata untuk membangun istana peradaban Indonesia melalui kata-kata.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan