Nyoto : Solusi Bukan Solutif

SOLUSI BUKAN SOLUTIF
Oleh :  Nyoto
 
Corona virus-19 (covid-19) lahir nun di negeri Tiongkok percisnya di kota Wuhan dan merupakan ibu kota provinsi Hubei yang penduduknya termasuk kategori padat, telah memporak-porandakan totalitas kehidupan manusia di planet bumi. Sebelumnya, tidak akan terpikirkan oleh manusia bahwa virus ini akan muncul dan menyerang jutaan manusia dan sampai hari ini masih terus berlanjut menebar ancaman dan diperkirakan akhir 2021 mulai reda dengan catatan penggunaan vaksin diaktifkan.  Sampai hari ini, artinya kita sudah memasuki hampir satu tahun kalender berjalan wabah covid 19 belum juga tuntas. Ngerinya, covid-19 mengubah secara signifikan terhadap kehidupan bangsa-bangsa di belahan planet bumi ini. Paling kentara adalahs ektorteknologi;  untuk menghindari kontak secara langsung antar manusia dalam menjalani aktivitasnya, solusi yang terjawab adalah teknologi internet.
 
Sejumlah pertanyaan muncul: Apakah manusia harus tinggal diam selamanya di dalam rumah masing-masing? Apakah para pelajar harus belajar selamanya dari rumah masing-masing? Apakah pelaku usaha harus menawarkan produk dari rumahnya saja? Apakah tenaga medis yang biasanya praktik kini harus menjadi konsultan dari rumahnya? Ya, ada banyak pertanyaan tentang banyak hal yang bisadiajukan, namun tentu manusia yang diberi segenggam “otak” berupaya untuk menghasilkan nilai berarti bagi menjawab sejumlah masalah yang dihadapinya. Dan untuk seentara, teknologi adalah jawaban terbaiknya, bahkan teknologi telah men-support lahirnya vaksin yang mulai diedarkan seperti Pfizer hingga Sinovac. Di Indonesia kita juga mengenal vaksin MerahPutih sebagai hasil kerja upaya anak bangsa. Sayangnya, di sini kita masih memperdebatkan hal ikhwal yang tidak produktif seperti apakah mengandung unsur babi, sudah sukseskah pengujiannya, diberlakukan dimana saja, dan sebagai-sebagainya. Kita harusnya mengukur dari perspektif nilai guna terhadap nilai-nilai kemanusian sebagai solusi bukan mengukur dari dimensi perdebatan normatif yang disebut hanya sekadar tawaran solutif.
 
Semua di atas tadi adalah upaya manusia untuk menghadapi serangan virus covid 19 yang telah menewaskan jutaan manusia di muka bumi ini. Suatu fenomena yang menakutkan tentunya. Akan tetapi manusia perlu hidup untuk memenuhi tuntutannya lahirianya seperti yang diungkapkan Abraham Maslow dalam teori hirarki kebutuhan hidup; basic need, precausionary need, social need, esteem need, dan self actualization. Manusia tentu tidak dibenarkan untuk menyerah terhadap kondisi dan situasi yang dihadainya, melainkan manusia setidaknya menjadi bagian terpenting dari sebagian manusia lain yang berupaya untuk keluar dari situasi sulit ini.
 
Ambil contoh, sektor ekonomi sebagai dimensi terbesar dalam pengendalian pengaturan arus barang dan jasa yang bukan lain untuk memenuhi hidup manusia juga menghadapi hal yang sama. Kita tahu, ada banyak karyawan yang harus menerima nasib untuk diberhentikan tersebab ketidak mampuan perusahaan untuk menghidupi karyawannya. Jangankan menghidupi karyawannya, untuk menghidupi perusahaan itu sendiri pun belum tentu terpenuhi. Kita paham bahwa tujuan perusahaan secara umum adalah meraih sejumlah profit (profitability) dan mempertahankan kelangsungan hidup (continuity). Dalam kondisi ini kedua variabel ini tidak terpenuhi sepenuhnya, sebab itu ada banyak rentetan efek yang menjadi konsekuensi.
 
Tapi itulah kodrat manusia, walaupun telah saya sebutkan manusia hanya memiliki otak “segempal” yang dibawanya kemana-mana, itu adalah suatu mukjizat yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada manusia yang bila dikelola secara baik, maka akan menghasilkan keluaran positif dan boleh jadi sebaliknya; bila dimanfaatkan untuk hal-hal negatif maka bukan mustahil manusia akan menderita. Artinya, manusia selalu berpikir dan terus mencari solusi atas masalah yang dihadapinya. 
 
Pada taraf berpikir ini, kita seharusnya tidak lagi menyatakan hal-hal yang normatif tetapi lebih kepada hal-hal yang langsung aplikatif sehingga implemntasinya jelas. Pernyataan-pernyataan normatif hanya dapat dikategorikan sebagai bagian motivasi yang karakteristiknya belum tentu memberi jalan untuk diaplikasi. Misalnya, ada pernyataan bahwa untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan harus menerapkan sistem informasi yang baik dan mampu membaca peluang bisnis. Pernyataan kalimat aktif ini hanya sebatas normatif semata dan tidak solutif karena semua orang akan tahu bahwa penerapan sistem informasi yang baik memang sudah seharusnya, terlebih-lebih era digitalisasi memang mengharuskan perusahaan berbuat demikian. Begitu juga dengan perusahaan harus mampu membaca peluang bisnis, peluang bisnis yang bagaimana yang dimaksudkan? Bukankah peluang bisnis yang dimaksudkan juga pernyataan normatif? Terkadang pernyataan-pernyataan normatif ini bisa digunakan pada konteks normatif pula; di arena motivasi, di area pembekalan, di sektor pemula dalam peraihan pengetahuan. Area normative ini menjadi area epistemology kalangan strata bawah yang belum tentu berpikir secara filosofis. Dan ikhwal itu sah-sah saja untuk komunitas tersebut.
 
Sengaja pula dari awal saya tidak membaha setimologi “solusi” dan “solutif”, karena saya lebih tertarik dengan penegasan isu yang akan mendapatkan jawaban atas dua kata tajuk yang saya pilih. Barangkali anda setuju bila pernyataan normatif dianggap solusi semata, iya solusi yang berkarakter konjungtif. Selanjutnya, tugas terberat bagi seorang pemikir adalah memberikan solutif; solutif bagi penjual siomay adalah ikut aplikasi  online sehingga ada “tangan-tangan” lain yang membantu distribusi barang kekonsumen – business net working. Ini adalah cara termudah untuk mengatasi malasnya manusia keluar rumah karena masa pandemik covid-19 ini. Selanjutnya, bukan mustahil pula  perilaku manusia yang terus menerus berdiam diri di rumah dan bekerja dengan konsepwork from home, seminar from home, learn from home, sale from home, negociation from home, dan masih banyak hal lagi yang dapat dilakukan dari rumah, maka perilaku ini menjadi suatu kebiasaan, menjadi tabiat. Dalam konsep sosiologi kebiasaan sebagai tabiat manusia yang dilakukan terus-menerus disebut dengan norma atau budaya. Jelas bila norma atau budaya berlaku maka hukumnya mengikat terhadap komunitas penganutnya. 
 
Sebagai penutup, saya menawarkan seharusnya cara pikir manusia tidak sebatas berpikir pada konsep normatif karena frekuensi dan intensitas kegiatan manusia sangat tinggi dikarenakan tuntutan adanya perubahan atas sejumlah permintaan memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi sebagai bagian dari rekayasa enginering terbaik saat ini menjadi solusi manusia menggunakannya; belajarlah menungganginya bukan sebaliknya sehingga ada konsekuensi negatif yang terkadang kita terima akibat ketidak mengerti anatas kemajuan teknologi. Jangan sampai kita menjadi bodoh karena kebodohan yang kita pupuk sendiri.*
 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan