Perahu Kata : Puisi-puisi Riska Widiana – Kota Yang Padam

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

KOTA YANG PADAM

Tuhan mengetuk pintu surau dan juga rumah-rumah kami yang kumuh
Malam-malam Tuhan juga berbisik kepada tubuh yang terbaring di ranjang
Supaya lekas bangkit dan menyalakan cahaya yang padam
Sebab kota kini tengah gelap gulita
Orang-orang berjalan tanpa melihat
Mencari arah dalam pekat
Saling berbenturan

Kota ini kehilangan matahari di tengah teriknya zaman
Kami mulai menghidupkan
Nyala sinar dari dada manusia
Yang telah lama kehilangan penerang
Lewat zikir-zikir yang dirapal
Serta doa-doa yang di rajut
Kami meniupkan pelita-pelita yang sirna
Oleh iman dan taqwa

2021

DEBU YANG INGIN MULIA

Kami adalah sekumpulan debu halus
Di balik butiran pasir yang kasar
Melekat di seluruh tubuh manusia
Di toko-toko, kantor, dan gedung tinggi
Serta sekehendak angin membawa pergi
Bila musim panas tiba
Kami semakin berkuasa di jalanan
Di tubuh-tubuh orang yang sombong
Rendah hati maupun yang setengah hati
Kami paling suka pada tubuh manusia
Yang menuai harapan pada sampah-sampah kotor
Sebab mereka tidak peduli

Pada suatu hari
Aku ingin menjadi debu yang mulia
Tanpa dikuasai angin
Ataupun di tempat-tempat yang kusam
Bisakah juga aku menjadi seperti mutiara yang dicari banyak manusia?
Sedangkan ia menyembunyikan tubuhnya di tengah lautan rapat-rapat
Atau menjadi debu yang menjelma permata?

Riau, 2021


SENANDUNG IBU

Kata ibu ketika suatu hari
Saat matahari mulai naik semakin tinggi
Tidurlah nak
Rangkailah mimpi dengan indah
Tidurlah nak
Duniaku adalah milikmu
Sebab jika masih bisa melihat senyummu mekar
Seakan umur semakin panjang
Serta kematian tidak lagi menakutkan
Namun hati tiba-tiba gundah
Sebab jika tidurmu adalah keabadian
Lalu bagaimana aku?
Karena seluruh napas dan jiwa
Sudah kuberikan padamu
Setiap darah mengalir dan jantung berdetak
Itu adalah hidupmu
Jika kau pergi nak
Maka apakah aku juga tiada?
Sebab bagaimana hidupku kembali datang
Setelah dibawa pergi

Riau, 2021


PERJALANAN MENUJU TUJUAN

Layar yang berlayar
Membuka dengan mekar
Menuju lautan yang sukar
Di antara gemuruh ombak terdengar

Ketika tali kapal ditambatkan ke tubuh dermaga
Kita juga bersiap menyiapkan pancang untuk menjaga
Kalau saja arus sedang mematai kemudian memutus tali
Lalu kapal yang kita tambat dibawa pergi

Jika sudah menepi
Segala suka duka harus dihadapi
Melawan badai dan menerima segala musim silih berganti
Di daratan yang baru
Tempat hati memantapkan langkah untuk menanam kehidupan
Sebelum perjalan diputus usia

2021


ANGIN SENJA

Tak ada yang mampu kutuliskan dalam sajak
Tentang senja yang terlukis di langit sana
Wajah mentari terbenam di ufuk barat
Seperti senja melabuhkan merahnya pada penghujung laut

Seluruh napas yang kuhirup seperti ronanya yang pelan-pelan menipis
Udara yang berhembus
Seperti rindu yang jauh meninggalkan dada
Tempat ia dipendam
Kemudian dilepas bebas ke semesta

Menjadi udara yang mengejar ombak
Namun tidak pernah menyatu kepada gemuruh-gemuruh yang terus menghantam tepian
Sedangkan aku yang serupa angin terus berhembus tanpa mampu terwujud

Riau, 2021

Nama Riska Widiana asal Riau, Kabupaten Indragiri Hilir. Kelahiran 25-november 1997. Kesibukan yaitu mengajar. Mulai aktiv menulis pada tahun 2020 hingga sekarang, memiliki buku antologi yang berjudul [DALAM KATA AKU MENCIPTA : 2020 DI RUANG KARYA] dan antologi bersama yaitu [ANALEKTA RASA : 2020 DI GUEPEDIA] tergabung dalam komunitas kelas puisi alit ( kepul) dan kelas menulis bagi pemula jejaknya bisa ditelusuri dengan akun fb. Riska widiana dan mentari ig.riskawidiana97 email riskatembilahan@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan