Syair Imam Dua Syurga

Bagai terkena sambaran petir
Mendengar kabar merunsing pikir
Istri terkasih mendekat takdir
Terserang sakit sekarat mampir

Berhar-hari sakit terbaring
Muka pucat kurus kering
Hanya tatapan selalu bening
Sedih melihat sesak merinding

Telah mencoba ragam ramuan
Siang malam do’a harapan
Angkat penyakit ringankan beban
Segera sembuh sungging senyuman

Semakin hari bertambah lemah
Sedikit makan keluar muntah
Batuk kuat menyembur darah
Terlihat tenat sungguh parah

Sebagai suami timbul kasihan
Sakit menimpa sudah suratan
Belahan jiwa rintih kesakitan
Menduga akhir entah kapan
Suara lembut memanggil datang
Istri terkasih kata berulang
Membuat diri duduk tercengang
Tentang perkara telah dirancang

Meminta tunai sebuah hajat
Supaya melangkah tidaklah berat
Mencari pengganti benar hakikat
Terucap ridha tawakal berbuat

Sebelum nyawa berhenti bernafas
Akad nikah segera dilafas
Calon pengganti pilihan pantas
Mendua cinta bersungguh ikhlas

Rasa haru seketika menyergap
Hendak berkata lidah tergagap
Sesak dada sebak terjungkap
Begitu sulit hendak diungkap

Kalau bukan karena istri
Takkan mungkin sanggup ingkari
Cinta pertama mengunci diri
Penganti sulit menjeling cari

Seraut wajah cantik menunduk
Datang mendekat setuju angguk
Sedang hati dilanda kecamuk
Wajah istri cerah menunjuk

Seketika akad nikah berlangsung
Sejurus kemudian larut merenung
Garis takdir lurus mendukung
Ciuman tangan lekat menggantung

Tanpa sempat pandang sekadar
Sebab teriakan tangis terdengar
Jantung istri berhenti debar
Nadi lemah sedikit bergetar

Bergegas masuk ruangan bedah
Keadaan tidak menentu arah
Rasa kehilangan cepat singgah
Seperti tiba saat berpisah

Tetapi duga bukanlah nyata
Nyawa istri selamat serta
Duka menjadi suka cita
Tetapi masih berlanjut cerita

Menjadi imam dua surga
Tidak pernah diri menduga
Nasib berkendak membina keluarga
Haruskah megah merasa bangga

Dua surga seorang imam
Berbagi cinta berbagi geram
Mendua malam kecamuk pendam
Terlalu payah mengurai paham

Mampukah mahligai lama bertahan
Sementara rintangan kacau keadaan
Menyerah bukan sifat kebiasaan
Siasat harus berdaya badan

Lumrah biduk ombak cemburu
Kadang sindir saling seteru
Kerap datang mengharu biru
Mencari perhatian cinta memburu

Sungguh bukan imam sempurna
Tetapi kasih merangkai warna
Bersama menjaga cinta terbina
Surga sebenar tahta sempena

Kelapapati, 19 Muharam 1443 H

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan