Perahu Kata | Puisi-puisi Suhendri RI

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

Pria Berjaket Hitam Berdiri Dekat Jendela Kaca

JALAH SUTAR

Seperti air
Mengaliri lahan-lahan kerontang
Dari hulu hingga ke hilir
Mengucur simpati

Walau belukar sudah menjadi rimba
Setetes air kehidupan membasuh
Ladang ingatan yang mati obor

Dalam lubuk jiwa papa
Nama seharum bunga mawar
Biar tangan pemecah batu
Tertusuk duri di tangkainya

“Jadilah sumber mata air!”

‘Pabila lupa kembali ke muara
Tinggalkan pakaian yang hanyut
Di derasnya aliran arus Senayan

Cikarang, 17 September 2020

SYAIR SANGKAKALA

Kala langit terisak pedih
Gemuruh meraung lirih

Gending lengger menyumpal telinga
Di malam yang pekat, manusia
Terjerat gairah tabu
Berbaur dalam libido durja

Seketika bumi bergetar
Pengamunamun diterbangkan
Guncang tubuh yang alpa

Malam terkoyak habis
Tangis Legetang bernapas sesak
Dalam kubangan lumpur dosa

Alam hijau berbatas cakrawala
Sekejap mata rata dengan tanah
Jiwa-jiwa hampa
Berpulang singgasana derita

Cikarang, 18 Oktober 2020

ANJING BERKALUNG SORBAN

Mengaji berpuluh abad
Hanya membaca dan menghafal
Beribu ratus ayat, hadits dikhatamkan
Mengingat dunia, alpa ngaji diri

Berhari-hari berguru ke maha guru
Menafsir makna tersirat dan tersurat
Hanya melipat-lipat surat bagus
Dijual pada korporat, otoritas apatis
Menuhankan yang diciptakan Tuhan

Jiwa kubur, ingatlah!
Ia tidak akan pernah berubah

Banjarnegara, 23 Desember 2020

SECANGKIR KOPI POLITIK

Teraduk sudah segala rasa
Diaduk-aduk pula negeriku Indonesia

O tuan-tuan penikmat kopi Senayan
Sepakat apa bagimu luka ibu?
Hingga taburan kristal putih menjadikanmu
Manusia adiktif pecandu di tanah moyang

Bergelas-gelas kopi mengubah wajah pembawa amanat
Semakin berpenyakit juga ada yang bergelar raja gila

Ah, bukankah secangkir kopi menuangkan gagasan segar
Kini aku mengerti, tak selamanya hitam itu gelap
Di tempat tersudut pun terdapat celah ‘tuk menghapus
Jejak ampas kopi yang berceceran

Banjarnegara, 27 Desember 2020

BATU BERTULIS

Mata waktu membaca peradaban dunia
Telinga angin mendengar dan mengabarkan
Apa yang ditulis debu sejarah

Jejaknya beriwayat di tanah nusantara
Ciaruteun, Yupa, Candi Jiwa, Pasir Awi, Cidanghiang
Mencatat siklus panjang perjalanan leluhur
Di Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Berahi
Mengurai kata dalam makna elusif

Dapatkah tangan-tangan zaman mengabadikan batu bertulis
Sebelum punah terkikis cuaca di bumi nusantara?

Banjarnegara, 3 Februari 2021

DARI BUMI KENDAGA

Dari bumi Kendaga
Aku baca sajak matahari
Dalam gelisah sepi selimut cuaca

Karena angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam
Biar waktu yang mengungkap setumpuk tanya di kesunyian

Semoga bunga teratai yang kau petik di telaga kasih abadi
Terjaga sampai batas cahaya memudar?

Dari bumi Kendaga
Aku tulis prosa anggrek merah
Masihkah getarnya rasa mengingat satu nama?

Seperti embun yang meneteskan kesetiaan pada daun keladi
Lalu rebah di dada bumi
Aku pun tabah menanti mekarnya wijaya kusuma
Dalam percakapan musim

Bara, 15 Februari 2021

YANG TAK TERLUPAKAN

Mengapa kau tanam bunga api di taman belakang
Bukankah hujan dapat memekarkan cerita pada sebuah masa
Di mana harum kenangan menyerbak ke dalam lubuk

Air mataku takkan surut, sebab darah masih menganak di kolam mata
Sedang waktu tidak mungkin menghidupkannya kembali

Pohon kamboja yang tumbuh di pelataran sukma
Menjadi tugu peringatan yang tak terlupakan
Semakin senja, langkahku tersaruk ke dalam rimba badai

Apakah aku teramat dingin untuk memecahkan batu-batu dendam?

Mengapa kau lempar mawar ke pusara lalu durinya
Kau tinggalkan di mata, di jantung yang tak pernah kulupakan dalam kepala

Kota Api, 16 Februari 2021

Suhendi RI, lahir di Bekasi 1986, saat ini aktif berkegiatan sastra di KPB (Kelas Puisi Bekasi). Podium (2015) kumpulan puisi tunggal yang dicetak oleh penerbit Rose Book.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan