Puisi : 1. Tanjung Uban Kepagian 2. Penyengat 2019, Karya Husnu Abadi

TANJUNG UBAN KEPAGIAN 

Kaupun masih merangkak
Pada pohon-pohon setengah tua
Pulang menjelang usai
Tanpa cendera mata
Sebuah aroma
Berwarna ungu nan muramTunggulahAda yang menangis di dalam 
Antara Koto Tinggi dan BintanAda cinta dan dendamDalam rentang gelombang yang masih terangAroma pagi iniAdalah duka beranak lukaYang belum berakhir
Pagi di Tanjung UbanSegera hilang dan meredupAku tetap membawa benderaYang selalu kukibarkanSelama  ada matahari pagi 


Tanjung  Uban 2019

PENYENGAT 2019

Aku  berjalan diatas gelombang dan merapat di dermaga tua. Sepanjang gelombang kudengar seribu gurindam yang dinyanyikan para syuhada. Pelan dan menghanyutkan. Ada suara azan di pagi yang  gelisah. Dimanakah desir laut para khatibin itu. Masih adakah ?
Peziarah dari segala penjuru merayap kesini. Mencari maruahmu.  Dimanakah engkau sembunyikan? Semuanya benderang karena semuanya  telah diwariskan untuk mu. Jadi  milikmu. Ya milikmu. Wak Atan yang datang kemudian bersenandung. Merenung . Duniapun tak lagi murung.   Karena melihat bulan purnama yang bangkit dari peraduannya. Dari  sebelah timur. Penyengat pun tersenyum.     


Penyengat 2019

Biodata HUSNU ABADI Adalah salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, yang menyatakan HPI adalah 26 Juli. Pada 2015, menerima penghargaan Yayasan Sagang (ANUGERAH SAGANG)  kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang. Sebelumnya, 2014, menerima Z. Asikin Kusuma atmadja Award dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Indonesia (ketua Prof. Dr. Erman Raja gukguk S.H.), di  Pascasarjana UI Jln. Salemba, Jakarta.   Pada 2007, menerima penghargaan Seniman Budayawan Pilihan Lingkaran Seni Drama DuaTerbilang (LDT) Universitas Islam Riau.  

Lautan Zikir (UIR Press 2004), merupakan kumpulan puisi tunggalnya yang ketiga setelah Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002), Lautan Rinduku, Taj Mahal (2020), sedangkan Di Bawah Matahari, 1981 dan  Matahari Malam Matahari Siang, 1982, ditulisnya bersama Fakhrunnas MA Jabbar. Buku eseisastra:  Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004), serta Leksikon Sastra Riau(UIR Press-BKKI Riau, 2009) bersama M. Badri. Kini masih menjabat Ketua BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Provinsi Riau  Dilahirkan di Majenang,  1950, dan sejak 1985 menjadi pensyarah pada Fakultas Hukum UIR dengan jabatan akademis terakhir Associated Professor bidang Hukum Tata Negara. Alamat: Jln. Kelapa Gading 20, Kel. Tangkerang Labuai, Pekanbaru-Riau. (E-mail :mhdhusnu@law.uir.ac.id dan  HP 0812 753 7054).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan