

Tak tampak lagi…
Bahu yang lelah menopang ransel penuh buku
Kaki yang melangkah melewati pagar besi itu
Tangan yang melambai dengan lilitan dasi abu-abu
Dan sorakan, “Yes!” ketika awan berubah jadi kelabu
Tak tampak lagi…
Tumpukan kertas yang kutulis dengan tinta biru
Gerombolan semut yang buru-buru
Berdesakan mengangkut remah kue bolu
Dan orang-orang yang saling bertemu di depan pintu
Yang tampak hanya…
Layar putih, mesin kotak yang tak bisa kuganggu
Bangku merah yang membeku hingga Subuh
Kata sapa yang tak pernah terucap dari mulutmu
Namun, bisa kuterima meski sudah lebam membisu
Ini kenyataan, bukan dongeng pengantar tidurmu
***
Benar kata mereka
Semesta memang suka bercanda
Ketika kita sudah saling merelakan
Ia pertemukan lagi di persimpangan jalan
Semesta memang suka bercanda
Kini ragu untuk tetap melangkah maju
Atau mungkin, akan sedikit kupelankan langkahku
Pura-pura mengikat tali sepatu?
Semesta memang suka bercanda
Ia tau setiap rindu yang kusisipkan atas namamu
Hingga suara bisikan yang tak terdengar oleh telingamu,
ia tau
Namun, ia lupa, begitu tajamnya duri kenyataan
juga bisa melukai hatiku
Bayanganmu lalu, tak tertangkap oleh mataku
Semesta memang suka bercanda, aku yang tak siap akan itu
Di setiap jalan selalu ada persimpangan
Namun, untuk apa harus dipertemukan denganmu?
Ternyata semesta mau memperlihatkan
Bahwa kau baik-baik saja, tanpa aku.
