

Mata
dari mata ke mata
hanya matamu yang larut kubaca
meski ribuan gerimis bertandang
hanya matamu yang jelas kupandang
Cinta
tidak terasa takdir membawaku
pada tubir paling rahasia
yang dikelilingi bunga-bunga
selebihnya mungkin karena aku jatuh cinta.
Pakondang, 2021
Hujan malam ini adalah bahasa rindu paling sederhana
memasuki setiap jendela yang renta akan masa lalu
tersebab kemarau yang terlalu panjang
membawa debu-debu
pada bersarang
bunga-bunga di matamu
tumbuh kembali seketika
menjadi alamat cinta
dari waktu yang fana
sementara angin begitu saja melintas
ketika hujan mulai deras
sederas rinduku padamu
yang tak kunjung reda
dan malam semakin ketam
tanpa bulan kelindan
kecuali rindu yang sempurna bersemayam.
Pakondang, 2021
Larut malam aku membayangkan
kita duduk di sebuah taman
di bawah bulan purnama
hanya sekedar memecahkan sunyi
Malam itu, kepalamu rebah ke pundakku
untuk merapikan kecemasan
yang terbuat dari rindu
tapi kenyataan sudah berlalu
karena malam ini aku hanya sendiri
tidur tertunda oleh suatu bayangan
dan kenangan yang berhamburan.
Pakondang, 2021
Malam tanpa aroma puisi
sangatlah tak berarti bagi imajinasi
sebab, menyeduh hangat diksi
harus berani menjaga kantuk sampai pagi
katakanlah abadi.
Pakondang, 2021
Agus Widiey, Lahir 17 Mei 2002 di Batuputih Sumenep. Santri aktif pondok pesantren Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru. Puisi-puisinya termaktub dalam antologi bersama dan dimuat dipelbagai media online dan cetak. Sekarang menjadi Redaktur Radar Aliyah (Komunitas Pelajar Peduli Literasi) MA Nurul Muchlishin.