Pagi.
Delapan lewat tiga puluh tujuh dan jam dinding kehilangan suara,
ditelan riuh rem dan derap sepatu yang tergesa.
Lalu senyap yang lain lahir—bukan sepi yang mati,
melainkan ramai yang khidmat dari tangan-tangan merajut hari.
Lihatlah mereka, para pemegang mandat di atas kertas, datang membawa mantra,
menyulap rumah yang lelah—yang bocornya adalah lubang-lubang doa—menjadi tempat di mana Tuhan tak lagi kedinginan.
Klontang!
Dapur melahirkan melodi dari benturan logam dan wastafel,
zikir jemari ibu-ibu yang mengaduk rasa dan peluh.
Tak ada kata jatuh di sini—hanya aroma kopi yang menguap, jembatan antara rasa lapar dan kerja keras yang tulus.
Di sudut itu, perang dimulai tanpa dendam;
perang melawan yang tak pantas, demi yang layak bagi manusia.
Dok… Dok… Dok…
Palu memaksa paku ke jantung kayu, tegak dan lurus,seperti niat yang tak boleh bengkok oleh ragu.
Dahulu, tempat ini adalah rumah bagi lenguh lembu dan bau jerami,
sebuah ruang di mana jarak manusia dan ternak hanyalah sehelai tabir sunyi.
Aku mendorong tubuh, menyaksikan jemari yang sedang mengeja arti tetangga, ketika debu yang bertaburan di udara berubah jadi butiran cahaya.
Mulutku terkunci, tapi mataku menyalang membaca rahasia-Nya—pada gergaji yang bersitungkin, pada dinding semi-permanen,
bahkan pada satu mug besar kopi yang ikut bersaksi.
Malam nanti, biarlah malaikat-malaikat kecil hinggap di sini,
melanjutkan doa-doa yang sempat tertunda.
Sebab di bumi yang seringkali retak dan culas ini,
cinta masih punya cara untuk pulang ke rumah.
08.55
Batu, Januari 2026
Aethera Aditi adalah penulis asal Kota Batu yang meyakini bahwa buku dan literasi adalah cara terbaik merawat dunia. Selain menjelajahi kedalaman fiksi melalui puisi, cerpen, dan novel, ia juga aktif meramu esai naratif serta tulisan nonfiksi. Untuk ruang diskusi dan kolaborasi lebih lanjut, Aditi dapat disapa melalui; IG: @aethera_aditi atau TikTok: AETHERA ADITI