

Penyair pada umumnya terus-menerus berdialog dengan lingkungan budayanya. Dalam pengembaraan itu ia haruslah memiliki konsep dunia imajinasi dan bahasa pilihan. Bahasa pilihan itu membuat pembaca tergetar menikmati karya yang dipersembahkannya.
Pendapat ini disampaikan Prof. Umar Khayam pada Kongres Bahasa Indonesia (1993). Bahasa pilihan adalah bahasa khas pengarang/penyair. la ibarat cat dalam seni lukis yang menentukan keindahan atau keburukan lukisan. Namun, bahasa seperti halnya cat bukan terutama menentukan segalanya. Diperlukan suatu konsep dunia rekaan suatu dunia yang sangat gelisah, yang memiliki posisi yang goyah dan cair terutama bila dikaitkan dengan dunia kepenyairan di Indonesia.
Bahasa pilihan dari setiap penyair adalah bahasa khusus yang ditemukandiciptakan, dikembangkan untuk menceritakan dan menjelaskan dunia rekaan yang sesungguhnya abstrak dan berada diluar jangkauan pembaca.
Dengan bahasa tersebut sang pengarang terutama penyair harus dapat mencapai dua “misi“, yaitu menjelaskan dengan meyakinkan tentang dunia rekaannya yang abstrak dan berada di luar jangkauan pembaca serta juga mau memberi pengalaman keharuan tentang kehidupan yang baru dan indah.
Membaca puisi modern ialah “kesediaan kita untuk menerima chaos sebelum logos”, tapi juga keterbukaan kita kepada hening yang bukan kosong, kepada suwung yang sebenarnya berisi (Ayu Utami, 2022).
Penjabaran pernyatan di atas ialah memerlukan kesediaan untuk memasuki dunia yang tidak teratur, tidak jelas dan penuh dengan ambiguitas/chaos sebelum kita dapat memahami makna yang lebih dalam dan terstruktur. Falam konteks ini chaos merujuk pada ketidakjelasan ketidakpastian dan kompleksitas bahasa puisi. Sedangkan logos merujuk kepada makna struktur dan logika yang lebih jelas dan terorganisasi.
Membaca Puisi
Sebuah pertanyaan, sanggupkah kita menangkap puisi yang disonan, yang membawa chaos di satu pihak, tapi mengandung suwung di pihak lain? Dengan kata lain, mengapa kita harus “hijrah dari bahasa publik” hanya untuk menangkap keistimewaan puisi. Ketika dunia memerlukan lebih banyak komunikasi untuk menekan kebohongan dan kekerasan?
Ayu Utami menjawabnya dengan kata memang dapat iya, jika tradisi puisi modern, misalnya tradisi Chairil Anwar, sudah larut membenam dalam urat darah kita. Namun, jika puisi modern termasuk puisi inderawi maka pilihan, tanggapan, dan hasil proses belajar dengan segala macam pengalaman estetik kita, maka itulah pilihan yang dipakai ketika kita berhadapan dengan karya puisi.
Oleh karena bahasa puisi kadangkala sarat dengan simbol. Sebagaimana Erich Fromm menjabarkannya, bahasa simbol adalah Bahasa yang mengekspresikan pengalaman, perasaan, dan pemikiran batin sebagai pengalaman sensorik, mengekspresi kejadian di luar dunia yang kita tinggali yang melampaui realitas (2013).
Era Simulasi
Era simulasi dalam dunia sastra sangat menarik disampaikan seorang pemerhati asing Berthold Damshauser, (Orbit Indonesia.com, 2025) ketika dia menanggapi Denny JA tentang peran AI (kecerdasan buatan) dalam dunia penulisan sastra.
Menurutnya di antara penulis sastrawanlah yang nasibnya paling patut kita renungkan di tengah era AI yang disebut sebagai Era Simulasi. Karena yang disimulasikan itu adalah ranah yang paling “manusiawi”, yaitu Bahasa dan dengan itu, pemikiran serta pencetusan ide dan ranah yang selama ini membedakan manusia dari semua makhluk lain di bumi.
Penggunaan AI kini mampu berbicara dan menulis, juga menyusun teks bermutu—teks yang tidak mampu dihasilkan oleh 90 persen, mungkin bahkan 99 persen manusia.
Menurut Berthold, perkembangan ini belum selesai. Dapat dibayangkan bahwa kemampuan AI akan lebih mencengangkan lagi jika dikombinasikan dengan generasi baru perangkat keras, khususnya komputer kuantum.
Pemanfaatan alat AI juga sudah mampu menciptakan puisi sebagai salah satu bentuk seni paling kompleks—yakni seni bahasa yang menggabungkan nalar (kata, makna, pesan) dengan unsur musikal (irama, bunyi).
Kombinasi seperti ini hanya ditemukan dalam susastra khususnya puisi, bukan dalam seni lainnya seperti musik atau seni rupa. sehingga dapat dikatakan bahwa kepandaian AI dalam berpuisi lebih mengesankan dibandingkan prestasinya di bidang seni yang lain.
Denny JA dalam esainya “AI Tak Membunuh Penulis, Hanya mengubahnya” tetap menyampaikan optimisme dan menyatakan, mesin tak hanya menyalin gaya—ia menebak emosi, meniru struktur narasi, menyusun dialog yang menyentuh. Namun ada satu hal yang tak bisa ditiru AI: kehilangan yang nyata. AI bisa merangkai bait. Tapi ia tak pernah kehilangan ibu. Tak pernah menggigil dalam sepi. Tak bisa menangis saat mengetik.
Menurut pemerhati asing itu, paparan Denny kurang meyakinkan. Memang, AI tidak pernah menggigil dalam sepi, tidak pernah kehilangan siapa pun. Ia pun tidak berpikir, tidak merasa, tidak memiliki aku. Ia hanya menghitung dan mengombinasikan data yang dimasukkan kepadanya. Ia hanya menyimulasikan segala kekhasan manusia.
Namun, kenyataan inilah yang tidak bisa diragukan: hasil kerjanya tak bisa dibedakan lagi dari karya manusia. Peran penulis ataupun sastrawan sebagai editor tulisan AI bisa diduga menghadapi kesulitan berat di masa depan.
Saya ingin menumpangkan pemikiran bahwa pada hakikatnya dunia penciptaan adalah milik penyair. Ada sesuatu yang menarik dalam diri seorang penyair. yakni dalam dirinya ada ‘bentrokan yang tak kunjung takluk‘. Bentrokan inilah yang selalu menyalakan semangat kreativitasnya untuk mencipta terus. Pribadi adalah sesuatu yang unik. Sesuatu yang unik kadang kala mengundang proses kreativitas. Maka alangkah fatalnya bila orang ingin menafsirkan sebuah karya tulis menelan begitu saja pendapat orang lain yang terkadang tidak relevan dengan persoalan yang dikemukakan.
Anda kata sebuah karya sastra dalam hal ini puisi, didekati dengan minat atau penyempitan persepsi sebagai hakim dan sopir taksi maka dapat terjadi salah paham. “Untuk memahami sastra dan puisi diperlukan literary competence sebuah paspor untuk dapat memasuki republik sastra, sebuah ijazah guna menghargai samudera sastra dengan aman,” demikian A Teeuw (Basis, 1978: 257).
Kritikus Amerika Jack Gilbert menjelaskan: “Seni modern, amat berbeda pada sifatnya dengan sajak dan seni biasa. Sajak-sajak modern amat serius dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian jelas dibuktikan bahwa seni modern cenderung menampilkan image yang subjektif dan tidak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ia bisa dijangkau dalam ruang lain yang disebut wilayah pengarang kreatif.”
Di sinilah sebenarnya peranan kritikus untuk membukakan pintu ‘gate‘ yang tersimpan dalam sebuah karya sastra Sebagaimana Sutardji mengatakan: “Konsekuensinya seni modem bukan hanya asing dari hal-hal keseharian manusia tetapi dalam bentuknya yang lebih ekstrem dia bahkan menolak sangkut pautnya dengan apa saja yang pernah dijumpai makhluk manusia dalam kehidupan sehari-hari.” (Horison, April, 1976).
Ada sesuatu yang menarik dalam diri seorang penyair. Yakni dalam dirinya ada ‘bentrokan yang tak kunjung takluk‘. Bentrokan inilah yang selalu menyalakan semangat kreativitasnya untuk mencipta terus. Sesuatu yang tak terlacak oleh AI.
Pribadi adalah sesuatu yang unik. Sesuatu yang unik kadang kala mengundang proses kreativitas. Maka alangkah fatalnya bila orang ingin menafsirkan sebuah karya tulis menelan begitu saja pendapat media AI yang terkadang tidak selamanya dapat dideteksi oleh AI dan terkadang tidak relevan dengan persoalan yang dikemukakan.
Maka benarlah kata Goethe, “Untuk mengenal penyair, orang harus pergi ke dunia penyair.” Dapat dipertanyakan bagaimanakah jalan untuk sampai ke dunia penyair? Apakah jalan yang ditempuh dapat dicapai secara mudah. dan secara otomatis masyarakat dapat mengerti dan memahami karya penyair?
Hal tersebut merupakan problem yang selalu hadir di hadapan publik sastra dan sastrawan sendiri. Oleh karena karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya, apabila dipisahkan dari lingkungan kebudayaan yang telah menghasilkannya Ia harus dipelajari dalam konteks yang seluas-luasnya dan tidak hanya dirinya sendiri.
Karya sastra adalah hasil pengaruh timbal- balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural, sebab ia bukanlah suatu gejala yang tersendiri. Kemungkinan yang dapat dicapai ialah masyarakat harus mendekati karya sastra sebagai ‘tradisi,’ yakni kecenderungan spiritual maupun kultural dalam bentuk menampung berbagai pengertian seni.
Untuk menciptakan pengenalan masyarakat terhadap karya sastra, sastrawan harus mengenal masyarakatnya sendiri, apa yang menjadi pokok pemikiran dan ide mereka dan bagaimana kehidupannya sehari-hari. Lebih jauh lagi mengenal tradisi yang hidup dan latar belakang kebudayaannya.
Jadi sampai sejauh mana seorang sastrawan berdaulat dan bebas berbicara melalui keberadaan sastra sebagai hasil proses imajinatif, suatu konsepsi seni yang otonom hasil upaya yang total dari masyarakatnya Sejauh mana pribadi penyair matang dalam mempertahankan eksistensinya di tengah kegelisahan zaman yang tak menentu.
Bila seorang penyair tak mampu lagi merakit dan mengolah dengan kata-katanya adakah lagi kekuatan yang tinggal dalam dirinya? Bila ia berdiam saja dalam kesunyian maka hendaklah ia tahu apakah kesunyiannya itu berguna untuknya Diam tak berbuat apa-apa dalam diri seorang penyair merupakan dunia yang resah sehingga ia terlempar kembali dalam bentrokan sekaligus keterharuan yang tak mampu ditaklukkannya.
Puisi populer dan seni populer menjelaskan apa yang telah diketahui oleh orang banyak termasuk media simulasi (AI Chat GPT dan semacamnya). Namun, penulis serius dan karya puisi serius menyuguhkan apa yang belum ada dalam pemikiran pembaca atau yang belum terpikirkan oleh pembaca termasuk AI sang kritikus buatan.***
*Penulis dosen dan sastrawan