Penguatan Media Kebudayaan (Sebuah Renungan Masa Depan): Catatan Shafwan Hadi Umry

25

Setiap kali ada orang Indonesia menulis tentang kebudayaan bangsanya, kita harus bersyukur oleh karena kalaupun ia tidak berhasil menyadarkan jiwa orang lain, setidaknya ia telah berhasil menyelamatkan jiwanya sendiri.

Pernah misalnya wartawan Muhammad Sobari menulis: “Kita hidup dalam masyarakat yang gelisah. Di sekitar kita banyak kemapanan lama berubah cepat, sering tanpa dikehendaki. Apakah moral kita digugat disana sini untuk menjawab persoalan persoalan baru”. (1993:74) Segi-segi yang bersifat tabu dan sakral dituntut, dan modernisasi, demi reformasikan untuk dirasionalkan dan akhirnya kita diminta menjadi lebih sekuler. “tapi disitulah persoalannya”, kata mantan Kepala Berita Antara ini.

Menurut dia, kita belum siap dan kemudian munculah situasi anomali dalam masyarakat kita yang membuat kita goyah, karena dasar pijakan moral lama telah bergeser meninggalkan “kekolotan” kita, sementara dasar pijakan moralitas baru belum lagi ditemukan.

Dalam situasi abad yang dilanda budaya teknologi milineal ini maka posisi orang tua menjadi “fatherless country“. Maksud dari istilah ini dunia ayah terbatas pada wilayah kotak. Kota medsos, tiktok, youtube, televisi dan komputer. Anak-anak terdidik dengan dunia milineum ini, sehingga peran ayah kehilangan petuah dan nasihatnya. Abad mesin pintar ini apa yang disebut artificial intelligent (AI) tiba-tiba meledak dalam jumlah besar ,dalam waktu cepat .Regim mesin ini mampu mengimbangi kecerdasan manusia.

Dalam situasi ini bisa kita bayangkan bahwa kecerdasan mesin sudah bisa menaklukkan kecerdasan manusia .Mitos kecerdasan buatan ini semakin merajalela. Revolusi industri 4.0.0 adalah zamannya mereka. Apalagi revolusi 5.0.0 sepenuhnya manusia akan bergantung kepada mesin itu. Banyak profesi hilang gara-gara dia. Bahkan banyak menyuarakan ijazah tak penting lagi.

Lalu bagaimana dengan agama? Misalnya hukum fiqih. Alkisah tausyiah mesin akan mudah menjawab apa saja hal yang terkait dengan fiqih. Contoh Al chat GPT, bertanya soal apa saja yang membatalkan puasa. Dalam hitungan detik ia menjawab dengn mudah, lengkap dengan dalil maupun sumber referensinya.

Dalam hal ini yang dibahas bukan soal agama saja, soal apapun bisa dijawab mesin cerdas ini. Ada mesin cerdas yang bisa membantu tugas belajar pekerjaan rumah, makalah, skripsi, tesis, dan sebaganya. Bila sang dosen tidak meng-uprate pengetahuannya tentang mesin cerdas bakal disenyumi anak didiknya.

Namun, ada satu hal kelemahan mesn cerdas ini, Ia tidak memiliki emosi dan keramahtamahan yang terpancar sebagaimana sang guru, ustad dan tuan syekh yang melakukan pertemuan tatap muka dengan jamaahnya di maktab, surau dan masjid. Berdialog dengan mimik wajah sang ustad dan mubalig dalam komunikasi tatap muka bersama jamaah dalam istem halaqah atau tausyiah .

Saya kira, para pembuat mesin cerdas akan terus berjuang agar di satu saat mereka juga memiliki emosi, perasaan dan keramahtamahan dan guyon sebagaimana yang selalu dilakukan para pendakwah .

Hukum sejarah adalah hukum besi. Semboyan “survival of the fittest”, menyatakan bahwa yang bisa survive, yang bisa bertahan bukan yang paling kuat, atau yang paling cerdas, tapi yang paling sesuai dengan trend zamannya. Hal ini berarti bahwa dalam hal apapun kelompok yang bertahan adalah mereka yang mendayagunakan teknologi mutakhir. Para penulis dengan kedalaman bahasa, kedalaman renungan, yang mampu bertahan. Apalagi jika ia mulai mendayagunakan alat bantu artificial intelligence. dan mampu pula mendayagunakan teknologi baru: mesin cetak, mesin ketik, dan internet.

Rumah Idaman

Di kota besar konsep rumah bergeser Ketika pemerintah memperkenalkan kita dengan Perumnas. Pengertian ‘rumah’ bergeser menjadi ‘tempat tinggal’. Perubahan konsep ini kian artikulatif pada bentuk perumahan closter untuk rumah kos maupun rumah kontrak, rumah susun dan kemudian apartemen.

Rumah yang sebelumnya didefenisikan sebagai relasi bertetangga, kampung dan sumber kehidupan (sungai, laut, hutan dan ladang) yang membentuk “tradisi berkampung” kini bertukar sebagai “tradisi berpisah”. Tempat tinggal hanya berposisi dan berelasi memakai Kartu Keluarga, KTP , Pajak Bumi Bangunan dan masalah sampah serta keamanan. Pengertian tetangga baru muncul apabila kenyamanan terganggu: listrik mati, air mati, pencurian,termasuk banjir akaibat erosi hutan yang melantakkan beberapa provinsi dan kabupaten di Sumatra. Tradisi bertandang kian bergeser ke warung, kafe maupun mal terutama di kota besar. Rumah sebagai pusat produksi dan dapur diambil alih oleh industri dan kuliner.

Dalam berbagai hal, kita memang sudah terbiasa ditentukan oleh pihak lain. Kita lalu jadi terbiasa untuk tak berfikir sendiri. Berangkali, hal itu karena lingkungan budaya kita kaya dengan petunjuk, nasihat, pengarahan, dan penataran sebelum kita melaksanakan tugas tertentu. Lingkungan tampaknya cukup memanjakan kita. Kebijaksanaan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan tuntutan dari atas (tuntas) yang menunjukan ketidakdewasaan .

Hal ini dibuktikan . bawahan yang bekerja dikantor-kantor umumnya bertindak hanya apabila sudah memperoleh juklak. Sejak kecil kita terbiasa “ditentukan” kekuatan di luar diri kita sendiri, di sekolah, ujian dibiasakan dengan pilihan ganda yang kurang merangsang daya nalar. Syukurlah ada perubahan pandangan untuk menerapkan pendidikan kompetensi kepada para siswa.

Pada galibnya masyarakat tidak mau melihat usaha, tetapi hasil. Sekian banyak metode pemikiran dan penjabaran dan kurikulum untuk menaikkan mutu siswa selalu dilakukan guru di sekolah. Namun, masyarakat hanya mau melihat hasil dan dampaknya berakhir dengan dengan persoalan yang melibatkan kepentingan banyak pihak,

Media Kebudayaan

Pelipatgandaan media kebudayaan pada tahun mendatang (2026) memerlukan usaha untuk menghadapi beberapa kelemahan bangsa kita. Usaha yang dilakukan adalah (1) Penghayatan nilai-nilai moral dan etika, (2). Kesadaran berpolitik dan kesadaran berbangsa (3) Kesadaran sejarah. (4), Kesadaran budaya. (5) Pemahan akan sikap ilmiah (6) Sikap kritis terhadap informasi kesejarahan.

Kita memiliki sejumlah khasanah budaya bangsa yang tersimpan dalam tradisi lisan, folklor (asal usul kerajaan, kekuasaan, kekuatan mayarakat lokal, supremasi negeri leluhur) kemudian mitos legenda serta catatan sejarah.
Beberapa langkah yang perlu dipikirkan dalam budaya etnik sekarang ini adalah merumuskan strategi dalam kebudayaan. Dalam strategi kebudayaan yakni kebudayaan tidak dipandang dari sifat sektoral, melainkan kebudayaan harus dipandang dan dipahami secara menyeluruh (holistik).

Dalam praktiknya ini berarti bahwa suatu strategi kebudayaan tidaklah memikirkan rencana mendirikan suatu universitas baru atau pusat kesenian baru, melainkan melihat dan mengelola dinamika yang ada diantara Universitas, pada pusat kesenian, kebijaksanaan penerbitan, penggalakan diskusi buku. Pengadaaan tenaga pengajar dan pemikiran lapangan kerja.

Tampaknya dalam sektor kebudayaan tidak ada satu pun yang diasingkan. Dari segi lain bahwa berbagai gerakan untuk melakukan perubahan sosial sebagaimana yang dilakukan NGO dan LSM. misalnya tidak akan banyak gunanya, jika tidak kelihatan bahwa kelompok pembaharu tersebut memperlihatkan suatu kebudayaan baru dalam tingkah laku.

Usaha mengajak dan mendorong kelompok suatu masyarakat untuk menjadi mandiri dan madani tidak akan berhasil, jika dalam diri lembaga yang menggerakannya kelihatan bahwa ketergantungan kepada birokrasi dan calon kepemimpinan yang terpusat kepada seseorang patron tetap dipertahankan.

Strategi Budaya

Strategi kebudayaan yang bagaimanapun perlu menyadari sejak awal bahwa perubahan budaya dan perubahan sosial yang sedang terjadi saat ini adalah perubahan yang sangat besar. Pada basis sosial kebudayaan. Perubahan besar-besaran terjadi karena pertumbuhan penduduk yang cukup besar dan dengan sendirinya akan mempengaruhi sikap terhadap sumber alam yang terbatas termasuk bentuk-bentuk kebersamaan dan bentuk kepemimpinan.

Strategi kebudayaan dalam budaya etnik khususnya yang bakal dirumuskan dalam menghadapi kantong-kantong kebudayaan dalam era otonomi daerah perlu diperkuat kembali dan seharusnya dianggap sebagai peluang dan penguatan kebudayaan dalam memberdayakan bangsaini di masa depan.***

Penulis Dosen dan Sastrawan

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan