Makam Hang | Puisi : Husnu Abadi

114

Makam Hang

Ada penziarah
Penuh suara
Membaca hikayat
Kitab lama

Dari dalam liang
Terdengar suara
Lewat pintu utara
Lembut bagaikan sutra
“Selamat datang
Tuan-tuan dan puan-puan
Para pendatang makam
Dari tanah seberang
Adakah kedamaian
Dari dunia sana”

Mula mula semua diam
Ada yang mendengar
Ada yang pura-pura mendengar
Ada yang sama sekali tidak mendengar
Angin berhembus dari lautan
Menyapa mata demi mata

“Selamat datang
Tuan-tuan dan puan-puan
Dari tanah seberang
Adakah zaman keadilan
Telah datang
Dari kampung sana?
Tak ada yang menjawab
Semua sibuk berusaha
Mengambil huruf demi huruf
Menyusun menjadi kata
Mengambil kata demi kata
Menyusunnya menjadi kalimat
Bunga-bunga di makam
Berayun-ayun ke kiri dan ke kanan
Memandang pelan-pelan
“Selamat datang
Tuan-tuan dan puan-puan
Adakah yang hendak kalian sampaikan
Kepada kami
Di pemakaman
Yang tinggal tulang-tulang”

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Seorang penyair bersingsut ke depan
Membawa selembar surat
Atas nama jemaat
Ia pun bersuara

“Kami amat malu, Hang
Berkabar tentang negeri kami
Yang jauh dari impian
Kami datang hanya membawa doa
Untuk mu, Hang
Tak lebih
Tak kurang”

Penyair itu terus beringsut
Memeluk nisan
Memeluk tanah makam
Yang panjang
Hingga sembilan depa
Mencium aroma nirwana
Yang menyebar ke mana-mana
Terbang melayang
Dibawa-awan
Melintasi samudera Melaka
Kembali
Sendiri
Bersama
Sepi

Makam Hang Tuah, Melaka 2002

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: 
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan