Daun kamboja tiga helai
jatuh di tanah basah
nyanyian burung-burung
pagi serupa doa
yang merdu kita dengar.
Taman kota; yang ditumbuhi
orang-orang yang bermukim hanya sesaat.
Sesaat melepas lelah,
sesaat mencari ketenangan
di tempat paling teduh
serupa rahim Ibu.
Depan taman kota
ada kursi kosong di seberang jalan.
Aku dan engkau duduk-duduk bersama
Aku adalah angin sepoi yang
senantiasa menemani. Engkau
adalah bunga kambajo
yang daunnya tadi pagi jatuh tiga helai.
Kita sepakati;
Kita harus senantiasa
bertemu disini, di tempat ini
yang sedang ditumbuhi orang-orang
bermukim (hanya sesaat).
“Sesaat kita akan mendengarkan
cerita-cerita sedih mereka” Kata Angin.
(2022)
Bulan setengah lingkaran
menggantung di antara
awan-awan hitam.
Burung gagak terbang
dan bertengger di ranting
Sedang ibu langit menangis
sedari habis maghrib.
Ku kira kerlip bintang
jatuh di antara pipi Ibu.
“Ibu sedang apa”
“Ibu merindukanku”
“Saban malam, Ibu menunggu kepulanganku, mesti.” Jerit hati kecilku.
Burung gagak terbang melintas
Malam semakin larut,
“Aku akan pulang melepas kerinduanmu, Ibu.” Celotehku.
(2022)
Sore hari ketika nenek masih hidup
Sebuah radio kecil selalu bernyanyi
di atas almari dekat kamarnya.
Radio tersebut bersedia menjadi karib
Seperti sore sepoi yang ditemani senja.
Aku mengingatnya betul
Lagu-lagu yang terputar
serupa usapan Ibu
yang teduh
yang selalu sabar menasehati.
Iramanya serupa suara gemericik air
di tengah hutan
dekat pohon-pohon besar
yang membuat tenang dikala mendengarnya.
(2022)
Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Penulis Buku Puisi “Dalam Satu Ruang Kehidupan”. Alumnus IAIN Kudus Jurusan Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam.