Taman Kota Dan Kursi Di Seberang Jalan | Puisi : Ilham Wiji Pradana

155

TAMAN KOTA DAN KURSI DI SEBERANG JALAN

Daun kamboja tiga helai

jatuh di tanah basah

nyanyian burung-burung

pagi serupa doa

yang merdu kita dengar.

Taman kota; yang ditumbuhi

orang-orang yang bermukim hanya sesaat.

Sesaat melepas lelah,

sesaat mencari ketenangan

di tempat paling teduh

serupa rahim Ibu.

Depan taman kota

ada kursi kosong di seberang jalan.

Aku dan engkau duduk-duduk bersama

Aku adalah angin sepoi yang

senantiasa menemani. Engkau

adalah bunga kambajo

yang daunnya tadi pagi jatuh tiga helai.

Kita sepakati;

Kita harus senantiasa

bertemu disini, di tempat ini

yang sedang ditumbuhi orang-orang

bermukim (hanya sesaat).

“Sesaat kita akan mendengarkan

cerita-cerita sedih mereka” Kata Angin.

(2022)  


JENDELA MALAM

Bulan setengah lingkaran

menggantung di antara

awan-awan hitam.

Burung gagak terbang

dan bertengger di ranting

  • ranting basah.

Sedang ibu langit menangis

sedari habis maghrib.

Ku kira kerlip bintang

jatuh di antara pipi Ibu.

“Ibu sedang apa”

“Ibu merindukanku”

“Saban malam, Ibu menunggu kepulanganku, mesti.” Jerit hati kecilku.

Burung gagak terbang melintas

Malam semakin larut,

“Aku akan pulang melepas kerinduanmu, Ibu.” Celotehku.

(2022)   


SEBUAH RADIO DAN KETIKA NENEK MASIH HIDUP

Sore hari ketika nenek masih hidup

Sebuah radio kecil selalu bernyanyi

di atas almari dekat kamarnya.

Radio tersebut bersedia menjadi karib

Seperti sore sepoi yang ditemani senja.

Aku mengingatnya betul

  • betul;

Lagu-lagu yang terputar

serupa usapan Ibu

yang teduh

yang selalu sabar menasehati.

Iramanya serupa suara gemericik air

di tengah hutan

dekat pohon-pohon besar

yang membuat tenang dikala mendengarnya.

(2022)

Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Penulis Buku Puisi “Dalam Satu Ruang Kehidupan”. Alumnus IAIN Kudus Jurusan Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan