Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS

Jakarta,- pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Pergerakan rupiah hari ini juga cukup tipis terhadap dolar AS, karena  pelaku pasar menanti detail mengenai tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Melansir dari data Refinitiv, rupiah awal membuka perdagangan dengan menguat tipis 0,04% ke Rp 14.230/US$, setelahnya rupiah berbalik melemah dengan persentase yang sama ke Rp 14.240/US$. Rupiah cukup lama bolak balik antara penguatan dan pelemahan, sebelum menyentuh Rp 14.250/US$ yang menjadi level terlemah pada hari ini.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.240/US$, melemah 0,04% di pasar spot.

Pergerakan tersebut memberikan gambaran pelaku pasar mulai mengatur ulang posisinya di pasar, sebab pengumuman kebijakan moneter The Fed besok bisa memberikan dampak signifikan. Menariknya hingga saat ini pelaku pasar masih belum terlihat condong kemana, ke penguatan dolar AS atau pelemahan.

Sementara itu Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, saat mengumumkan kebijakan moneter kemarin, meyakini tapering tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap pasar keuangan. Dampaknya tentu ada, tetapi tidak sebesar taper tantrum 2013-2015.

“Insya Allah dengan berbagai asesmen, kondisi ekonomi, dan pengalaman yang kami lakukan, dampak tapering The Fed bisa diantisipasi secara baik dan lebih rendah dibandingkan taper tantrum pada 2013,” tegas Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode September 2021, Selasa (21/9).

Menurut Perry, ada tiga alasan. Satu, The Federal Reserve/The Fed melakukan komunikasi yang baik kepada investor, media massa, dan masyarakat.
Dengan komunikasi yang baik, lanjut Perry, pasar pun tidak ‘meledak-ledak’.

Dua, BI menjalin kerja sama dengan pemerintah untuk melakukan stabilisasi di pasar. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI tetap menjalankan intervensi di tiga pasar (triple intervention) yaitu di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Tiga, tambah Perry, ketahanan ekonomi domestik sudah jauh lebih baik. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) relatif sehat di 0,6-1,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan 2018 yang di atas 3% PDB. Kemudian cadangan devisa mencapai lebih dari US$ 144 miliar.

“Insya Allah dengan memantau secara tepat, kita lebih tahan dan mampu mengantisipasi kebijakan moneter dari The Fed,” ujar Perry.(CNBC)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan