Suka-duka Melayani Penumpang dalam Penerbangan Internasional : Oleh Tutin Apriyani
Suka-duka Melayani Penumpang dalam Penerbangan Internasional
51
Bagikan
Suka-duka Melayani Penumpang dalam Penerbangan Internasional
Oleh Tutin Apriyani
BIAS cahaya matahari tiba-tiba menyeruak malam itu. Padahal jarum jam sudah mengarah ke angka sepuluh. Langit kota London terasa kelam. Menyaksikan matahari masih terbit di waktu malam benar-benar membuatku takjub. Boleh jadi aku termasuk orang beruntung karena mengunjungi negeri Ratu Elizabeth II itu persis saat pergantian musim yang memungkinkan putaran matahari masih bisa disaksikan malam hari. Padahal, kunjunganku di London bukan hanya sekali.
Itulah salah satu puncak kenangan yang selalu bersemayam di hatiku bila mengenang masa-masa menjadi pramugari Garuda Indonesia selama lebih kurang sebelas tahun. Rasanya begitu terhibur usai menjalankan tugas melayani ratusan penumpang dalam penerbangan jarak jauh yang melayani rute mancanegara, punya kesempatan menikmat keindahan kota-kota dunia.
Selama penerbangan, aku bisa belajar antropologi dan bermacam kebudayaan secara autodidak saat bertemu dengan banyak ragam karakter dan wajah penumpang dari berbilang bangsa di dunia. Tapi, aku juga tak bisa menyembunyikan rasa lelah saat melayani para penumpang itu. Rasa lelah tersebut terasa selama penerbangan yang memakan waktu sampai belasan jam saat melintasi wilayah udara benua dan samudera. Lebih dari itu, kadangkala mengundang rasa bosan juga.
Namun, tugas sebagai pramugari mengharuskan aku selalu terlihat bergairah dalam memberikan pelayanan. Seorang pramugari harus bisa tersenyum dan terlihat segar meski banyak persoalan yang dihadapi. Selebihnya diperlukan sikap sabar, lapang dada, tak boleh cepat panik dan menumbuhkan rasa empati dalam diri agar para penumpang puas selama penerbangan yang dirasakan banyak orang cukup membosankan ini.
Ket. Berpose dengan Pak Harto-Ibu Tien, Titiek Soeharto dan Mbak Tutut
Dunia pramugari kuawali saat coba-coba mengajukan lamaran saat Garuda Indonesia memuat pengumuman di suratkabar. Aku mencoba mematut-matut diri. Mulai soal postur tubuh dan wajah hingga kemampuan bahasa Inggris yang masih terbatas waktu itu. Tapi rasa percaya diri dan keyakinan telah melapangkan jalan buatku. Kujalani testing dengan segala kemampuan dan kesungguhan. Ternyata aku bisa melewatinya dengan baik hingga aku diterima sebagai pramugari, sebuah profesi yang banyak menimbulkan decak kagum banyak orang terutama para orangtua. Aku pun masih harus mengasah talenta dan kemampuan lewat training internal yang dilaksanakan pihak maskapai penerbangan milik pemerintah itu.
Pada mulanya, aku sebagai pramugari yunior hanya menjalani rute penerbangan domestik. Itu pun sudah cukup membanggakan karena selain aku menimba pengalaman-pengalaman awal melayani para penumpang juga dapat mengenal banyak kota di tanah air. Tentu saja, pengalaman mengunjungi berbagai tempat yang khas dan unik di suatu kota benar-benar menambah motivasiku dalam melaksanakan tugas sebagai pramugari. Aku begitu yakin bila suatu tugas dilakukan dengan ketulusan dan kesadaran niscaya akan memberikan tingkat kepuasan yang luar biasa.
Selama satu tahun aku menjalani rute domestik Garuda sampailah saat yang menggembirakan ketika aku dipercaya menjadi pramugari untuk rute internasional. Aku yakin, hampir semua pramugari punya impian untuk mengemban tugas yang menjelajahi banyak kota dunia.
Sebelum menjalani tugas baru di rute internasional itu, terbayanglah obsesi-obsesi masa kecilku. Bagaimana bisa menikmati keindahan kota-kota dunia yang sudah kukenal lewat cerita dari mulut ke mulut atau informasi yang kuperoleh lewat TV, suratkabar dan majalah atau adegan film. Aku bersyukur kepada Tuhan karena begitu cepat meraih kesempatan yang pernah kuimpikan.
Penerbangan perdanaku di rute internasional ini Jakarta-Tokyo. Perasaanku begitu bersemangat meski cukup lelah melayani para penumpang. Dalam pikiranku kian terbayang bagaimana kota besar dunia dengan segala kemajuan teknologi dan tradisi masyarakatnya yang juga cukup kuat. Aku menyaksikan langsung bagaimana tradisi sake, kimono atau kesetiaan masyarakatnya pada semua yang berbau Jepang. Aku begitu terpukau akan kecintaan orang Jepang pada bahasa dan huruf Kanji yang terpampang di mana-mana. Ternyata menguasai bahasa Inggris saja belum cukup karena informasi yang tersaji lebih dominan dalam bahasa Jepang dengan huruf Kanji yang rumit.
Selanjutnya, kota-kota dunia begitu mudahnya kujamah sesuai rute penerbangan yang kutempuh bersama crew yang lain. Aku bisa menikmati keindahan Paris dengan Menara Eiffel dan romantik masyarakatnya. Begitu pula, Itali dengan tempat-tempat eksotik yang sulit dilupakan seperti Fontana de Trevi, sebuah tempat keramaian yang banyak dikunjungi dengan segala sugesti keberuntungannya. Aku juga sempat menyaksikan pertunjukan kesenian di Opera House, Sidney. Atau, Hawaii, Frankfurt, Amsterdam, London, Los Angeles, Hongkong, Bangkok dan kota-kota Eropa lainnya.
Tutin Apriyani saat bertugas.
Banyak suka duka yang kuperoleh selama menjadi pramugari di rute internasional ini. Kenangan manis tentu saja sayang di lupakan. Aku tak akan pernah lupa bila sesama awak pesawat yang bertugas terjalin hubungan saling menghargai dan menjunjung rasa kebersamaan. Jarak yang jauh memang terasa lebih dekat dan bersemangat. Tapi tak selamanya situasinya mengenakkan. Maklumlah, awak pesawat juga manusia biasa.
Tak terkira pula bagaimana melayani penumpang yang punya tingkah-laku aneh. Aku pernah punya pengalaman saat penerbangan menuju Australia. Salah seorang penumpang benar-benar mabuk karena kebanyakan minum alkohol. Akibatnya, saat-saat sudah bisa agak santai, namun harus tetap berjaga karena khawatir penumpang tersebut sampai mengamuk atau membuka pintu pesawat. Syukurlah, sampai di kota tujuan, tak terjadi apa-apa.
Pernah pula, aku menghadapi seorang penumpang laki-laki yang stress dalam perjalanan dari Italia. Padahal, penumpang yang cukup tua ini terbang bersama anak dan isterinya. Tampaknya laki-laki tersebut sedang menghadapi persoalan cukup berat terkait tugas yang diembannya. Boleh jadi, ia dimutasi tiba-tiba sementara jiwanya belum siap. Entah kenapa, penumpang ini hanya mau bila aku yang harus melayaninya berbicara. Aku benar-benar lelah dan bosan karena harus melayani pembicaraannya yang sangat kacau.
Di balik itu, ada saat-saat yang menyenangkan apabila terpilih melayani penumpang kelas VIP ataupun chartered flight. Biasanya, ini terjadi saat melayani rombongan Presiden, Menteri atau pejabat-pejabat pemerintah lainnya. Aku dan pramugari yang lain tentu saja bisa kenal dekat dengan mereka selama penerbangan.Dua belas tahun menjadi pramugari udara di Garuda Indonesia tentu bukan masa yang singkat. Aku menjalani profesi ini dengan penuh ketekunan dan kesungguhan didukung kompetensi yang hanya dapat diraih dari proses pembelajaran baik formal maupun informal. Tak ada pekerjaan yang berat bila dilandasi oleh profesionalitas sekaligus menjunjung komitmen tugas dengan menjaga nama besar perusahaan tempat bekerja.
Selain itu, banyak hal yang dapat kupetik selama menjadi pramugari sehingga membuat aku lebih percaya diri dan pergaulan yang luas. Dan pengalaman yang tak akan pernah kulupakan saat aku diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.
Terimakasih, Garuda Indonesia! ***
Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993, pernah terbang bersama rombongan VVIP Presiden Soeharto. Pensiun tahun 2018.