
Suka-duka Menjadi Pramugari Haji: Dari Duduk Di sebelah Mayat hingga Dua Kali Naik Haji (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
Suka-duka Menjadi Pramugari Haji: Dari Duduk Di sebelah Mayat hingga Dua Kali Naik Haji (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
Oleh Tutin Apriyani
MENJELANG Idul Adha atau lebih populer dengan Hari Raya Haji atau Qurban..ingatanku kembali kemasa- masa lalu melayani tamu Allah dalam penerbangan menunaikan ibadah haji.
Aku pertama kali mengikuti penerbangan haji tahun 1983. Pertamakali juga aku berkesempatan ikut menunaikan ibadah haji. Banyak hal lucu dan berkesan dalam melayani penerbangan haji ini.
Aku mau berbagi pengalaman dalam hal menghadapi penumpang Calon Jamaah Haji (CJH) yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Hal yang paling sulit adalah saat berkomunikasi, karena kebanyakan mereka hanya tahu bahasa ibu atau bahasa daerah mereka saja.
Kebetulan waktu itu, aku dapat home base di Surabaya. Penerbangan haji dengan pesawat Garuda dulunya melalui tiga embarkasi yaitu : Jakarta, Medan dan Surabaya. Beberapa tahun kemudian bertambah lagi home base Ujungpandang.
Dari Surabaya pesawatnya berbadan lebar (DC 10) yang membawa CJH ke Jeddah. Sedangkan yang dari Jakarta dengan pesawat Boeing 747. Alhamdulillah, aku sudah mengalami berangkat dari semua pelabuhan embarkasi.
Penerbangan haji beda dengan reguler. Untuk tahap pertama, jadwal pengantaran CJH ke Jeddah, Arab Saudi. Biasanya pesawat pulang ke Indonesia tanpa penumpang. Sebaliknya, tahap kedua saat penjemputan setelah jemaah menunaikan ibadah haji, waktu berangkat pesawatnya kosong dan tidak boleh diisi penumpang.
Kenangan-kenangan Lucu
Selama penerbangan haji banyak hal- hal lucu yang terjadi. Untuk jadi crew (awak kabin) penerbangan haji harus ekstra sabar karena menghadapi tingkah polah CJH laki-laki dan perempuan yang kebanyakan sudah usia lanjut.
Pernah suatu ketika aku melayani penerbangan CJH asal Madura. Kebanyakan mereka -waktu itu- kurang mengerti berbahasa Indonesia. Akibatnya sering terjadi komunikasi yang seru. Tapi aku tidak kehilangan akal untuk menjelaskan sejelas mungkin. Termasuk menerangkan cara- cara pemakaian toilet (kamar kecil) yang benar. Tapi masih ada saja diantara mereka yang tidak mengerti cara mengunakan kloset tersebut sehingga mereka tetap jongkok di atas kloset. Ada yang lebih seru lagi kalau di antara mereka buang air di lantai. Trus penumpang ini minta air untuk menyiramnya.
Awalnya aku kesulitan dalam menghadapi masalah begini. Tapi setelah beberapa kali ikut penerbangan haji, lama-lama aku jadi biasa mengatasinya.
Aku merasa senang kalau bertemu CJH dari berbagai daerah yang dengan polosnya bercerita tentang perjuangannya bisa menunaikan ibadah haji. Ada yang menabung bertahun-tahun, ada pula yang menjual tanah/ kebun dan lain sebagainya.
Ada yang lebih sedih, beberapa CJH pernah ditipu oleh agen yang tidak bertanggung jawab. Biasanya mereka suka datang ke desa dengan dalih menolong. Ada yang sudah mendaftar dan sudah menyetor uang tapi tidak berangkat karena agen yang mengurusnya melarikan uang. Macam- macam cerita seru mereka. Ada jemaah yang setelah mendarat (landing) di Arab Saudi mengalami stress sehingga pihak Imigrasi Arab Saudi tidak mau menerima kedatangannya. Jamaah ini harus kembali ke Indonesia dengan terlebih dahulu diurus dokumennya yang lumayan repot. ***