Syair bung Firman Wally Ceritakan Gelombang Hidup Manusia

Pekanbaru,_Seorang penyair Firman Wally penyair kelahiran Tahoku, 03 April 1995. Lulusan Universitas Pattimura Ambon jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia FKIP.

Karya sastranya sudah termuat di berbagai antologi bersama di antaranya: Antologi puisi Dari Negeri Poci 10.

“Rantau” dan Dari Negeri Poci 11 “Khatulistiwa” dan juga karya-karyanya sudah termuat di berbagai media online. Antologi tunggalnya.

“Lelaki Leihitu” terbitan Teras Budaya Jakarta 2021, dan “Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan” terbitan Intishar Publishing 2021. Aktifitasnya saat ini sebagai pengajar.

Syair Syair yang bawa Firman Wally sebagi berikut

PERAHU AYAH DI SAMUDRA PALING IBU

perahu ayah melaju menuju samudra paling ibu
di sana ia berpacu dengan arus yang paling bersikukuh
sebelum kembalilah ia ke tepian
menyaksikan ombak pecah di bebatuan

Hari mulai berganti juba
Ia melaju di atas kulit samudra
membelah gelombang menuju pulang
lalu menjahit nasib yang nantinya
tersenyum harum di dulang

Ia mengantarkan perahunya
saat samudra memantulkan bayang-bayang senja
tibalah ia di tepian menyatulah peluk
yang disaksikan teluk
Maka terciptalah lagu-lagu merdu
di saat perahunya telah melempar sauh
dan berlabu

Tahoku, 16 Agustus 2021

PERIHAL KEHIDUPAN

Dari langit tua
yang tak jeda mengalir air mata
tetesannya dinikmati sebagai rahmat yang kuasa
yang tak berujung berbagi napas pada semesta

Di atas tanah-tanah yang basah
pucuk rerumputan memikul bulir-bulir tetesan
sebagai mahkota dari kehidupan

Di tubuh pohon-pohon yang basah
ranting-ranting kedinginan
gemetar bersama harapan yang mengakar

Dari langit tua
harapan terus menghijau
tumbuh bersama doa-doa

Tahoku, 16 Agustus 2021

DERU SEJARAH DI PANTAI LEIHITU

Aku mengayun sampan melintasi pantai Leihitu
menyaksikan buih memutih di atas permukaan
laut yang terus mengalirkan sejarah

Terpulang kembali kisah ayah yang tangguh
berhari-hari bermandikan air laut pada tubuh

Dari terumbu karang yang tabah
diterjang gelombang bergantian
ayah ada dalam ingatan

Di antara angin dan gemuruh rindu
nama ayah terus berembus dalam dada

Bila diceritakan tentang laut dan angin samudra
nama ayahlah yang jadi pemeran utama
atas perjuangannya yang begitu membiru
oleh sejarah dalam tubuh yang tabah

Tahoku, 16 Agustus 2021

Firman Wally penyair kelahiran Tahoku, 03 April 1995. Lulusan Universitas Pattimura Ambon jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia FKIP. Karya sastranya sudah termuat di berbagai antologi bersama di antaranya: Antologi puisi Dari Negeri Poci 10 “Rantau” dan Dari Negeri Poci 11 “Khatulistiwa” dan juga karya-karyanya sudah termuat di berbagai media online. Antologi tunggalnya “Lelaki Leihitu” terbitan Teras Budaya Jakarta 2021, dan “Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan” terbitan Intishar Publishing 2021. Aktifitasnya saat ini sebagai pengajar.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan