

Tuan mempunyai jemari ligat
Begitu lihai semangat geliat
Pikiran jernih bertutur hebat
Terpukau diri mendesah nikmat
Tentang suasana sebuah kampung
Banyak iktibar dapat direnung
Ketika ilham tinggi mengapung
Keluarlah kalimat sambung menyambung
Terdengar tarhim bersudut subuh
Relung kalbu resap menyentuh
Terkadang kentong bertalu ditabuh
Terbangun insan menyentap tubuh
Khusuk matan dalam munajat
Tengadah tangan bermohon hajat
Semesta keluh bagian tabiat
Iringi kecamuk membelai pucat
Laksana nandung berulang-ulang
Nada tarhim bergema ruang
Sebuah masjid berjejak kenang
Berkelambu hujan embun terpasang
Menggigil sejuk hawa menusuk
Rumah tinggi sungai menangguk
Terhampar laman air direguk
Menuju hilir bersandar rajuk
Sebatang malam berderak dalam
Lantun riang menghalau diam
Senantiasa terjaga pantang terpejam
Suguhan molek keindahan alam
Dahan ranting pegang kendali
Segala umbut sekuat nyali
Meragi bunyi turut menguli
Menjadi sesuatu bernyawa khayali
Berkisah gelap malam buta
Giat gemeretap kampung bermata
Cuap manusia puisi berkata
Menjahit ingatan lukisan semesta
Berada antara entah kemarau
Mungkin hujan penghalau risau
Langit gelap awan berselirau
Menghentak tiang hujan kemilau
Kampung langit bermandi dingin
Jelas menderas bersembar cermin
Terkuras lebat tali berjalin
Berhembus hangat sekujur batin
Bulan menghilang entah kemana
Kemudian terbit penyair kelana
Sibuk merayu sekalian buana
Syair mengalir menebar pesona
Kampung langit terhampar wajah
Percikan wudu memercik basah
Telajak bersyukur rezeki melimpah
Bukan mengundang banjir melapah
Kanak-kanak menjinjit bulan
Benderang suluh bergayut tangan
Menuju titik berhimpun ruangan
Mengisi malam pecah kesunyian
Para tetua selejang malam
Berbekal kain tebal cengkeram
Membebat kaki menepis ngogam
Membangun cerita mengurai paham
Sekarang malam berbeda rasa
Jarak serumpun mengeja kuasa
Mengolah cerdas mengungkai bisa
Sejarah bisu terkemas selesa
Setiap orang bercerita panjang
Rekahan wangi subuh menjelang
Bersulih suara ikhwal bertentang
Ingatan dalam zaman berjenang
Bertelanjang kaki menjemput datang
Para tetamu tanpa diundang
Langkah kecil saksi terpampang
Silakan berkemah sebumbung tiang
Mata kaki menjejak cahaya
Menuju ketinggian seribu daya
Memberi takwil belenggu bahaya
Jelita sejarah bunyi seraya
Dagang penjaja bersulih bunyi
Diam sejenak kadang bernyanyi
Rindang renyah tanpa sempunyi
Hakikat nyata menghalau bunyi
Diri kembali ke pangkal jalan
Setelah tersesat kerimbunan zaman
Menuai rindu menggapai tujuan
Walau gerhana cahaya rembulan
Tentang bulan ketika gerhana
Hanyalah perkara soal sederhana
Bagian kembara semesta fana
Mengangkat takbir lebih berguna
Terbiasa hidup jalani sendiri
Belajar untuk lebih mandiri
Mengasah tajam kemampuan diri
Membelah rimba terang berseri
Imaji membawa serata liar
Berbuat berlaku sedemikian pintar
Kejar berlari terus berputar
Berbeda sekali dengan nalar
Hanya berkecamuk dalam sesaat
Berbatas jalan cegat mencegatberbuat tatkala ketika sempat
Seolah takut terbentur sesat
Kelapapati, 16 Rabiul Akhir 1443 H