Puisi : Junjungan Menara

Junjungan Menara
*tutin apriyani

tin, di kilau menara itu
dimalam gemerlapan
bintang sembunyi
hatiku membilang-bilang dirimu
hingga tahajud menyapa mimpi

di jembatan gemerlapan
sejuta cahaya berpelukan
kutangkap bayang sean dan catherine berkejaran
kala terperangkap di potongan seluloid bisu
laksana diri kita yang terus bercinta di junjungan menara
selalu hangat dan bergairah bagai sepasang angsa merapatkan paruh

tak ada kelekatu malam itu
junjungan menara terus saja memerangkap mimpi
negeri ini sedang berpacu siang malam
lampu berkerdipan di tingkap gedung bertingkat
laksana diri kita yang terus bercinta tak siang tak malam
tak henti tak diam

amboi tanah semenanjung terus berpacu
meski tak secepat cahaya
di junjungan menara segala bercerita segala bercerita
emporium melayu mulai melaju
dari titah raja ahmad di penyengat hingga bisik sang nila utama di tumasik
dari tepuk sultan mahmud di johor hingga amuk hang tuah di melaka

tin, di kilau menara itu
di dalam gemerlapan
kuingat hanya dirimu bak junjungan duli
ruh melayu selalu bersemayam di hati
hingga tak terbilang pagi

kl. tengah malam, 2015/13/09

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan