Penyair Arab Zuhayr: Catatan Shafwan Hadi Umry

154

Penyair Zuhayr dibesarkan di kota Ghatafan, sebuah negcri yang mempunyai keistimewaan karena banyak melahirkan penyair-penyair ternama. Penyair Zuhayr telah berhasil memproduksi sejumlah kasidah (syair nyanyian) yang bermutu. Dalam buku muallaqah (Lubis, 1987) sejumlah tema dan fatwanya muncul mengajak manusia untuk berpikir dan memikirkan meskipun sekejap Zuhayr mengawali sajaknya tentang keruntuhan sebuah keluarga di Arab.

Sebuah teratak di al- Raqmatan
bagai berbintik hitam
tinggal di pergelangan tangan
Terpancar padanya pertanda
biarpun duapuluh tahun berlalu
tahulah aku teratak itu
setelah lama aku termangu
Tiga batu bervvarna hitam
tempat cerek terjerang ketika malam
di sisi parit
tak pernah meletus
bagai mata air di kolam

Dalam syair ini kelihatan penyair mengenangkan istrinya yang pcrtama Ummu Awfa dan ia berusaha mengenang sang istri. Reruntuhan itu seperti bckas-bekas bintik hitam dan dibandingkannya dengan bintik-bintik hitam di pergelangan tangan. Pembaca dapat memahami bahwa penyair Zuhyr pergi berkeliling reruntuhan untuk mencari kekasihnya. Namun, dia berbuat demikian selama 20 tahun, dan tidak pernah ditemuinya. Hanya yang bersua bekas reruntuhan itu. Penyair Zuhayr menulis sajak yang hampir sama dengan tema sajak pertama di atas.

Kukunjungi teratak yang hancur
di al-Baqi dan Thahmad
tempat Ummu Ma’bad bertolak
Pada setiap tengah hari
Angin kencang mengancam teratak sunyi
Maka tiada yang tinggal lagi
Hanya pasak-pasak kemah tersusun rapi

Di sini kelihatan penyair mcmbincangkan reruntuhan. Dia datang ke teratak yang telah lama hancur dan menyaksikan tanda-tanda yang sudah terhapus. Penyair menampakkan rasa sedihnya pada angin yang sedang bertiup dan membinasakan segalanya kecuali pasak-pasak kemah yang tertancap sepi.

Dalam syair (kasidah) yang lain Zuhayr mempersoalkan keruntuhan sebuah keluarga.

Untuk siapakah
reruntuhan tak bergerak di Ramah
hancur dan tak berpenghuni begitu lama
Orang di sana telah bertolak terpisah sudah
meninggalkan itanda-tanda di ruang kosong
tanda muncul seperti tangan wanita
berbintik hitam
bertanda di pergelangan tangan
keluarga Layla meninggalkan Batn Saqin dan bukit
pasirnya al-Ajaliz dan al-Qasim

Kita dapat menyaksikan kctiga syair kasidah di atas mempunyai bahagian pcndahuluan yang hampir sama (pandangan tentang suasana keruntuhan). Sebenarnya bahagian ini dimasukkan ke dalam apa yang disebut al-Nasib. Tema-tema tentang al-nasib merupakan kenang-kenangan yang sungguh memilukan tentang kisah cinta pada zaman silam.
Pada umumnya perenungan tentang keruntuhan dalam syair Jahiliyah merupakan sebab utama kepada getaran dan ledakan kalbu. Peletusan rasa sedih dan ratapan ke atas tempat di masa lain. Zuhayr tidaklah sama dengan penyair seangkatannya yang merupakan pecinta-pecinta (al-usysyaq) yang melibatkan diri dalam al-Ghazal (persajakan cinta atau ungkapan yang memberahikan). Meskipun demikian Zuhayr tetap menghargai tema cinta dalam syair-syair Arab.

Nasihat Zuhayr
Ada yang menarik dalam karya puisi dan kasidahnya. Beliau menyampaikan fatwa ‘tunjuk ajar’ yang mengandungi hikmah dan kebijaksanaan dalam kehidupan umat manusia.
Mari disimak puisi fatwa tunjuk ajar Zuhayr di bawah ini.

Siapa menjadikan amal kebajikan perisai kehormatan
kan meninggikan kehormatan
Siapa tidak menjauhkan kekejaman kan dizalimi
Siapa mengawas kata-katanya tak kan dihina
Siapa berhati terpimpin
Pada kebajikan pemuasan diri tidak kan gagap
siapa tak menghormati dirinya
tak kan dihormati
lidah pemuda hanyalah separuh
separuh lagi pikirannya
selain itu tiada lagi
hanya gambaran daging dan darah

Pesan moral Zuhayr ini mengingatkan kita kepada ajaran Tao Te Ching (Sastra China), Gurindam 12 Raja Ali Haji (Sastra Melayu Klasik) dan gaya bertutur Mario Teguh melalui “golden ways” yang mempesona. Selalu ada pada setiap zaman orang-orang bijak yang mengingatkan manusia untuk bcrpikir sehat dan bermoral kuat dalam mempertahankan kehidupannya di dunia.

Oman, 7 Oktober 2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan