

Pendahuluan
Literasi hijau dan karya sastra adalah topik yang telah dieksplorasi dalam berbagai makalah penelitian. Studi telah mengeksplorasi potensi literatur untuk meningkatkan literasi lingkungan dengan membangkitkan empati dan pemikiran kritis (Nguyễn Thi & Moratto, 2022). Bidang ekokritisisme telah digunakan untuk menganalisis dimensi ekologis dalam kreasi sastra (Yusmarani, 2019). Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan juga telah diintegrasikan ke dalam ruang kelas dengan fokus pada peningkatan literasi lingkungan melalui potensi sastra untuk membangkitkan empati dan pemikiran kritis.
Ekofeminisme dan studi budaya telah bersinggungan dalam analisis literatur ekofeminis, yang menceritakan keterkaitan antara alam dan budaya dalam berbagai bentuk (Anae, 2022; König & Schabio, 2022). Bidang ekokritisisme telah memperluas studi literatur lingkungan untuk mencakup beragam literatur, teori, dan metode, memperkaya interpretasi teks-teks sastra dan merevitalisasi ilmu lingkungan dan sastra.
Sastrawan telah mengisi bait-bait rumpang dalam menggaungkan kampanye dan promosi kelestarian lingkungan, termasuk salah satunya adalah kumpulan puisi karya Bambang Kariyawan Ys. “Membaca Laut dalam Kampung yang Hilang” adalah wahana imaji wisata akal dan kenangan pada kisah, budi dan pekerti yang masih tersisa. Rentetan kata indah menarik pembaca dalam ruang kenangan yang kadang terasa kusam karena bisa jadi tinggal kenangan. Atau sesekali pembaca akan dikobar amarahnya dengan kritik pedas pada ketidakberdayaan manusia menyingkirkan tangan-tangan perusak membuat alam porak poranda. Juga terkadang berembun tipis di sudut mata, merasakan emosi kesedihan atas semua hasil perbuatan terhadap alam yang entah ke mana dimintai pertanggungjawaban.
Bambang Kariyawan dalam puisi ini menghidupkan alam dalam artian yang sangat hidup. Alam yang duka, alam yang lara, alam yang kecewa digambarkan secara apik sehingga mampu mengingatkan kita kembali pada upaya menghidupkan dan mengembalikan eksistensi alam. Gaya penulisan yang berhasil membangunkan ruh bumi dan segala apa yang ada di atasnya. Kata ‘tentang’ menjadi simbol bahwa puisi ini sedang banyak berkisah. Setidaknya ditemukan sebanyak 80 kali kata ‘tentang’ yang kemudiaan diikuti dengan penggambaran sebuah kondisi. Seperti tentang kerinduan akan kampung, tentang kondisi alam dan lingkungan, tentang akar yang tergeletak Lelah. Kalimat setalah kata ‘tentang’ berusaha menggiring pembaca pada imaji dan rentetan foto usang alam yang sedang menyuarakan berjuta kata dalam kebisuan.
Pendidikan Lingkungan Berbalut Kisah dan Kearifan
Puisi dengan tajuk ‘Membaca laut dalam kampung yang hilang’, ‘Anakku jagalah rinduku’, ‘Di kaki gunung bintan’, ‘Ke Rahim sungai Kuantan’, ‘Mancokau’, dan ‘Rindu tanah’ adalah beberapa dari sekian banyak puisi dalam buku ini yang membawa pembaca menjajaki kenangan keindahan alam. Eksistensi flora dan fauna tergambar indah meskipun sesekali menyisipkan miris Ketika kita disadarkan bahwa itu semua hanya kenangan. Juga gulungan kisah pilu tentang Kampung Kayu Ara menyisakan sejarah kelam dalam perjalanan kehidupan manusia.
Tidak hanya mencoba menghanyutkan pembaca dalam arus kata, karya ini juga menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai bukti bahwa manusia pada masa lampu memiliki lebih banyak kebijakan dalam hidup yang pada saat ini sudah banyak ditinggalkan. Sebut saja salah satu kearifan lokal lubuk larangan yang menyiratkan nasihat penjagaan alam pada puisi ‘Anakku Jagalah Rinduku’. Pesan-pesan kearifan lokal menjadi nilai yang sering dihadirkan sebagai bentuk pendidikan lingkungan berbasis karya sastra.
Penggunaan kearifan lokal dalam berbagai konten pembelajaran termasuk pendidikan lingkungan sudah banyak dilakukan. Pendidikan lingkungan dapat dibuat lebih relevan secara budaya bagi masyarakat adat dengan menggabungkan sistem pengetahuan dan cara mengetahuinya (Román et al., 2022). Hal ini dapat dicapai melalui proyek kolaboratif antara masyarakat adat dan ilmuwan, serta dimasukkannya ilmu pribumi dalam kurikulum (Kurniadi, 2018; Nesterova, 2020). Dengan mengenali dan menghargai pengetahuan dan praktik adat, pendidikan lingkungan dapat membantu memperkuat identitas asli, budaya, dan cara hidup (Zidny et al., 2021). Selain itu, dapat berkontribusi pada dekolonisasi masyarakat pemukim dan mempromosikan rekonsiliasi antara kelompok yang berbeda. Dengan berfokus pada praktik warisan dan pengetahuan lokal, adat, dan antargenerasi, pendidikan lingkungan dapat menjadi lebih pluralistik dan antarbudaya, menangani kurikulum yang didominasi dan tidak tertanam yang ditawarkan di sekolah. Buku ini sangat layak dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pembelajaran pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal.
Kritik Sosial dan Karya Sastra Berbasis Riset
Kritik sosial dalam karya sastra dapat dilakukan dengan elegan dalam buku ini. Beberapa judul puisi seperti ‘Bincang pagi di taman kota’, ‘Taman kota’, ‘Camar Pun Menu’, ‘Hayalan di tepi dermaga laut’, ‘Jejampi pasir’ dan ‘Nak Ku’ sudah lebih dari cukup untuk mewakili berbagai kritik atas kebengisan manusia dalam mengeksploitasi alam secara membabi buta. Dalam kajian ilmiah, kritik lingkungan dalam sastra, juga dikenal sebagai ekokritisisme, adalah bidang interdisipliner yang mengeksplorasi hubungan antara alam dan sastra. Ini meneliti dampak kehidupan manusia terhadap lingkungan dan peran sastra dalam membentuk pemahaman kita tentang alam (Vivedha, 2023). Ekokritisme membahas krisis lingkungan dan ancaman yang ditimbulkan oleh polusi, deforestasi, dan limbah berbahaya (Roy, 2023). Ini juga mengkritik peradaban industri modern dan menganjurkan pemulihan cara hidup primitif pra-modern dan pra-egaliter (Shakoor & Ahmad, 2022). Analisis ekokritik dapat ditemukan dalam berbagai genre sastra, termasuk novel, puisi, dan genre multimodal seperti buku bergambar dan novel grafis (R & Anitha Devi, 2022). Sastra, khususnya ekopoesi, memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran, menghasilkan kesadaran, dan pemecahan masalah terkait dengan masalah lingkungan. Secara keseluruhan, kritik lingkungan dalam literatur bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang lingkungan dan menginspirasi tindakan untuk melindungi dan melestarikannya.
Untuk menghasilkan kritik yang kuat dan menyentuh, sebuah puisi tidak serta merta dapat tertuang begitu saja. Perlu dilakukan langkah-langkah investigasi agar dapat menghasilkan kritik yang tepat sasaran dan tidak terbantah. Karya dalam buku ini memperlihatkan keseriusan penulis dalam menghadirkan logika dan fakta untuk membangun budaya kritik yang membangun. Sebut saja logika pada puisi ‘Bintang Laut’ yang mencoba menghadirkan fakta bahwa keberadaan bintang laut secara nyata menjadi pertanda dan indicator baiknya kondisi lingkungan. Juga menyajikan fakta tentang kisah pilu Kayu Ara dalam puisi ‘Membaca Laut Pada Kampung yang Hilang’ yang mencoba menyuguhkan kiritik kerusakan lingkungan pada sekaligus kisah kelam pada masa silam.
Sebuah Catatan dari Penikmat Pemula
Sebagai seorang penikmat karya sastra, saya begitu menikmati suguhan literasi hijau ini. Upaya penulis dalam memberi kuasa kemampuan manusia pada alam menghidupkan imajinasi yang tergambar jelas bagi pembaca pemula seperti saya. Namun izinkanlah saya untuk ikut berkontribusi memudahkan penyunting untuk dapat memperhatikan pengetikan salah satunya pada kata kampung. Ditemukan beberapa kesalahan penulisan kata ‘kampung’ menjadi ‘kamong’ sebanyak 35 kali.
Buku kumpulan puisi ini secara umum menghadirkan puisi dengan tema-tema lingkungan. Pendekatan bergaya personifikasi hampir dijumpai di banyak puisi. Konsistensi gaya dan tema kepenulisan sangat baik dalam sebuah kumpulan puisi, namun juga dapat menimbulkan kesan yang kurang dinamis dalam memanjakan selera pembaca. Hadirnya puisi ‘Petaka Bumi’ dan ‘Tersebab Sotie’ memberikan warna yang berbeda pada kumpulan puisi ini. Pengembangan puisi ini seperti membawa pembaca dalam suasana magis. Pengulangan sebutan ‘oooiiii’ seakan berdengung menyerupai mantra yang mencari-cari jawaban atas banyaknya kehilangan keteduhan alam.
Sebagai pembaca pemula, saya masih menyimpan tanya dari salah satu puisi berjudul ‘Kau Bilang Apa?!’ Apa maksud dari puisi ini? Mengapa temanya seakan-akan tidak selaras dengan puisi yang lain. Atau memang ada makna yang begitu dalam yang hendak disampaikan oleh penulis? Atau memang ini adalah salah satu strategi penulis untuk menghadirkan rasa penasaran pembaca?
Terlepas dari itu semua, buku Serimbun Puisi Hijau ini menambah kekayaan kazanah literasi hijau di Indonesia. Jika Toha Machsum dalam testimoni buku ini menyebutkan bahwa “kumpulan puisi ini sedang menyuarakan jeritan kampung, hutan, laut, sungai, dan gunung yang kehilangan ruang dan tempat untuk memberi dan diberi’, maka izinkan saya untuk menambahkan bahwa buku ini juga berusaha menyadarkan manusia akan kehilangan yang besar, yaitu eksistensi sebagai makhluk pilihan Tuhan dengan beban tugas penjagaan.
Referensi
Anae, N. (2022). Cultural Studies and Ecofeminist Literature. The Routledge Handbook of Ecofeminism and Literature, 290–300. https://doi.org/10.4324/9781003195610-29
König, S., & Schabio, S. (2022). Green Stories for Digital Sustainable Development Education. ACM International Conference Proceeding Series. https://doi.org/10.1145/3535227.3535241
Kurniadi, R. (2018). PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PENDIDIKAN LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL. Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan Dan Pembangunan, 19(02), 27–38. https://doi.org/10.21009/PLPB.192.03
Nesterova, Y. (2020). Rethinking Environmental Education with the Help of Indigenous Ways of Knowing and Traditional Ecological Knowledge. Journal of Philosophy of Education, 54(4), 1047–1052. https://doi.org/10.1111/1467-9752.12471
Nguyễn Thi, M. T., & Moratto, R. (2022). An ecocritical approach to Yan Lianke’s Literary Works. The Routledge Companion to Yan Lianke, 311–320. https://doi.org/10.4324/9781003144564-24/ECOCRITICAL-APPROACH-YAN-LIANKE-LITERARY-WORKS-MINH-TH
R, T., & Anitha Devi, V. (2022). Building Sustainable Transformation in Learners Through Multimodal Ecocritical Genres. ECS Transactions, 107(1), 15555–15561. https://doi.org/10.1149/10701.15555ECST/XML
Román, D., Arias, J. M., Sedlacek, Q. C., & Pérez, G. (2022). Exploring Conceptions of Creativity and Latinidad in Environmental Education Through the Lens of Culturally Sustaining Pedagogy. Https://Doi.Org/10.3102/0091732X221084332, 46(1), 32–63. https://doi.org/10.3102/0091732X221084332
Roy, M. (2023). The Future of Nature Prophesied in the Select Futuristic Science-fictions of H. G. Wells. International Journal of English Literature and Social Sciences, 8(3), 478–481. https://doi.org/10.22161/IJELS.83.73
Shakoor, A., & Ahmad, M. (2022). Anarcho-Primitivism In D.H. Lawrence’s Post War Fiction: An Eco-Critical Analysis. Pakistan Journal of Social Research, 04(04), 10–17. https://doi.org/10.52567/PJSR.V4I04.782
Vivedha, V. (2023). A Study of Eco Criticism with Elected Poems of William Wordsworth. 2(1), 42–43. https://doi.org/10.46632/cellrm/2/1/14
Yusmarani, R. (2019). ECOFEMINISM PERSPECTIVE ON INDONESIAN LITERARY WORKS. ISLLAC : Journal of Intensive Studies on Language, Literature, Art, and Culture, 3(1), 63–68. https://doi.org/10.17977/UM006V3I12019P063
Zidny, R., Solfarina, S., Sari, R., Aisyah, S., Eilks, I., Rončevi´c, N. R., Biasutti, M., & Vukeli´cvukeli´c, N. (2021). Exploring Indigenous Science to Identify Contents and Contexts for Science Learning in Order to Promote Education for Sustainable Development. Education Sciences 2021, Vol. 11, Page 114, 11(3), 114. https://doi.org/10.3390/EDUCSCI11030114