Serenada Rahsa: Puisi Dewis Pramanas

95

Menjelang pagi, aku masih saja bercengkrama dengan coleteh-coletehmu yang buatku tersenyum sendiri merapal butiran kata-kata. Kau tampak menggebu menyulam canda agar aku sejenak hilang ingatan tentang kelam.

Malam-malam berlalu, kita semakin merajai sunyi, sembari melempar rayuan, menjejak serenada paling palung dalam kedalaman rasa. Sebab diantara kita telah hatam dilanda deburan hasrat yang sulit terukur, aku ingin bergentayangan meluapkan getar-getar candu asmara berlatar bintang-bintang.

Tulisan Terkait

Lalu kita tersesat pada rimbun ilalang yang beraurora, serta kunang-kunang beterbangan dalam gulita. Kau tersipu malu saat menerbangkan benih-benih asmara sejak lama bersarang di benak. Pada akhirnya biarlah kita menetap.

Subang, 5 Agustus 2024

Dewis Pramanas, Pria sederhana kelahiran Kabupaten Subang 01 Maret ini suka berimajinasi untuk mendapatkan ide dalam menulis. Hobi menulis puisi dan bermain musik. Beberapa karya puisinya termuat di media online dan buku antologi, selain itu ia juga aktif mengajar di SDN Ciberes kabupaten Subang, bisa temukan jejaknya di medsos pribadinya IG: @dewispramanas

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan