

Puisi sering bangkit dari suasana istirahat yang bersyukur. Membaca puisi Ainun Ahmad (Perempuan Tangguh, 2024) membawa pembaca ke arah muara cinta khususnya kepada sang ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Di samping juga kepada ayah dan kekasih.
Dalam tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy, 2004) ada dituliskan,” Apa tanda Melayu Jati/ Masa lalu ia tahu/ Masa sekarang ia timang /Masa mendatang ia kenang.”
Penyair Ainun Ahmad dalam sejumlah puisi yang dimuat dalam antologi tunggal ini selaras dengan pesan tunjuk ajar tersebut. Sejarah hidup manusia tidak terlepas dari sejarah hidup ibu sebagai orang tua yang merawat dan membesarkan kita.
Perempuan tangguh yang dipilih Ainun dalam buku puisi ini memang membuktikan hal tersebut. Misalnya pada puisinya antara lain, ”Kau Simpan Duka dalam Senyum”, “Emak Pejuang Sejati”, “Doa Harapan untuk Ibunda”. Puisi ini banyak bercerita tentang sang anak sebagai orang yang tahu mengenang jasa ibu sehingga melahirkan generasi perempuan yang beriman dan berakhlakul karimah.
Seperti ditulis Ainun dalam “Perempuan Tangguh Tak Pernah Mengeluh” :
Perempuan tangguh pantang mengeluh
Bagai matahari dan bulan bersinar penuh
Penerang jalan kepada kehidupan
Agar bahtera selamat sampai ke tujuan
Pada puisi “Kau Simpan Duka Dalam Senyum”, ia menulis :
Emak, engkaulah pejuang kebahagiaan
Terima kasih atas semua pengorbananmu
Kasih sayang dan mutiara cintamu
Kami bangga menjadi anakmu
Priode puisi ini bermakna tentang sang anak yang mengetahui dan mengerti jasa sang ibu. Hal .ini dimasukkan dalam masa “tahu diri” sebagaimana dalam zona pertama pesan tunjuk ajar Melayu di atas.
Kemudian pada priode masa sekarang, sang penyair perlu banyak menimang. bertimbang rasa, memahami peran ibu dalam konteks kekinian. Adakalanya luapan perasaan kerinduan masa kecil yang terjadi di masa lalu membangun nostalgik yang tidak hanya kegembiraan tetapi juga kesedihan. Ainun menulis kembali :
Dulu bersamamu kutantang badai
Kini aku rapuh terkulai
Menyambung hidup hingga selesai
Berharap senja membawa damai
Puisi ini bergaya naratif tapi juga disandang penyair dengan simbolik “menyambung hidup hingga selesai/berharap senja membawa damai.” Simbol senja dan selesai menyiratkan makna hari tua sang ibu tetap diperlakukan secara santun sebagaimana dalam agama Islam yang memperhatikan nilai ”birulwalidaini ihsan” nilai menghormati dan memuliakan orang tua apapun resiko yang harus diterima dan dihadapi sang anak.
Pada priode masa mengenang sang ibu (mungkin telah berpulang, dan meninggal dunia. Sang penyair menghadapi cobaan dan godaan kerinduan dan kesepian karena tanpa kehadiran sang ibu. Penyair ini pun menulis :
Rindu ini bagaikan bara api,membakar setiap sudut hati
Aku ingin segera pulang tapi dirimu telah pergi
Semoga Allah mempertemukan kita lagi
Di rumah-Nya yang abadi
Peran ayah juga menjadi tema kearifan yang diangkat Ainun dalam puisi berikut ini:
Ayah, kau adalah guru terbaik kami
Mengajar tentang kehidupan
Tentang kerja keras dan kejujuran
Kesabaran dan keikhlasan tak berbatas
Sebagai guru dan pendidik (Ainun Ahmad, Guru SMAN Kundur, Karimun Kepri) telah mampu mengucapkan dirinya dalam dunia perpuisian Riau dan umumnya Indonesia untuk menambah khazanah puisi perempuan penyair tanah air **
Penulis Assoc.Prof. Dr. Shafwan Hadi Umry,adalah Dosen UISU Medan