Sesuatu yang bakal retak dan kita membikinnya abadi.
—Goenawan Mohamad
Kutipan ini adalah pengingat bahwa seni sastra, memiliki dua wajah: yakni merekam kehidupan sebagaimana adanya dan memahami dunia yang fana apa yang seharusnya terjadi.
Dalam konteks puisi, seni menjadi cermin dan obor, merekam ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat sembari mengilhami kita untuk mencari keadilan. Tapi seni, terutama sastra, membutuhkan ruang untuk tumbuh, sebuah panggung untuk menampilkan, dan dukungan agar bertahan melawan hegemoni pasar bebas.
Dunia sastra adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, penelitian menunjukkan bahwa membaca sastra meningkatkan empati. Para pembaca sastra cenderung lebih memahami penderitaan orang lain, lebih peka terhadap keragaman identitas, dan lebih peduli terhadap ketidakadilan. Namun, di sisi lain, komunitas sastra jangka panjang tidak dapat hidup dari hukum pasar saja. Seni membutuhkan subsidi; sastra membutuhkan uluran tangan yang memastikan panggungnya tetap ada.
Sejarah membuktikan, dana abadi adalah katalis bagi keberlanjutan seni. Andrew Carnegie, dengan visi mencerdaskan masyarakat, mendirikan ribuan perpustakaan. Sampai kini perpustakaan itu menjadi tempat belajar lintas generasi. Alfred Nobel, dengan warisan dana abadinya, mendanai penghargaan sastra, di samping penghargaan lain. Ini member pengakuan tertinggi bagi para penulis dunia dan para creator lainnya. Ruth Lilly, melalui The Poetry Foundation, menyelamatkan puisi dari pinggiran dunia modern, dengan dukungan dana besar dalam sejarah puisi. Mereka adalah bukti bahwa seni membutuhkan tangan-tangan dermawan (filantropis( yang mengerti bahwa kebudayaan adalah harta abadi umat manusia.
Pemerintah kota Medan pernah mengambil inisiatif membiayai festival budaya Pekan Kebudayaan Melayu (PKBM) Komunitas seniman memulai tradisi festival tahunan masa Bachtiar Djakfar selaku Walikota Medan. Komunitas yang tergabung dalam PKBM ini menjadikan Medan sebagai pusat perayaan seni budaya. Apa yang membuat keseniaan perlu terus dihidupkan, disebarkan, dan dirawat? Jawabannya karena genre/corak berseni) ini menyampaikan kisah nyata dalam bentuk literasi kemanusiaan. Isu hak asasi manusia, ketidakadilan, marginalisasi, dan identitas sosial menjadi inti setiap kesenian (sastra). Namun, sastra ini tidak berhenti pada metafora; ia mencatat fakta melalui catatan kaki, menghubungkan estetika dengan realitas.
Buku yang saya tulis “Sehari dalam Kehidupan Cendekiawan & Sastrawan” (edisi 2024) ini merangkum dan mengabadikan sesuatu yang ‘bakal retak’ seperti sebuah poci dalam puisi penyair Goenawan Mohamad. ”Apa yang terjadi pada sebuah poci? Jawabnya “sesuatu yang bakal retak, dan kita membikinnya abadi”
Buku ini semacam catatan kaki yang singkat bukan saja menjadi elemen vital yang menjadikan sastra hanya seni, tetapi juga dokumen sosial. Buku bukan sekadar panggung sastra. Ia adalah ruang yang menjalankan banyak fungsi. Sama halnya Pekan Budaya atau festival sastra. Ia mempertemukan sesama penulis dalam forum silaturahmi sastra untuk berjumpa, berbagi pengalaman, dan menginspirasi satu sama lain. Tali silaturahmi antarpenulis diperkuat, memastikan keberlanjutan genre ini.
Festival dan Dana
Setiap festival memotret isu-isu penting yang dihadapi masyarakat, menjadikannya bahan refleksi melalui literasi budaya. (lih. Denny JA, 2024). Festival juga menjadi ajang edukasi publik, mengajak masyarakat memahami persoalan sosial melalui seni. Ketika isu-isu serius disampaikan dengan keindahan puisi, masyarakat lebih mudah memahami dan tergerak untuk bertindak.
Andrew Carnegie, salah satu filantropis terbesar dalam sejarah. Ia mendonasikan lebih dari $60 juta untuk mendirikan lebih dari 2.500 perpustakaan umum di seluruh dunia pada awal abad ke-20. Dana ini tidak hanya membangun perpustakaan, tetapi juga menyediakan endowment untuk memastikan operasional mereka berkelanjutan. Hingga kini, lebih dari 1.500 perpustakaan Carnegie masih berdiri dan melayani masyarakat, menjadikan visinya abadi.
Faedah dari sumbangan dana abadi yang dikeluatkannya dirasakan oleh jutaan orang lintas generasi. Perpustakaan-perpustakaan tersebut memberikan akses ke buku, pendidikan, dan pengetahuan yang sebelumnya hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas.
Mereka menjadi pusat pembelajaran yang mendukung literasi dan pemberdayaan masyarakat. Dana abadi ini penting karena memberikan stabilitas finansial jangka panjang, memungkinkan perpustakaan untuk bertahan meskipun menghadapi krisis ekonomi atau perubahan kebijakan pemerintah. Dalam konteks seni dan sastra, dana abadi memberikan panggung yang tidak hanya sementara, tetapi juga berkelanjutan. Ia memastikan bahwa warisan budaya dan literasi terus hidup Seperti kata Carnegie, “Kekayaan hanya memiliki nilai jika digunakan untuk kebaikan.” Dana abadi adalah warisan yang melampaui waktu, menjadikan ilmu dan seni tersedia bagi semua, tanpa batas.
Langkah ini menjadi pengingat bahwa dana abadi adalah jaminan bahwa seni dan budaya tidak terhenti oleh keterbatasan ekonomi. Ia adalah investasi bagi generasi mendatang, Tanpa dukungan, seni berisiko tenggelam di tengah arus globalisasi.
Kegiatan budaya seperti festival budaya (sastra), pameran buku. Pustaka kafe dan pemajangan buku terbitan lama dan baru layak dilakukan di sudut kafe. Ketika orang singgah dalam acara rehat kopi dan minum teh poci, mereka bisa melihat dan membaca buku yang tersedia di pojak kafe, Buku memperkuat jati diri bangsa dan menciptakan warisan yang bertahan lintas generasi. Kegiatan ini tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga berdampak pada sector ekonomi kreatif.**
*Dari Acara Bedah Buku dua Maestero Pengarang Sumatra Utara Shafwan Hadi Umry dan Jaya Arjuna, 21 November 2022 di AOBE Cafe