
Pengalaman Jurnalistik dengan Gubernur Riau, Soeripto: Awalnya Mau ‘Dikarung’ Akhirnya Dijadikan ‘Intel’ (Bagian Kesatu dari 2 tulisan)
Pengalaman Jurnalistik dengan Gubernur Riau, Soeripto: Awalnya Mau ‘Dikarung’ Akhirnya Dijadikan ‘Intel’ (Bagian Kesatu dari 2 tulisan)
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
KEDEKATAN saya dengan Gubernur Riau, Mayjen. Purn. Soeripto (periode 1988-1998) diawali dengan cara kurang sedap. Waktu itu, saya menulis artikel tiga kali bersambung di koran Riau Pos tentang saatnya putra Melayu, Dr. Muchtar Ahmad tampil jadi Rektor Universitas Riau (Unri). Pemikiran saya yang terlalu berpihak pada putra daerah itu dianggap Soeripto ‘berbahaya’.
Oleh sebab itu, Soeripto secara terpisah memanggil sejumlah pejabat dan tokoh terkait menyampaikan ‘kemarahan’-nya terkait artikel itu. “Fakhrunnas ini sopo?” tanya Soeripto seperti ditirukan oleh Kepala Biro Humas Pemda Riau, Pak Asparaini Rasyad, Kepala Bappeda, Pak H. Rustam S. Abrus dan Pemred Riau Pos, Bang Rida K. Liamsi.
Syukurlah ketiga tokoh itu tahu betul tentang diri saya dan sebelumnya memiliki hubungan emosional. Pak Asparaini pasti kenal dekat karena hampir setiap hari bertemu di kantor Humas, tempat berkumpulnya wartawan. Pak Rustam adalah sahabat ayah saya, Buya Mansur Abdul Jabbar sewaktu di Bengkalis. Ayahku jadi Kepala Kantor Deppen dan Pak Rustam sebagai Sekda Bengkalis. Sedangkan dengan Bang Rida pasti tahu persis karena menjadi salah satu guru jurnalistik saya bahkan pernah menyediakan rubrik khusus mingguan “Secangkir Kopi” di halaman Riau Pos yang dipimpinnya.
“Fakhrunnas ini anak saya, Pak. Dia anak baik. Sebab, saya berkawan baik dengan ayahnya sewaktu di Bengkalis dulu,” kata Rustam waktu memanggil saya ke ruang kerjanya di Bappeda Riau pada suatu siang
Pak Asparani dan Bang Rida pun memberikan pembelaan luar biasa.
“Pak Gubernur marah betul gara-gara tulisan yang Fakhrunnas tulis. Saya bilang dia wartawan yang baik dan potensial.” ujar Pak Asparaini.
“Saya ingin Pak Gubernur harus kenal dengan Fakhrunnas,” katanya lagi.
Pak As -panggilan singkatnya- menggagas suatu ide. Dia menawarkan, agar saya yang masa itu jadi wartawan Majalah Panji Masyarakat bisa menulis Liputan Khusus tentang Provinsi Riau dan Wawancara Khusus dengan Gubernur Soeripto. Saya pun berkoordinasi dengan Pemred H. Rusjdi Hamka-masa itu. Ide ini disetujui dan Pak As memberikan berbagai buku dan laporan data tentang Riau serta mengatur jadwal wawancara khusus dengan Pak Ripto. Daftar pertanyaan pun diajukan.
Tiga hari kemudian, Pak Ripto menyediakan waktu untuk bertemu di kediaman dinas di Jl. Sisingamangaraja. Pak Ripto didampingi Kadit. Sospol Riau, Paris Ginting (waktu itu institusi ini begitu menakutkan) dan salah satu ajudannya, Pak Dewo yang tentara. Pak Dewo sudah mendampinginya waktu Pak Ripto menjadi Pangkostrad dan tugas- tugas kemiliteran.
Pak Ripto yang berpostur tegap banyak bercerita pengalamannya sewaktu tugas-tugas militer. Termasuk bercerita saat ‘Petrus’ di Jakarta yang menghebohkan para masanya. Sampai-sampai dia memanggil ajudannya, Pak Dewo untuk bercerita soal Petrus itu. Kemudian barulah Pak Ripto menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait keberhasilan pembangunan Provinsi Riau.
Majalah Panji Masyarakat terbit memuat Laporan Khusus tentang Riau termasuk Wawancara Khusus dengan Gubernur Soeripto.
Sejak itu, hubungan saya dengan Pak Ripto terus makin akrab. Waktu itu, saya yang juga menjadi wartawan Media Indonesia dan wartawan televisi, TPI (sekarang jadi MNC TV) semakin sering diajak dalam kunker Gubri ke berbagai daerah bersama sejumlah wartawan lain. Salah satu diantaranya H. Mulyadi, wartawan senior suratkabar Suara Pembaruan. Keakraban saya dengan Pak Haji (panggilan akrab saya untuk H. Mulyadi) sebelumnya terus terwujud karena kami berdua termasuk wartawan yang sering diajak dalam rombongan Gubri. Saya masih ingat, sewaktu Gubri mendampingi KSAD, Jend. TNI Hersudiono Hartas (masa itu) akan kunker ke Natuna. Saya dan Pak Mul wartawan daerah yang diajak dan selebihnya wartawan dari Jakarta. Maklumlah pesawat KSAD hanya bermuatan 8-10 orang.
Suatu malam di tahun 1997, Pak Ripto melalui ajudan (kalau tak salah), Jhonny Irean memanggil saya dan Pak Mulyadi. Memang kami beberapa kali dipanggil secara tiba-tiba untuk membahas suatu perkembangan situasi di Riau. Kali ini, Pak Ripto meminta kami pergi ke Malaysia untuk melihat langsung perkembangan politik di negeri jiran itu.
“Mul..Nas, saya mau tugaskan kalian berdua ke Malaysia,” kata Pak Ripto dengan gayanya yang khas.
“Siap, Pak. Apa yang akan kami lakukan di sana?” tanggap kami berdua.
“Ya, coba lihat dan amati, bagaimana perkembangan kasus antara PM Mahathir dengan Timbalan PM, Anwar Ibrahim..” sahut Pak Rioto.
Memang waktu itu, perseteruan Mahathir dengan Anwar sedang memuncak. Diawali dengan tuduhan praktik sodomi Datuk Anwar terhadap sejumlah orang. Ditambah pula tuduhan rasuah (korupsi) hingga rencana penggulingan Datuk Seri Mahathir pada masa itu.
Kami berdua pun berangkat ke Kuala Lumpur persis sehari menjelang Datuk Anwar Ibrahim disidangkan.***