Pengalaman Dramatik Mewawancarai Datin Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Istri Datuk Anwar Ibrahim (Bagian Kedua dari 2 Tulisan- Habis)

Pengalaman Dramatik Mewawancarai Datin Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Istri Datuk Anwar Ibrahim (Bagian Kedua dari 2 Tulisan- Habis)

88

Pengalaman Dramatik Mewawancarai Datin Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Istri Datuk Anwar Ibrahim (Bagian Kedua dari 2 Tulisan- Habis)

 

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

 

Di pintu teras belakang yang tertutup rapat, Pak Mul langsung memencet bel aiphone dan berucap: “Assalamuakaikum ..”.
Salam itu dibalas dari dalam rumah:”Waalaikumum salam.. Siape?”
“Kami keluarga Datuk Anwar dari Indonesia,” sahut Pak Mul tanpa ragu-ragu.

Tak lama kemudian pintu dibuka oleh seorang laki-laki muda dan mengajak kami masuk ke dalam rumah. Kami langsung ke ruangan tengah dan disilakan duduk di kursi sofa yang empuk. Itulah ruang keluarga yang biasa diduduki Datuk Anwar bila berbincang bersama istri dan anak-anaknya.

“Datin cakap sile tunggu di sini. Datin sedang ada rapat dengan para peguam (pengacara).

Menunggu sekitar setengah jam, muncullah dari sebuah bilik seorang perempuan cantik setengah baya dan berkulit putih. Itulah Datin Wan Azizah Wan Ismail yang ingin kami wawancarai. 3-4 lelaki peguam ikut mengiringinya dan pamit pulang pada Datin Azizah.

Tulisan Terkait

Katastrofe HAM: Catatan Cak AT

“Lama menunggu? Saye tadi rapat dengan para peguam untuk persiapan sidang di mahkamah besok,” ucap Datin memulai pembicaraan dan langsung duduk di sofa depan kami.

Pak Mul memperkenalkan diri sambil menyebut nama kami berdua.

“Kami jurnalis dari Indonesia untuk melakukan interview dengan Datin.”

“Iye, banyak juga pejabat Indonesia yang memberi dukungan untuk Datuk Anwar. Ada yang datang langsung, ada juga lewat telepon,” kata Datin dengan bahasa Melayu yang kental.

“Siapa saja pejabat itu?”
“Ada Pak Habibie, Pak Akbar Tanjung dan banyak lagi,” jelas Datin.

Datuk Anwar mencium istrinya Datin Azizah di ruang sidang. (Foto CNN Indonesia)
Datuk Anwar mencium istrinya Datin Azizah di ruang sidang. (Foto CNN Indonesia)

Kemudian wawancara terus berlangsung mengalir begitu saja. Daftar pertanyaan yang sudah kami siapkan cukup kami hapal. Kami tidak membawa pulpen, kertas catatan apalagi tape recorder. Takut kalau digeledah petugas, ketahuan kami datang sebagai wartawan. Bahkan, kartu pers media kami dan kartu PWI sengaja kami keluarkan dari dalam dompet dan diselipkan di bagian celana.

Wawancara kami dengan Datin berlangsung hampir satu jam. Usai wawancara, Datin menawarkan kami berdua untuk bisa hadir pada sidang perdana Datuk Anwar di High Court (Mahkamah Tinggi) besok harinya.

“Sile datang di Hight Court besok,” kata Datin. Kami menjawab insyaallah.

Saat meninggalkan rumah Datuk Anwar, timbul persoalan dan menjadi peristiwa dramatik. Pasalnya, taksi apalagi angkutan umum tak ada karena kawasan itu merupakan kawasan elit dan bukan untuk umum.

Kami pun bergegas meninggalkan rumah Datuk Anwar. Sewaktu berada di jalan depan rumah, salah satu taksi langsung menyala dan menawarkan untuk mengantar kami. “Perlu teksi, Ncik?” katanya.

“Terimakasih,” jawab kami sambil mempercepat langkah.

“Cepat aja, Nas. Mereka itu petugas. Kalau kita naik taksi mereka, bisa-bisa kita di bawa ke kantor Koramil mereka. Bahaya, sebab kita tak ada izin melakukan tugas jurnalistik,” bisik Pak Mul.

Setelah berjalan sejauh empat ratus meter, kami sampai di jalan umum dua jalur. Tiba-tiba sebuah taksi yang tadi ada di depan rumah Datuk Anwar menyusul kami. Untunglah tanaman bunga di pulau jalan itu cukup rimbun. Tanpa ragu-ragu, Pak Mul memerintahkan agar kami sembunyi di taman bunga jalanan itu. Kami agak merunduk. Taksi tadi berjalan agak pelan melewati kami seolah-olah mencari jami. Setelah taksi itu menghilang, kami keluar dari rimbunan Tanan dan bergegas melangjah. Sekitar sepuluh menit kemudian muncul lagi taksi lain lagi. Kami buru-buru bersembunyi di rimbunan taman dengan perasaan berdebar.

Kami terus dibuntuti. Ada 3-4 kali kami bersembunyi. Taksi-taksi sempat pula berhenti seolah menunggu kami keluar di jalanan. Sekitar hampir sejam berlalu, barulah kami merasa aman berjalan.

Setelah berjalan kaki sejauh 10 km, barulah kami di jalan umum yang ramai. Kami merasa lega dan menyetop taksi untuk mengantarkan kami ke hotel di kawasan Chow Kit.

Datuk Anwar dan Datin Azizah (Foto  Internet)
Datuk Anwar dan Datin Azizah (Foto Internet)

Kami sampai di hotel sekitar pukul 00 30 Waktu Malaysia. Di kamar hotel, setelah shalat Isya, Pak Mul langsung mengetik hasil wawancara tadi. Saya menuliskan wawancara agar tidak terlupa. Alhasil, wawancara khusus kami dengan Datin Wan Azizah Wan Ismail rampung saat larut malam. Waktu istirahat tidur pun nyaris tak kami hiraukan lagi.

Di persidangan High Court esok paginya, kami sudah hadir lebih duluan. Sewaktu Datin Wan Azizah bersama dua puterinya yang cantik datang, kami masih sempat disapa ramah dan diperkenalkan dengan kedua anaknya.

Kami hanya bisa titip salam buat Datuk Anwar karena kami tak mungkin meliput persidangan di dalam ruangan karena tidak memiliki izin meliput dari ruang sidang.

Kami pun meninggalkan High Court dan mencari tempat mengirimkan berita hasil wawancara yang menggunakan telex atau faksimil. Berita bisa kami kirimkan di toko pelayanan yang harganya lumayan mahal. Pokoknya biaya pengiriman berita dengan honor berita bila dimuat sangat tidak sebanding. Tapi jepuasan batin kami mengatasi segalanya

Berita kami berupa Wawancara Khusus dengan Datin Wan Azizah Wan Ismail itu dimuat media masing-masing. Berita Pak Mul dimuat di halaman satu koran Suara Pembaruan. Berita Wawancara Khusus yang saya tulis dimuat di jalan satu koran Media Indonesia.

Pak Soeripto membacanya berita kami dengan perasaan bangga. Pak Ripto ternyata terus memantau perkembangan situasi politik di Malaysia lewat informasi di media.

Kami pulang lewat Sibgapura. Persis saat kami sudah berada di Negara Singapura itu, Pak Ripto menelepon dan menanyakan kabar kami. Pasalnya saat Pemerintah Malaysia memberlakukan Internal Secury Act (ISA)-kira-kira sama dengan undang-undang subversi- yang akan menahan siapa saja termasuk wartawan yang melakukan aktivitas tanpa izin di Malaysia.

Waktu kami bilang sudah berada di Singapura, Pak Ripto merasa senang. Sesampai di Pekanbaru kami melaporkan perjalanan kami yang dramatik sambil menyerahkan laporan khusus sesuai penugasan.***

 

Fakhrunnas MA Jabbar adalah wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) PWI.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan