


PERJALANAN panjang seorang wartawan untuk meraih Press Card Number One (PCNO) bukanlah hal yang mudah. Perjuangan, kerja keras, dan dedikasi tinggi menjadi bagian dari proses panjang yang harus dilalui. Saya sebagai seorang jurnalis senior dengan rekam jejak panjang di dunia pers, akhirnya menerima penghargaan bergengsi tersebut pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2025 di Banjarmasin.
Awal Langkah di Dunia Jurnalistik
Darah jurnalistik dialirkan ayahku, Buya Mansur Abdul Jabbar (Alm). Sekitar tahun 1950-an, Ayah pernah menjadi wartawan Kumandang, Jihad, Harian Obor dan sejumlah media lain dalam rentang waktu yang berbeda.
Perjalanan jurnalistik saya dimulai pada tahun 1979, saat masih menjadi mahasiswa di Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Universitas Riau (Unri). Minatku terhadap dunia tulis-menulis sudah terlihat sejak saya menggagas penerbitan majalah mahasiswa Estuaria, Faperi, Unri yang mendapat dukungan dari para mahasiswa senior, a.l Hamdan Alawi, T. Dahril, Makruf Maryadi dan beberapa nama lagi.
Suatu hari, salah seorang dosenku, Ir. A.Z. Fachri Yasin, M.Agr, menawarkan kesempatan untuk menjadi wartawan. Tanpa ragu, saya menerima tawaran tersebut. Tawaran itu membawaku ke Gedung Veteran Bhaskara Purna Yudha di Jalan Cut Nyak Dhien, Pekanbaru, -kantor sementara LKBN Antara- di mana saya bertemu dengan wartawan senior Muslim Kawi dan Ismail Yacob dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Waktu sudah ada Dadang Masyhur (alm) , penyiar RRI Pekanbaru yang diperbantukan.
Di LKBN Antara, saya dan seorang wartawan baru, Fahmy Asnan Kasry (alm) mendapatkan pelatihan jurnalistik dengan metode learning by doing. Kami dilatih untuk menulis berita dengan pendekatan spot news atau straight news, yang mengutamakan konsep 5W+1H dan struktur Piramida Terbalik. Sebagai wartawan, waktu itu saya mendapatkan kode penulis berita K-03, sementara Muslim Kawi (K-01), Dadang Masyhur (K-02), dan Fahmy Asnan Kasry (K-04).
Meskipun hanya bergabung dengan LKBN Antara selama sekitar dua tahun, pengalaman ini menjadi landasan kuat bagi perjalanan jurnalistiknya.
Menjadi Wartawan di Majalah Nasional
Setelah dari LKBN Antara, saya bergabung dengan Majalah Berita Mingguan Topik, termasuk Grup Merdeka-nya BM Diah. Berbekal kemampuan menulis dan latar belakang di dunia sastra, saya tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan gaya penulisan majalah dalam bentuk reportase/ feature atau indepth news
Pada tahun 1983, saya mendapat kesempatan lebih besar saat bergabung dengan Majalah Panji Masyarakat (Panjimas) yang didirikan Buya Hamka dan kala itu dipimpin putranya H. Rusjdi Hamka. Di sini, saya bertemu dengan sejumlah tokoh pers nasional, seperti Azyumardi Azra, Bachtiar Effendi, Komaruddin Hidayat, dan Iqbal Abdul Rauf Saimima. Saya merasa beruntung karena Panjimas memiliki sistem manajemen yang baik, di mana wartawan dan koresponden daerah sudah mendapatkan honor bulanan yang lumayan.
Di tahun yang sama, saya juga terlibat dalam penerbitan media lokal Riau, Mingguan Genta, yang saat itu SIT-nya dalam ancaman pembekuan. Dengan kepemimpinan wartawan senior, Rida K. Liamsi -masa itu masih wartawan Majalah Berita Mingguan Tempo- sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi dan Hasan Junus sebagai Redaktur Pelaksana, Genta diterbitkan kembali dalam format tabloid. Saya menjadi salah satu redaktur sekaligus wartawan lapangan bersama Sutrianto (pernah menjadi CEO Padang Ekspres, anggota Riau Pos Grup.
Kedekatanku masa itu dengan wartawan senior Rida K. Liamsi dan Muslim Kawi membuat saya mendapatkan kesempatan mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) tahun 1983. Dalam pelatihan ini, saya mendapatkan bimbingan langsung dari tokoh pers senior seperti Rosihan Anwar dan Parni Hadi. Sejumlah wartawan senior Riau yang juga ikut jadi peserta di antaranya Muslim Kawi, H. Mulyadi, Ediruslan Pe Amanriza dll. *
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah wartawan dan sastrawan, mengabdikan diri di dunia literasi lebih dari 40 tahun.