Pengalaman Jurnalistik: Kenangan Era Mesin Tik Kelompok Wartawan G7 dan G15 serta Kirim Berita Lewat ‘Pak Ismail’ (Bagian Kedua dari 2 Tulisan)

Pengalaman Jurnalistik: Kenangan Era Mesin Tik Kelompok Wartawan G7 dan G15 serta Kirim Berita Lewat ‘Pak Ismail’ (Bagian Kedua dari 2 Tulisan)

74

Pengalaman Jurnalistik: Kenangan Era Mesin Tik Kelompok Wartawan G7 dan G15 serta Kirim Berita Lewat ‘Pak Ismail’ (Bagian Kedua dari 2 Tulisan)

Berita Lainnya

[BULAN BAHASA_PBSI_UR_INFO]

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

KETIKA dr. Tabrani Rab mendeklarasikan ‘Riau Merdeka’ yang mendapat liputan luas dari media dalam dan luar negeri, kami yang meliput kucing-kucingan dengan pihak Korem 032 Wirabima. Wartawan Yuhanis Indra sempat harus menyelamatkan diri hingga ke Airmolek karena dianggap terlalu kritis dalam pemberitaan soal Riau Merdeka. Beberapa aktivis lain waktu sempat ditangkap oleh Korem.

Namun kami, para wartawan G15, tetap menjaga independensi, memberitakan apa yang terjadi dengan berimbang, meskipun tekanan datang dari berbagai arah.

Jauh sebelum itu, wartawan G15 juga terlibat dalam peliputan panas beberapa kali pemilihan Gubernur Riau, H. Saleh Djasit, Soeripto, dan HM. Rusli Zainal.

Kami juga secara implisit dalam kapasitas jurnalistik mendukung duduknya H.M. Rusli Zainal dari Bupati Inhil hingga menjadi Gubernur Riau. Rusli Zainal merupakan tokoh birokrat yang akrab dengan wartawan.

Pengalaman lain saat peliputan Peristiwa Mahato—konflik berdarah antara masyarakat dan pihak perkebunan sawit di Rokan Hulu.

Sebulan habis konflik, Tim G7 yang dihubungkan oleh Miswar Pasai turun langsung atas undangan bos PT Torganda, DL. Sitorus. Kami disambut di lokasi konflik, diajak menyusuri kawasan kebun yang masih dipenuhi pohon tumbang karena proses pembersihan. Bahkan kami menaiki traktor John Deere. Peliputan ini membawa nama G7 ke level yang lebih luas.

Pada masa itu, pengacara M. Kapitra Ampera, SH (sekarang sudah doktor dan politisi PDIP Riau) baru pindah di Riau. Saya diperkenalkan oleh dr. Tabrani di rumah sakitnya. Sejak itu, kami dari Tim G15 saling bekerja sama. Ada beberapa kasus konflik masyarakat pemilik lahan berseteru dengan pengusaha Tionghoa di Baganbatu, Rohil. Kami turun di lapangan dan pernah disambut dengan parang oleh masyarakat karena kami diduga berpihak pada pengusaha. Perundingan kedua pihak dibawa oleh Kapitra sampai di Kantor Bupati Bengkalis.

Jarum jam: Fakhrunnas, Indra dan Ketua DPRD Kepri, Huzrin Hood, Fakhrunnas dan Bachtiar, mewawancarai Bupati Inhu, Ruchiat Saefuddin.
Jarum jam: Fakhrunnas, Indra dan Ketua DPRD Kepri, Huzrin Hood, Fakhrunnas dan Bachtiar, mewawancarai Bupati Inhu, Ruchiat Saefuddin.

Kapitra yang pernah menjadi salah satu pengacara Dr. Subabdrio, waktu pembebasannya dari penjara, Kapitra ikut mendampingi. Cerita pembebasan tokoh yang pernah terlibat PKI, diceritakan Kapitra kepada kami. Jadi kami dapat juga berita berskala nasional meskipun hanya menetap di daerah.

Industri, Konflik, dan Solidaritas Jurnalistik

Saat Riau berkembang pesat dengan masuknya industri besar di bidang pulp dan kertas seperti PT. RAPP dan PT. Indah Kiat, kami banyak terjun langsung ke lapangan. Tak jarang, terjadi gesekan antara masyarakat dan pihak perusahaan. Misalnya, kasus bentrok antara warga dan Brimob di area RAPP. Kami hadir, mendokumentasikan, dan menyuarakan keresahan warga.

Hubungan baik kami dengan tokoh-tokoh dan manajemen RAPP di antaranya Pak Budiman ikut membantu membuka akses ke sumber informasi. Kerja sama dengan Koperasi PWI juga lahir dari dinamika ini. Bukan dalam bentuk bisnis, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap keberadaan media yang independen dan kritis.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Kini, sebagian dari anggota G7 dan G15 telah tiada: Indra Sumana SZ, Adrizas, Hendrizal. Namun kenangan mereka tetap hidup dalam setiap cerita yang kami bagi. Mesin tik mereka mungkin telah usang, tapi semangat dan integritas mereka abadi.

Mereka adalah bagian dari generasi wartawan yang tak hanya mencatat sejarah, tetapi turut membentuknya. Melalui liputan yang jujur dan kerja yang penuh risiko, mereka menjaga marwah profesi dan memastikan suara rakyat tetap terdengar.

Bagi saya pribadi, G7 dan G15 bukan sekadar nama. Ia adalah simbol dari masa keemasan jurnalisme daerah yang tangguh, kompak, dan penuh dedikasi. Di tengah segala keterbatasan alat dan fasilitas, kami membuktikan bahwa wartawan sejati adalah mereka yang turun ke lapangan, menyatu dengan denyut masyarakat, dan menulis dengan hati nurani. (Habis).

Fakhrunnas MA Jabbar adalah sastrawan, wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) PWI, sekarang Pemred Media online Tirastimes.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan