
Pengalaman Jurnalistik: Kenangan Era Mesin Tik Kelompok Wartawan G7 dan G15 serta Kirim Berita Lewat ‘Pak Ismail’ (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
Pengalaman Jurnalistik: Kenangan Era Mesin Tik Kelompok Wartawan G7 dan G15 serta Kirim Berita Lewat ‘Pak Ismail’ (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
MENJADI wartawan di era 1990-an adalah menjalani profesi dengan semangat dan idealisme tinggi, di tengah keterbatasan alat kerja. Inilah masa ketika semua tugas jurnalistik dilakukan secara manual. Tidak ada laptop, tidak ada internet, dan belum ada media sosial. Kami mengandalkan mesin tik, tape recorder mini, notes kecil, dan pulpen yang selalu siap di saku.
Waktu itu bagi wartawan daerah atau koresponden media nasional, kami harus mengirim berita melalui telex—yang kemudian bergeser menjadi faksimile. Kami menyebutnya dengan guyonan: “Pak Ismail”—plesetan dari kata faksimile. Teknologi sekadarnya itu tak menghalangi semangat kami dalam meliput berbagai kejadian penting, bahkan yang penuh risiko.
Dari kondisi inilah di Kota Pekanbaru, Riau, lahir kelompok wartawan awalnya bertujuh orang yang disebut G7. Istilah ini tak begitu jelas asal muasalnya. Tapi meniru-niru G7 yaitu kumpulan 7 negara maju di dunia. Kelompok ini berkembang menjadi G15. Kelompok ini bukan organisasi resmi, melainkan hanya pertemanan erat senasib-sepenanggungan antarwartawan yang terbangun karena intensitas liputan bersama di lapangan, baik dalam suasana formal maupun kondisi genting. Kebetulan secara informal, saya dipercayai menjadi ketua atau koordinatornya.
Formasi Awal: Tim G7
Kelompok tujuh orang wartawan yang kerap berkumpul
di Kantor PWI Riau (kantor lama), Jl. Sumatera Pekanbaru. Kelompok ini terjalin kian akrab dalam meliput bersama di Pekanbaru dan daerah-daerah sekitarnya.
Tim Wartawan G7 itu adalah:
1. Fakhrunnas MA Jabbar (Media Indonesia, Panji Masyarakat dan TPI)- sekarang Pemred media online Tirastimes com
2. Alm. Indra Sumana SZ (Suara Pembaruan)
3. Yuhanis Indra (Republika) – sekarang Ketua FPK Inhu.
4. Said Ardillah Alatas (Bisnis Indonesia)
5. Wildan Nasution (LKBN Antara) -sudah pensiun tinggal di Bekasi.
6. Alm. Adrizas (Suara Karya)
7. Zufra Irwan (Pelita)- Ketua KIP Riau dua periode.
Kami adalah wartawan media nasional yang setiap hari berjibaku dengan berbagai isu di Riau. Sebagian besar adalah koresponden yang harus menyiasati pengiriman berita ke redaksi di Jakarta. Kedekatan kami tumbuh karena seringnya saling bantu, saling berbagi informasi, dan terkadang saling berbagi info jika ada yang berhalangan.
Berevolusi Menjadi G15
Seiring waktu, lingkaran ini berkembang. Wartawan dari media lainnya bergabung, hingga G7 berubah menjadi G15. Nama ini semacam “kode” keakraban semata yang merujuk pada jumlah anggota inti kami yang aktif pada masa itu. Di antara yang masuk kemudian adalah:
1. Alm . Hendrizal (Riau Pos/Gatra
2. Fendri Jaswir (Jayakarta)- sekarang Pemred media online Vox-News.???
3. H. Mulyadi (wartawan senior Suara Pembaruan)
4. Yurnalis Khatib (Pekanbaru Pos)
5. Tony Hidayat (reporter TPI- sekarang anggota DPRD Kampar) dan Abdul Hamid (kamerawan TPI- sekarang anggota DPD RI).
6. Bachtiar Lubis -(reporter RCTI- sekarang wiraswasta) dan Mega (kamerawan RCTI- sekarang wiraswasta)
7. Puji Santoso (Waspada)- sekarang bermukim di Medan.
Anggota ke-15 ini bisa berubah secara temporal seperti Sutrianto (Riau Pos, pernah jadi Ketua PWI Riau) dan Miswar Pasai (Pemred Suara Riau). Mereka terlibat dalam sejumlah peliputan tertentu.
Turun ke Lapangan, Menghadapi Risiko
Kami bukan wartawan yang hanya duduk di balik meja. Hampir semua kasus besar yang terjadi di Riau saat itu tak terlepas dari peliputan kami. Biasanya kami langsungi di lapangan. Tak jarang, berbagai risiko keselamatan pun dipertaruhkan.
Dalam ingatan Yuhanis Indra ada beberapa peliputan peristiwa yang masih diingat jelas. Pernah kami turun meliput kasus tanam sawit di atas lahan kuburan oleh PT Indo Sawit di Desa Lubuk Batu Tinggal, Kecamatan Pasir Penyu, Inhu. Ini kasus sensitif yang menimbulkan keresahan masyarakat. Kami menyisir lokasi, memotret fakta, mewawancarai warga, dan menelusuri latar belakang konflik lahan.
Sewaktu pulang, kami dihadang Kapolsek Pasir Penyu dan sejumlah petugas.Sepertinya pemilik lahan melaporkan kehadiran kami yang menyelusup ke lokasi kejadian. Kami sempat berdebat hebat sampai 2-3 jam malam itu. Yuhanis Indra dan Bahtiar Lubis waktu itu sampai buka baju saat berdebat. Tapi akhirnya masalahnya berakhir damai setelah perundingan alot.
Pernah pula kami meliput kasus judi yang menyeret nama DH. Peliputan ini sangat berisiko. Ada juga momen menegangkan ketika liputan tentang Caltex dan Humas Pemprov Riau yang menyewa helikopter untuk pelantikan Bupati Bengkalis. Semua ini membutuhkan ketelitian dan keberanian.
Diburu dan Dituduh: Riau Merdeka dan Kongres Rakyat Riau II
Salah satu momen paling menggetarkan adalah saat muncul gerakan Riau Merdeka dengan presidennya, Prof. Tabrani Rab (Alm). Kami meliput dinamika kegiatan bersejarah itu.
Peliputan Kongres Rakyat Riau II yang menghasilkan keputusan Riau Merdeka juga cukup seru. Saat kongres sempat terjadi insiden pelemparan nasi bungkus ke arah Pak Saleh Djasit di arena kongres di Gedung Dang Merdu. Situasinya kacau, wartawan pun tak luput dari sorotan aparat. (Bersambung).