Pengalaman Jurnalistik dengan Gubernur Riau, Soeripto: Awalnya Mau ‘Dikarung’ Akhirnya Dijadikan ‘Intel’ (Bagian Kedua- Habis)

Pengalaman Jurnalistik dengan Gubernur Riau, Soeripto: Awalnya Mau ‘Dikarung’ Akhirnya Dijadikan ‘Intel’ (Bagian Kedua- Habis)

134

Pernah pula Pak Ripto menugaskan kami berdua melakukan tapak tilas sejarah dan meliput peristiwa dua prajurit Indonesia, Usman dan Harun, anggota Korps Komando Operasi (KKO) TNI AL (sekarang Marinir) yang dikirim dalam misi sabotase selama Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1963–1966). Pada 10 Maret 1965, mereka meledakkan bom di MacDonald House, sebuah gedung di Orchard Road, Singapura. Ledakan ini menewaskan tiga warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Kedua prajurit itu berhasil ditangkap pemerintah Singapura saat mau melarikan diri dan akhirnya dihukum mati.

Begitulah Pak Ripto memberikan kepercayaan kepada kami berdua untuk mengamati secara langsung suatu perkembangan apa saja.

Kami juga pernah ditugaskan untuk mengamati bagaimana keberadaan kuburan para pejuang Indonesia yang mati di negeri jiran itu saat konfrontasi dengan Malaysia. Pak Ripto punya niat untuk memindahkan kuburan mereka di Pulau Batam agar mudah diziarahi oleh sanak-saudara mereka termasuk orang-orang Indonesia lainnya.

Beberapa kali pula Pak Ripto menugaskan kami mengamati keberadaan para TKI di Malaysia dan Singapura sebagai bandingan informasi yang dibacanya di media-media. Begitulah Pak Ripto untuk mendapatkan informasi rinci bila hendak memutuskan sesuatu. Biasanya kami pasti membuat laporan dan analisa tentang apa yang kami temukan di lapangan. Boleh jadi, tersebab itulah Pak Ripto suka menugaskan kami untuk urusan-urusan begitu.

Sebagai wartawan, kami menulis liputan dan berita di media kami masing-masing. Tapi sebagai orang yang ditugaskan, biasanya kami juga membuat laporan tersendiri 3-5 halaman. Sayalah yang biasa menulis laporan ini dan setelah dilengkapi oleh Pak Mul, lalu kami tandatangani berdua. Laporan yang ditulis dengan mesin tik itu kami serahkan ke Pak Ripto.

Pada suatu malam sekitar pukul 23.00 WIB menjelang Era Reformasi, melalui ajudan kami dipanggil Pak Ripto di rumah pribadi di Jl. Kelapa Sawit. Pak Ripto memang selalu memilih tempat istirahat di situ.

Sewaktu sudah bertemu, seperti biasa menanyakan perkembangan sosial-kemasyarakatan termasuk pergerakan mahasiswa. Kami berdua memberikan analisis jami sesuai realitas yang kami pahami.

Di sela-sela pembicaraan, tiba-tiba Pak Ripto berkata:

“Mul, Nas…kalian berdua jadi ‘intel’ aku…”

Kami berdua betul-betul kaget. Setelah bubar, Pak Mul berbisik ke saya. “Wahhh…kalau didengar orang lain, bisa-bisa kita dituduh dibayar nahal. Padahal gak ada apa-apa. Kakib bekerja sebagai wartawan secara profesional saja yang punya hubungan baik secara pribadi,” ujar Pak Mul.

Cerita soal ‘intel’ bagi saya terungkap lebih sepuluh tahun kemudian setelah Pak Ripto dan Pak Mul berpulang kerahmatullah.

Aku bertemu sahabat masa kuliah dulu, M. Soewito (kami sama-sama Mahasiswa Teladani di fakultas masing-masing, aku di Faperi, Soewito di Fisipol). Dia bertanya, “apakah Fakhrunnas pernah membuat laporan tugas kepada Gubri Soeripto dulu?”.

Tulisan Terkait

“Ya, pernah. Ada 4-5 laporan sesuai yang ditugaskan,” jawabku.

Soewito tertawa. “Semua laporan itu saya membacanya. Waktu itu saya sempat membantu bekerja di BIN Pusat. Nama Fakhrunnas cukup dikenal Pak Hendro Priyono (Kepala BIN masa itu),” ucap Soewito.

Saya baru ingat apa yang disampaikan Pak Ripto kepada saya dan Pak Mul bahwa kami berdua jadi ‘intel’nya. Tapi sudahlah itu semua masa lalu.

Dalam urusan berhubungan dengan wartawan, Pak Ripto memang pantas memperoleh anugerah Pena Emas dari PWI Pusat. Dalam setiap kunjungan, Pak Ripto sangat proaktif membawa wartawan iktu serta dalam rombongan resminya. Perhatiannya dengan wartawan memang luar biasa.

Soeripto, Gubri
Soeripto, Gubri

Dalam setiap perjalanan, Pak Ripto sering menunda keberangkatan karena masih ada wartawan yang tertinggal. Bahkan sebelum berangkat, Pak Ripto mengecek satu-satu sambil menanyakan : Si anu mana? Kok gak kelihatan?

Begitu pula, soal jadwal makan, Pak Ripto tetap mengecek apakah para wartawan sudah makan atau belum. Pak Ripto sangat memperhatikan hal-hal begini karena wartawan tak boleh sakit bila ingin menjalankan tugasnya dengan baik.
Tapi selain itu, urusan menjalankan tugas-tugas jurnalistik, Pak Ripto selalu mendukung dan memperhatikan secara sungguh-sungguh. Pak Ripto memahami betul bagaimana arti penting suatu publikasi.

Oleh sebab itu, saat makan malam bersama, Pak Ripto secara gurauan menanyakan apa ada masalah dalam hal pengiriman berita. Bahasanya sangat santun. Bila ada masalah, Pak Ripto mempersilakan wartawan untuk menggunakan fasilitas internet di kamar hotelnya.

Saya termasuk yang beruntung, beberapa kali diberi peluang menggunakan fasilitas komputer dan internet di kamar hotel atau ruang kerjanya di luar Pekanbaru untuk merampungkan penulisan berita.

Pernah pula, begitu sigapnya Pak Ripto merespon suatu keadaan dengan mengajak-serta wartawan televisi saat terjadi bencana longsor terbesar di Batam di awal tahun 1990-an. Untuk mengejar kecepatan tayang, sampai-sampai saya diberinya fasilitas naik pesawat mengantarkan kaset video berita. Tapi, akhirnya diputuskan staf humas kantor Gubri saja yang mengantarkan ke TPI pada masa itu karena saya bersama wartawan lain masih punya kegiatan kunjungan mengikuti perjalanan.

Gubri Soeripto berpulang kerahmatullah pada hari Kamis, 7 Januari 2010 sekitar pukul 14.00 WIB dalam usia 75 tahun Suatu usia yang cukup panjang untuk ukuran rata-rata manusia Indonesia. Serasa masih kemarin, Pak Ripto meninggalkan banyak kenangan bersama orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Di tanah Melayu Riau, Pak Ripto berupaya merangkul semua pihak dengan budaya leluhurnya, Jawa yang dipadu dengan pemahamannya mengenai budaya Melayu tempatan.***

Fakhrunnas MA Jabbar adalah wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) PWI.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan