Perjalanan Panjang Meraih PCNO dan Kiprahku di Dunia Jurnalistik (Bagian Kedua): Catatan Fakhrunnas MA Jabbar

90

MEMBANGUN Suratkabar Kampus dan Menjadi Instruktur Jurnalistik

Selain aktif di media nasional, saya juga berperan besar dalam dunia jurnalistik kampus. Saat Surat Kabar Kampus Bahana Mahasiswa didirikan di Universitas Riau, saya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi pertama. Wartawan dan redaksi di Bahana Mahasiswa banyak yang kemudian menjadi wartawan profesional dan bekerja di sejumlah suratkabar lokal dan nasional.

Ketika Rida K. Liamsi mendapat kepercayaan menerbitkan Riau Pos dari Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, saya diminta menjadi salah seorang instruktur pelatihan jurnalistik bagi para redaktur dan wartawan Riau Pos. Beberapa peserta pelatihan yang ikut, seperti Mafirion (kini anggota DPR), Sutrianto Djarot, dan Kazzaini KS, kemudian menjadi wartawan berpengaruh di Riau tersebut.

Kenangan Pahit Waktu Prioritas Dibredel

Tahun 1986, saya melamar menjadi wartawan di Prioritas, surat kabar berwarna pertama di Indonesia yang dipimpin oleh Surya Paloh. Namun, karena kendala biaya, saya tidak bisa mengikuti tes di Jakarta. Sebagai gantinya, saya meminta dilakukan tes jalan berdasarkan karya jurnalistik yang saya kirimkan. Permintaan ini dikabulkan, dan akhirnya saya diterima sebagai wartawan daerah Harian Prioritas.

Namun, perjalanan di Prioritas tidak berlangsung lama. Surat kabar ini dibredel oleh pemerintah akibat kritik-kritik yang ditulis di rubrik ‘Selamat Pagi Indonesia‘ yang kontroversial. Bagi saya, ini menjadi pengalaman pahit yang menunjukkan bagaimana media bisa diberangus sewaktu-waktu.

Beruntung, saya masih bekerja di Majalah Topik dan Panjimas, yang memberi kestabilan dalam karier jurnalistik saya. Tahun 1989, ketika Surya Paloh mendirikan Media Indonesia sebagai kelanjutan dari Prioritas, saya dan hampir semua wartawan daerah kembali bergabung.

Menjadi Wartawan Televisi

Memasuki era televisi berita, saya beradaptasi dengan cepat. Tahun 1995, saya bergabung dengan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) – kelak menjadi MNC TV- sebagai wartawan TV komersial pertama di Riau. Saya juga merekrut kamerawan Abdul Hamid (kini anggota DPD RI) dan Tony Hidayat (kini anggota DPRD Kampar). Memang hampir semua wartawan Media Indonesia di Sumatera direkrut sebagai wartawan TPI.

Tulisan Terkait

Dalam organisasi wartawan, saya aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau. Saya pernah menjabat sebagai Koordinator Bidang Pendidikan, Wakil Ketua Bidang Pendidikan, dan terakhir menjadi anggota Dewan Kehormatan PWI Riau pada masa kepemimpinan H. Dheni Kurnia.

Menjadi Pelopor Media Online

Tahun 2005, saya mulai merambah dunia jurnalistik digital dengan bergabung di media online Riau Satu, yang dipimpin oleh Novrizon Burman. Lima tahun kemudian, saya bersama wartawan senior Yanto Budiman mendirikan media online Tiras Kita.

Setelah itu, tahun 2017, ia bersama beberapa tokoh seperti H. Ian Machyar, Dr. Hadrizal, dan Ridar Hendri mendirikan Tirastimes.com. Saya menjabat sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi. Kemudian bergabung pula di jajaran manajemen dan redaksi Dr. M. Husnu Abadi (semula menjadi Ombudsman) dan Dr. Bambang Kariyawan.

Meraih PCNO di HPN 2025

Perjalanan panjang saya di dunia jurnalistik akhirnya berbuah manis. Setelah puluhan tahun berkarya, saya bersama lima wartawan senior Riau lainnya memperoleh Press Card Number One (PCNO), sebuah penghargaan tertinggi bagi wartawan yang telah menunjukkan dedikasi dan profesionalisme dalam jurnalisme.

Pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Banjarmasin, secara resmi menerima penghargaan ini bersama kawan-kawan wartawan senior lainnya. Penghargaan ini bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan atas kontribusi panjangnya dalam dunia pers.

Perjalananku dalam dunia jurnalistik adalah kisah ketekunan, kerja keras, dan semangat untuk terus berkembang. Dari seorang mahasiswa yang mendirikan majalah kampus, hingga menjadi wartawan di berbagai media nasional dan pendiri media online, telah saya buktikan bahwa dedikasi di dunia pers dapat membawa seseorang ke puncak pengakuan.

Kini, dengan Press Card Number One, semoga bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda wartawan. Jurnalisme bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. *

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah wartawan dan sastrawan, mengabdikan diri di dunia literasi lebih dari 40 tahun.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan