Sekebat Cahaya, Bedah Autobiografi “Dalam Dekap Cahaya”: Oleh Musa Ismail

411

Bismillah,
Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tetapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan.”
Diponegoro
Pahlawan Nasional Indonesia dan pemimpin perang melawan pemerintah Hindia Belanda
(1785 – 1855)

Jalan kehidupan seseorang tentu beragam. Luka, tawa, sedih, atau gembira menjadi pengalaman berharga. Gagal atau berhasil pun sebagai cerminan langkah dalam mendaki puncak. Kita kadang tersandung kerikil atau ranting di saat melangkah dengan tidak hati-hati. Kadang pula, kita bisa melompat kegirangan ketika berhasil meraih sesuatu atau menghindari rintangan. Mulai langkah kecil di usia belia hingga langkah renta saat menua, merupakan riwayat pencarian kehidupan sebelum ajal tiba. Seperti dikatakan seorang sastrawan, sejarah terbentuk dari siklus. Riwayat berputar seperti roda gerobak sapi. Masa baik datang, tetapi nanti masa buruk menggantikan (Goenawan Mohamad). Begitulah kehidupan. Kehidupan kita adalah sejarah dan riwayat kita. Eriyanto dalam buku Analisis Jaringan Komunikasi, autobiografi adalah catatan riwayat hidup yang ditulis oleh diri tokoh itu sendiri. Autobiografi bersifat subjektif karena berasal dari pandangan hidup tokoh itu sendiri (2014). Autobiografi adalah salah satu genre novel yang ditulis oleh pengarang untuk menggambarkan kehidupan dirinya, dan khususnya tentang perkembangan personatitasnya (Anderson dalam Suminto A. Sayuti, 2019:66).

Dalam Dekap Cahaya (DDC) merupakan judul buku autobiografi yang ditulis oleh L.N. Firdaus. Beliau seorang Guru Besar Pendidikan Biologi di Universitas Riau. Lulusan Doctor of Philosophy Sains Agronomi (Ekofisiologi Tumbuhan), Ecole Nationale Superiure Agronomique (ENSA) de Montpellier, Perancis,2002 ini mengemban pengajaran di beragam mata kuliah seperti Filsafat Pendidikan, Isu-Isu Kontemporer Pendidikan, Filsafat Pendidikan Biologi, Manajemen Strategik Profesi Guru Biologi, Fisiologi Lanjutan, Fisiologi Tumbuhan, Ekofisiologi Tumbuhan, Manajemen Perubahan dan Inovasi, English for Biology Teachers, dan Penulisan Karya Ilmiah. Selain itu, tentu saja pensyarah yang sering dicap sebagai dosen killer ini punya berjibun pengalaman pelatihan, baik sebagai peserta maupun narasumber, beragam penelitian dan publikasi ilmiah, proceeding, buku, Book Chapters, dan beragam kreativitas lainnya.

Di bawah judul berbahasa Indonesia, diberi penegasan berbahasa Inggris: Story of My Life. Sampul buku ini bergambar penulisnya sebagai tokoh akulirik yang sederhana dan bersahaja. Isi buku ini diawali dengan beragam pendapat sebagai penegasan terhadap tokoh penulis dengan subjudul Kata Mereka. Subjudul ini memuat (A) Pandangan Akademisi dan Tokoh Pendidikan, (B) Pandangan Sahabat, Rekan, dan Tokoh Masyarakat, dan (C) Pandangan Mahasiswa dan Alumni Binaan. Selanjutnya, ada catatan nostalgia khusus bertajuk Tulang Aheng yang ditulis oleh RazakPurba (Alumni ENSAM, Perancis). Selain itu, autobiografi ini dibagi menjadi tujuh Bab.Yang menariknya, penulisnya terinspirasi dari tujuh ayat dalam Alfatihah. Ada prolog, epilog, pustaka inspiratif, dan tiga lampiran. Bab 1 tentang Awal sebuah Perjalanan; Bab 2 tentang Keluarga dan Masa Kecilku; Bab 3 tentang Perguruan Tinggi dan Awal Perjalanan Akademikku; Bab 4 tentang Mengabdi dan Membentuk Generasi; Bab 5 tentang Dalam Cermin Refleksi: Menjadi, Mengabdi, dan Melampaui; Bab 6 tentang Mewariskan Jejak: antara Karya dan Pengaruh; Bab 7 tentang Hidup dan Ritme Sehari-Hari. Autobiografi ini juga diperkuat dengan kutipan dari Al Quran dan pendapat para pakar yang bernilai filosofis.

Sekitar dua jam saya menikmati DDC di kamar pribadi sembari duduk santai dan terkadang merebahkan diri. Dari judul autobiografi ini, diksi cahaya merupakan diksi kunci untuk memahami isi buku secara keseluruhan. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti diksi cahaya sebagai sinar atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Cahaya adalah simbol utama dari filsafat Isyraqi. Simbolisme cahaya digunakan untuk menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa, zat individual, dan tingkatan-tingkatan intensitas pengalaman mistik. Jelasnya penggunaan simbol-simbol cahaya marupakan karakter dari bangunan filsafat isyraqi. Menurut Al-Ghazali Al-Nur (cahaya) yang sebenarnya adalah Allah SWT. Sebutan cahaya selain Dia hanyalah majaz (kiasan), tak ada wujud sebenarnya.

Pemahaman saya, makna diksi cahaya mengarahkan pembaca pada dua hal, yaitu ilmu dan keyakinan kepada Sang Khalik (ketauhidan) melalui Islam. Frasa dalam dekap bermakna bahwa sesuatu berada dalam pelukan atau dekapan, yaitu merujuk pada suatu keadaan berada dalam rangkulan sesuatu atau seseorang. Tergambar suasana emosional melalui frasa tersebut. Dalam Dekapan Cahaya bermakna bahwa penulis autobiografi ini (L.N. Firdaus) berada dalam pelukan lembut penuh emosional dari dua aspek penting, yaitu dekapan cahaya ilmu dan dekapan cahaya tauhid (Islam). Selama perjalanan pencarian cahaya inilah, akhirnya Beliau menemukan jalan terang dari kesunyian hakikat hidup yang sesungguhnya.

Autobiografi ini laksana suluh di waktu malam dan ibarat tongkat ketika siang. Ada sekebat cahaya bisa kita teladani sebagai nilai jatidiri dalam rentang jalan kehidupan. Pertama, melalui pendidikan dan kerja keras, kita bisa memutuskan rantai kemiskinan keluarga. Kedua, kekuatan kata-kata menjadi tuntunan perjalanan. Ketiga, kita dituntun oleh kekuatan ilmu, pena, dan keyakinan. Bukan oleh kekayaan (harta) atau kekuasaan dan kekuatan (senjata). Keempat, keyakinan yang tertanam sejak awal menjadikan kekuatan kita untuk meraih cahaya. Kelima, cinta dan kasih sayang keluarga, terutama orang tua menjadikan kekuatan bawah sadar untuk meraih suatu keberhasilan. Keenam, mengubah hinaan atau ejekan menjadi penyagang agar tidak tumbang dalam berjuang. Ketujuh, hanya melalui ilmu, kita akan menuju kepada Dia Yang Maha Cahaya, Sang Pemilik Kebenaran. Kedelapan, kerendahan hati, ketekunan, dan pantang menyerah akan menuntun kita memutus jambatan kemustahilan. Kesembilan, setiap tetes peluh dan perjuangan kecil hari ini adalah pijakan untuk langkah besar di kemudian hari. Sekebat cahaya ini hanya sebagian kecil dari lautan filosofi kehidupan dalam autobiografi L.N. Firdaus ini. Semakin dalam kecermatan kita membacanya, kita akan tiba pada palung hati tempat bersemayamnya Cahaya Ilahi, kebenaran sejati. ”Pada yang benar, pantang dialih,” demikian prinsip kehidupan penulis yang lahir di Pulau Singkep, Kepulauan Riau ini.

L.N. Firdaus memiliki keunikan dalam bermain bahasa. Pengungkapannya sederhana sehingga mudah dipaham. Tujuan penulisannya jelas. Sebagai pakar keilmuan, bahasa kepenulisannya tidak sekaku bahasa ilmiah. Beliau meramu sikap ilmiahnya dengan keindahan bahasa sastra. Kita akan menemukan metafora-metafora yang bisa menjadi hempasan gelombang pada pikiran dan perasaan ketika membacanya. Letupan-letupan bahasanya sangat filosofis dan sarat makna. Dalam beberapa perbualan, Beliau selalu mengaku sulit menulis sastra. Namun, sesungguhnya Profesor berjuluk killer ini telah menerapkan nilai sastra melalui autobiografinya.

Ketika membaca autobiografi ini, kita terasa diajak bertamasya di alam sekitar. Sangat kontekstual. Betapa alam terkembang telah mendidik kita untuk menjadi manusia yang kuat. Beragam pengalaman berkebun dan memotong gerah mencerminkan perbuatan berbudi pada alam. Dari sinilah, kita akan tahu betapa ”berdarah-darahnya” perjuangan kita untuk meraih suatu keberhasilan. Kita akan memahami tentang kesulitan hidup, perjuangan, kasih sayang, kesunyian, pencarian, dan takdir Tuhan. Namun demikian, autobiografi ini akan menjadi lebih menarik jika kemunculan nama Firdaus dan kisah hijrah menjadi topik pembahasan pada autobiografi atau tulisan selanjutnya.

Kepada Prof. Dr. Firdaus LN

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

EKSEMPLAR || Yusmar Yusuf

Padamu Jua

Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu.

Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati.

Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas.

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai.

Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu – bukan giliranku
mati hari – bukan kawanku …

Sumber: Nyanyi Sunyi (1937)
(Puisi karya Amir Hamzah)

Alhamdulillah.
Bengkalis, Sabtu, 19 Rabiul Awal 1447/11 Oktober 2025.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan