Jangan Tinggalkan Bahasa Ibu: oleh Syamsul Bahri

21

Tentu kita pernah berjumpa seseorang yang sudah lama merantau dari kampung halaman berubah drastis dalam berbicara. Walaupun tidak banyak tapi fenomena seperti itu pasti kita temukan. Semisal dalam hal berbicara. Jika sebelum pergi dari kampung halaman percakapan menggunakan bahasa daerah yang sangat kental, namun setelah sekian lama menghilang dari kampung halaman dan kembali lagi gaya bicaranya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Hal demikian akan membuat kita menjadi gerah dan tidak nyaman.

Banyak faktor yang membuat orang seperti itu melupakan bahasa lahirnya atau bahasa ibunya. Terkadang orang seperti itu merasa bangga dengan bahasa baru yang diterapkannya. Ia merasa bahasa awal waktu pertama didapatnya di kampung halaman sudah kuno dan tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman. Atau mungkin juga ia sudah terkontaminasi dengan bahasa yang didapatnya waktu merantau. Atau juga ia merasa lebih keren jika menggunakan bahasa asing tersebut.

Padahal bahasa yang pertama kali dipelajari dan dipahami secara alamiah oleh seorang anak adalah bahasa ibu. Dalam konteks Indonesia, bahasa ibu selalu mengarah pada bahasa daerah tertentu (bahasa lokal). Menurut KBBI, bahasa ibu didefinisikan sebagai bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Bahasa ini menjadi identitas, warisan budaya, dan jati diri yang diperoleh selama masa kanak-kanak.

Dan jika kita membaca sejarah, justru banyak orang-orang yang sukses bangga dengan bahasa ibu atau bahasa daerahnya masing-masing. Walaupun mereka sudah melanglang buana dan menguasai berbagai bahasa internasional, tapi ketika kembali ke habitatnya di kampung halaman, mereka tetap bangga menggunakan bahasa asalnya. Bahkan ada sebagian dari mereka yang memperkenalkan bahasa ibunya ke dunia internasional.

Beberapa tokoh sukses di Indonesia yang konsisten melestarikan bahasa ibu antara lain Beiby Sumanti, pendiri Sanggar Bapontar, yang menggunakan bahasa Manado dalam keseharian di perantauan, serta Tabenak Withen Kolago, aktivis yang menulis kamus dan buku pelajaran berbahasa daerah di Papua. Tokoh lainnya termasuk inisiator budaya dan pejabat yang mendukung revitalisasi bahasa daerah.

Selanjutnya Beiby Sumanti (Tokoh Musik/Aktivis) yang merantau ke Jakarta sejak 1979, ia tetap aktif berbahasa Manado dan mendirikan Sanggar Bapontar sebagai wadah budaya. Tabenak Withen Kolago (Aktivis Pendidikan) yang menulis buku pelajaran, termasuk matematika dalam bahasa daerah, untuk mempermudah pemahaman siswa di Papua Pegunungan. Dan Franka Nadiem Makarim (Tokoh Pendidikan), sebagai “Bunda Bahasa Ibu“, ia gencar mengajak keluarga dan masyarakat merawat bahasa daerah sebagai identitas bangsa. (Kompas.id)

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Kemudian contoh yang lain, profesional seperti Asri Hartanti yang berprofesi sebagai guru menunjukkan bahwa menguasai bahasa internasional (Inggris) tidak menghalangi untuk tetap membumi dan menggunakan bahasa sehari-hari. kemudian tokoh multibahasa terkenal, Eddie Izzard menggunakan pendekatan multibahasa namun tetap menempatkan bahasa ibu sebagai basis kognitif. Dan yang paling fenomenal adalah ulama besar dari Palembang, Almarhum K.H. Taufiq Hasnuri selalu menggunakan bahasa ibu ketika memberikan tausiyah. Lalu yang jadi pertanyaan, kenapa kita merasa malu memakai bahasa ibu atau bahasa daerah ketika sudah merasa sukses. Akibat rasa malu itu membuat kita meninggalkan bahasa ibu.

Penyakit menghilangkan bahasa ibu banyak menjangkiti anak-anak zaman sekarang. Dengan seringnya anak-anak zaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial, maka mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.

Pandangan tersebut sebenarnya tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa. Di sinilah peran orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.

Sebagai penutup, penulis ingin mengajak kita semua untuk terus melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah kita. Bahasa ibu yang diperingati secara internasional setiap tanggal 21 Februari itu merupakan identitas kita di mana pun berada. Tentunya juga kita harus selektif ketika menggunakan bahasa ibu dalam pergaulan sehari-hari. kita harus bisa memilih dan memilah lawan bicara yang kita hadapi. Jika kita sedang dalam forum nasional maka wajib memakai bahasa nasional, jika kita dalam forum internasional maka pergunakanlah bahasa internasional, tapi jika kita berada dalam lingkungan keluarga atau masyarakat asal kita dilahirkan maka wajib memakai bahasa ibu atau bahasa daerah.

Intinya kita harus menjadi “bunglon” yang tahu posisi di mana kita berada. Ingat sebuah kata mutiara arab “likulli maqoomin maqoolun, walikulli maqoolin maqoomun” artinya setiap tempat mempunyai perkataan masing-masing dan untuk setiap perkataan memiliki tempat masing-masing.

Syamsul Bahri, Kepala MTs Al-Hidayah Toboali Desa Keposang Kec. Toboali Kab. Bangka Selatan Prov. Babel, 085269381201, syamsulpemulutan81@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan