

Ada perjalanan yang kita jalani dengan kaki, dan ada perjalanan yang kita tempuh dengan hati. Perjalananku menuju Balige adalah pertautan keduanya. Aku datang sebagai tamu di perhelatan Balige Writers Festival (BWF) 2025, yang digelar di akhir Juli hingga awal Agustus Holong (Cinta Kasih) menjadi tema sentral pada kegiatan tersebut. Di dalam ranselku, selain pakaian dan buku catatan, terselip satu kebanggaan kecil yang kusimpan rapi: sebuah puisi epistoler karyaku telah terpilih untuk dibukukan bersama 39 penulis lainnya dalam antologi Balige dalam Puisi.
Perjalanan dari Pekanbaru kumulai dengan bus malam, menembus aspal Lintas Timur menuju Siantar. Dua belas jam di atas kursi yang kadang terlalu tegak membuat punggungku terasa seperti dipahat oleh waktu. Namun, lelah itu luruh oleh rasa ingin tahu yang terus menuntun mataku ke balik jendela: hamparan sawah, perkampungan sunyi, dan deretan ruko yang berkelebat seperti lembaran buku yang dibalik angin.
Di Siantar, aku berpindah ke KBT Superband L300—sebuah moda yang menjadi perantara antara niat dan tujuan. Tiga jam berikutnya adalah tarian kecil antara pedal gas dan rem di jalanan meliuk. Saat memasuki Parapat, Danau Toba muncul perlahan di balik celah perbukitan. Birunya yang pekat menusuk mata, seketika meredakan sisa-sisa letih. Balige sudah di depan mata.
Tujuanku adalah Desa Wisata Lumban Gaol. Setibanya di sana, Kak Milo mengarahkanku ke Homestay Joshua. Aku disambut oleh gonggongan seekor anjing yang tampaknya merasa terganggu oleh kehadiranku. Mungkin ia mencium aroma asing—aroma orang perantauan yang membawa rindu dari tanah Melayu.
Aku berdiri di ambang pintu homestay. Pandanganku terpaku: di sebelah kanan, riak biru Danau Toba membentang luas, hanya beberapa langkah dari kakiku. Di sebelah kiri, hamparan sawah menghijau dipagari Bukit Barisan yang gagah. Di sini, aku merasa seperti baru membuka halaman pertama sebuah buku yang belum kutahu bagaimana akhir ceritanya.
***
Malam pertama di Balige dibuka dengan hangat di Teras Rumah Dinas Bupati Toba yang luas. Di bawah pendar lampu, sastra terasa begitu dekat. Aku menyaksikan Ahda Imran membacakan puisi tentang rindu yang tak pulang, Zuliana Ibrahim menyuarakan luka tanah Aceh, hingga Rio Tamba yang menutup malam dengan narasi kepulangan. Di sini, sastra tidak hanya dibaca; ia bernapas dan mengikat kami dalam satu lingkaran hangat.
Pagi di hari kedua, aku berjalan kaki menuju lapangan hijau desa. Aku melewati deretan pohon kemiri yang berbuah lebat, sesekali masih disambut gonggongan anjing yang sama—penjaga setia desa yang mulai terbiasa dengan langkahku. Di lapangan yang menghadap danau, panggung BWF berdiri megah. Orasi dari Abinaya Ghina Jamela tentang membaca sebagai cara bertahan hidup, serta larik-larik Markus Tamba yang menjahit biografi kampung halamannya, membuatku sadar bahwa setiap sudut Balige adalah bait puisi yang sedang menunggu untuk ditulis.
Jika hari pertama adalah tentang kelas dan wacana, hari kedua adalah tentang Balige sebagai “ruang tamu” yang terbuka. Panggungnya tak berdinding, atapnya langit, lantainya rumput. Bahkan saat makan siang, festival ini menemukan bahasanya sendiri. Di sana, persahabatan baru terjalin tanpa sekat.
Namun, pengalaman sensorik paling membekas terjadi saat makan siang itu. Di hadapanku tersedia sekotak nasi dengan sambal yang aromanya begitu kuat. Intuisiku berbisik: ini dia, andaliman yang tersohor itu. Saat suapan pertama menyentuh lidah, ada rasa getir yang bergetar—perpaduan pedas yang unik dari rempah yang magis itu. Aku jatuh cinta pada getirnya. Meski aku sering melihat andaliman di pasar Pekanbaru, namun aku belum pernah mengolahnya sendiri dan rasanya tak akan pernah sama dengan menikmatinya di tepian Toba. Sambal itu seolah mewakili Balige: kuat, membekas, dan membuatmu ingin kembali.
Hari ketiga membawaku ke kelas Kak Yona Primahesti, “Writing is Healing, Writing is protecting”. Sebuah pengingat bahwa menulis adalah cara kita menyembuhkan luka dan melindungi ingatan. Kelas ini hanya dihadiri beberapa sahabat dari Toba TV dan sahabat nun jauh dari rumah baca dan sekolah di samosir. Di saat yang sama kelas lain juga digelar. Itulah yang menjadikan konsetrasi peserta terpecah.

***
Sebelum perpisahan, kami menyeberang menuju Bukit Tara Bunga. Di atas kapal penumpang, ombak danau terasa cukup kuat, memicu sedikit kengerian di benakku. Namun, melihat peserta lain asyik berpose, kucoba menepis ragu. Di dermaga Tara Bunga, aku melihat kerumunan ikan Red Devil yang berwarna oranye mencolok di sela bebatuan. Aku sempat mendaki bukit itu sendiri, meski tak sampai ke puncak, hanya untuk mendengarkan deburan dan menyaksikan ombak yang memecah tepian. Beberapa anak kecil berdiri di tepian, sepertinya mereka tidak tahan untuk berdiam diri menyaksikan jernihnya air danau. Ya, mereka mandi. Aku ngeri melihatnya. Namun begitulah dunia anak-anak yang dulu kulalui mandi di sungai Indragiri meski predator buaya kerap melintas. Anak-anak, mana peduli.


Kami segera kembali ke dermaga keberangkatan tadi. Perjalanan berlanjut ke Komplek Makam Sisingamangaraja XII di Soposurung. Melewati gerbangnya, aku disambut narasi sejarah yang agung. Sebuah sumur tua bukti sejarah itu pernah ada menyambut di sisi kanan gerbang. Makam bernuansa hitam dengan tiang tegak lurus itu terasa sakral. Di bagian belakang, nuasa merah dan ukiran mendominasi. Makam keluarga raja, Pusara Putri Lopian yang gugur dalam perang itupun berjejer menemani sang Ayah. Di sana, sejarah bukan sekadar teks, tapi tanah yang kupijak.

Di titik akhir, Taman Gurgur, kami berkumpul untuk salam perpisahan. Seorang teman membungkuskan nasi goreng untuk bekal perjalananku nanti. “Bawalah ini, nanti kau kelaparan di perjalanan,” ujarnya tulus. Aku pun membawa pulang buku puisi Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra—sebuah kenang-kenangan fisik yang kelak akan kuuliti maknanya saat tiba di Pekanbaru nanti. Akupun membawa Balige dalam Puisi dan beberapa teman-teman yang merelakan karya mereka kubawa pulang.
***
Di halaman terakhir catatan perjalananku ini, aku menulis: “Balige Writers Festival 2025 mengajarkan banyak hal dan satu hal yang kusimpulkan bahwa literasi bukan sekadar seremoni, melainkan cara kita hidup dengan cinta (holong).”
Aku teringat pada puisi yang kutulis untuk antologi ini. Sebuah puisi epistoler yang lahir dari imajinasi tentang kepulangan, bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kaki di sini. Kini, setelah merasakan dingin kabutnya danau toba, segar dan pedasnya andaliman, dan mencicipi kopi Partungkoan-nya, puisi itu terasa lebih hidup.
PULANG ITU BERNAMA BALIGE
(Fragmen dari Antologi “Balige dalam Puisi“)
“Balige, masihkah danau di pelukmu memantulkan wajah kecilku?
Apakah ikan-ikanmu ingat pada wajahku?
…
Katakanlah pada Danau Toba: jangan larutkan rinduku ke dalam ombaknya.
Biarkan ia tinggal di dasar terdalam, seperti sisa kopi Amang yang tak sempat kuminum pagi itu.”
Melalui puisi itu, aku menyadari bahwa Balige adalah rumah bagi siapa saja yang merawat ingatan. Tak perlu menunggu waktu melipat kota untuk pulang; cukup diam sejenak, dan Balige akan sampai padamu dalam mimpi yang tidak terburu-buru pergi.
Aku menutup buku catatan. Kudekap ia menemaniki yang bersandar pada kursi bus Eldivo menuju tanah kelahiranku, Pekanbaru. Di luar, angin kembali menyapu daun jendela bus yang berkejaran dengan waktu. Balige tetap hidup—ia berdenyut di kepala, bergetar di lidah lewat sastra dan budayanya, dan menetap di langkah para pujangga sebagai lembaran kata yang abadi.
Aku telah sampai di Balige.
