

Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Sebagaimana di maklumi bersama bahwa di 10 malam terakhir dalam bulan Ramadan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Penjelasan tentang malam tersebut dijelaskan oleh Allah SWT kemudian ikuti oleh beberapa hadist nabi Muhammad SAW yang mengisyaratkan bahwa harus berusaha dengan kesungguhan hati, perbanyak doa agar pahala dilipatgandakan dan segala dosa-dosa diampuni.
Ada dua kata kunci yang mau kita jelaskan pada kesempatan ini yaitu Kesungguhan Hati Yajtahidu (يَجْتَهِدُ) dan Ampunan Allah SWT.
Malam Al Qadr secara sederhana di jelaskan dalam QS. Al-Qadr Ayat: 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Lailatul qadri khairum min alfi syahr
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Selanjutnya di dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Taharrau lailatal qadri fil ‘asyril awākhiri mir ramadhān
Artinya: “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2020 & HR. Muslim no. 1169).
Kemudian di dalam Hadist Riwayat Muslim & Ahmad
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا
Kāna rasūlullāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama yajtahidu fil ‘asyril awākhiri, mā lā yajtahidu fī ghairihā
Artinya: “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh malam terakhir, melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya.” (HR. Muslim no: 1175. & HR. Ahmad no: 24314 dan 25010.).
Selanjutnya di dalam Hadist Riwayat Bukhari & Muslim
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man qāma lailatal qadri īmānan wahtisāban ghufira lahū mā taqaddama min dzanbih.
Artinya: “Barangsiapa yang berdiri (menunaikan salat) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR. Imam Bukhari (Shahih Bukhari, No. 1901) dan juga oleh HR. Imam Muslim (Shahih Muslim, No. 760).
Kesungguhan dalam penggunaan penjelasan bahasa arab diatas berasal dari kata Ijtahada (اجْتَهَدَ),Yajtahidu (يَجْتَهِدُ), Ijtihādan (اجْتِهَادًا) yang menunjukkan bahwa kesungguhan Nabi bukan sekadar rutinitas, melainkan pengerahan potensi maksimal yang melampaui kebiasaan beliau di hari-hari biasa.
Makna kesungguhan menurut dimensi Ibadah/Akhlak adalah mencurahkan seluruh energi fisik dan mental untuk beribadah kepada Allah, seperti yang dilakukan Nabi SAW pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Sedangkan makna kesungguhan menurut dimensi Ushul Fiqh adalah mengerahkan kemampuan maksimal oleh seorang ahli hukum (mujtahid) untuk menggali hukum syariat dari dalil-dalilnya.
Dari penjelasan diatas maka di 10 malam terakhir Ramadan, kita sebagai orang yang beriman dituntut untuk dengan kesungguhan hati/ berusaha keras dalam menggapai kemuliaan yang telah dijanjikan Allah SWT. Bukankah kesungguhan hati adalah hal utama yang harus ada di dalam diri untuk melaksanakan segala bentuk ibadah kepada Allah SWT atau menuju sebuah Kemandirian.
Adapun malam Lail Al Qadr adalah kesempatan untuk memperoleh ampunan Allah SWT. Sehingga kita dianjurkan dengan memperbanyak kalimat doa
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī.
Arti: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.” HR. Tirmidzi (No. 3513) dan Ibnu Majah (No. 3850). Imam Tirmidzi
Dalam bahasa Arab, memang ada nuansa makna yang sangat spesifik antara ‘Afwu (عَفْوٌ) dan Istighfar (اسْتِغْفَارٌ). Keduanya sering diterjemahkan sebagai “ampunan”, namun secara hakikat, keduanya memiliki perbedaan mendalam yang penting untuk dipahami.
Akar Kata: Ghafara (غَفَرَ), yang secara bahasa berarti “menutup” (as-satr).
Istighfar kepada Allah SWT bermakna memohon kepada Allah SWT agar menutup dosa-dosa kita sehingga tidak diperlihatkan (dipermalukan) baik di dunia maupun di akhirat. Allah sebagai Al-Ghaffār (Yang Maha Pengampun) akan menutupi aib hamba-Nya dan tidak menghukumnya karena dosa tersebut, namun catatan dosa itu tetap ada dalam catatan amal.
Akar Kata: ‘Afā (عَفَا), yang secara bahasa berarti “menghapus” atau “menghilangkan bekas” (al-mahw).
Mohon ampun kepada Allah SWT bermakna memohon agar Allah menghapus dosa tersebut sepenuhnya hingga tidak ada lagi bekasnya. Allah sebagai Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf) tidak hanya menutupi dosa, tetapi menghapuskannya sampai ke akar-akarnya. Dosa yang sudah di-‘afwu oleh Allah seolah-olah tidak pernah dilakukan, sehingga tidak akan dimintai pertanggungjawaban atau dihisab sama sekali di hadapan-Nya.
Dua sikap kesungguhan hati Yajtahidu (يَجْتَهِدُ) dan bermohon atas ampunan Allah SWT ini, bila di dalam kehidupan ini kita aplikasikan maka tentunya keberhasilan akan mudah didapatkan. Wallahu’alam.
Bengkalis, 07 Maret 2026
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.