Budaya Flexing: Manipulasi Media dalam Perspektif Komunikasi (Sebuah Pemikiran Herbert Marcuse)

336

Flexing, sebuah istilah yang beberapa bulan terakhir cukup santer jadi perbincangan warganet. Bukan hanya soal gaya hidup mewah yang dipandang kurang beretika di kalangan tertentu, tetapi dampak terburuknya menjerat si pelaku ke ranah hukum. Jika tidak berakhir dengan penjara, minimal pemecatan, teguran, pemeriksaan, dan sudah pasti bullying yang menyakitkan sebagai bentuk hukuman moral.
Saya maupun Anda tentunya tak ingin mengalami peristiwa semacam ini, sebab flexing tipis-tipis ini sebenarnya jadi hal yang dilakukan setiap warganet di sosial media. Walaupun tidak masuk dalam definisi khususnya yakni pamer harta dan kekayaan, kecenderungan individu di sosial media sebenarnya ingin menunjukkan eksistensi dirinya dari apa yang mereka miliki.
Terkadang dalam konteks ini tidak lagi mengacu kepada teori dramaturgi Goffman, panggung depan dan panggung belakang yang berbeda. Namun, orang sudah salah kaprah menjadikan front stage dan back stage kehidupan di tempat mana saja yang mereka sukai. Asal viral, dapat follower, dapat cuan, apapun jadi hal yang dipertaruhkan. Jadi sebenarnya masalahnya di mana?


Manipulasi Media dan Kesadaran Palsu
Saat bangun tidur saya secara refleks mengecek story Instagram. Lalu saya mengunggah aktivitas di depan meja makan saat sarapan. Seperti masih terbawa mimpi, dan saya hanya berfokus bagaimana postingan saya itu mendapatkan views dan like yang tinggi dari warganet. Bisa juga saat saya berjalan di pusat perbelanjaan, saya mengunggah status membeli barang branded di status WA. Cepat, refleks, dan tanpa memikirkan efek apapun dari apa yang saya unggah.
Demikianlah fenomena kesadaran palsu. Manipulasi media yang telah menjebak banyak orang meninggalkan etika kesadaran dalam berkomunikasi digital. Apa saja diunggah tanpa memperhatikan lagi nilai etika dan kemanfaatan apa dari sebuah konten di media.
Kondisi ini barangkali yang dikhawatirkan Herbert Marcuse melalui karya fenomenalnya One Dimensional Man (Manusia Satu Dimensi). Dalam pemikirannya ini Marcuse menjelaskan bahwa manusia cenderung digiring untuk mengafirmasi sebuah sistem, bukan melawan. Manusia tunduk dengan teknologi dan menjadi penguasa dari kehidupan manusia itu sendiri. Ketundukan yang terbangun dari kesadaran palsu manusia dalam menggunakan teknologi.
Lebih parahnya lagi, kegagalan banyak orang dalam memahami etika berkomunikasi digital menyebabkan teknologi berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Alih-alih ingin populer, membangun branding, terkesan wah di media sosial, malah berujung dengan kondisi mengecewakan.
Inilah yang terjadi pada pelaku flexing. Kita barangkali hari ini masih beruntung belum senaas Ngabila Salama, keluarga Sekda Riau, Rafael Alun, dan seterusnya. Namun, jika prinsip kesadaran ini semakin kita abaikan, bukan mustahil suatu ketika kita juga akan terjebak dalam manipulasi media yang ada.
Pengelolaan kesan (management impression) yang gagal sebab ternyata persepsi warganet tidak bisa kita atur sesuai dengan apa yang kita inginkan. Niat hati ingin dikesankan sebagai seorang yang keren, sukses, kaya, dan sebagainya, yang terjadi justru kesan buruk, mendapatkan harta dengan cara tidak halal, dan sebagainya. Inilah fakta yang sering terjadi dan perlu menjadi perhatian pengguna media sosial.

Berita Lainnya


Kembali ke Etika Komunikasi Digital
Di dalam modul Etis Bermedia Digital Kominfo dijelaskan bagaimana etika komunikasi digital yang seharusnya dilakukan warganet. Mulai dari kesadaran, kebajikan, tanggungjawab, dan integritas.
Kebajikan adalah kebermanfaatan dari sesuatu yang kita lakukan di media digital. Integritas adalah soal kejujuran, dan tanggungjawab adalah soal bagaimana sikap yang harus kita ambil ketika kita melakukan pelanggaran etika komunikasi.
Berawal dari kesadaran yang kuat, maka aktivitas bermedia sosial bisa selamat. Flexing atau apapun masalahnya, bisa kita cegah dengan pertama kali membuka kesadaran pikiran dalam bersosial media. Sebab kita tak ingin menjadi manusia satu dimensi yang tunduk kepada teknologi. Teknologi harus di tangan kita, bukan kita yang digerakkan oleh teknologi.

(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena Sugiarti. Penulis merupakan penggiat literasi. Aktif di Forum Lingkar Pena, founder Ayse Brand, dan saat ini tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Riau).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan