

Setahun yang lalu, puisi ini selalu muncul ke permukaan, Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita. Ada puisi yang juga terkenal yang ditulis tahun 1998 yang ditulis oleh penyair besar Indonesia Taufiq Ismail yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Tahun ini, kembali soal puisi dengan judul MALU itu kembali muncul, dan dalam berbagai WAG selalu terjadi kekeliruan yang sangat mendasar dimana penulis puisi dimaksud dinyatakan sebagai karya Taufiq Ismail.
Sebetulnya puisi yang berjudul Jangan Teriak Merdeka Malu Kita, ditulis tahun 2019 oleh seorang dosen bergelar Doktor di Univ. Ibnu Chaldun Bogor bernama Ahmad Sastra.
Di kalangan dunia sastra Ahmad Sastra sebetulnya terbilang baru dan mungkin juga belum banyak dibicarakan oleh kritikus sastra papan atas.
Namun karena salah satu puisinya yang berjudul sangat menggugah itu, apalagi bila dibacakan di forum dan majelis yang suka kritis, maka puisi ini punya daya dobrak yang menjanjikan.
Namun sayang banyak publik yang keliru menisbahkan siapa pengarang puisi ini, dengan hanya mengingat nama besar penyair Taufiq Ismail yang kebetulan memang menulis puisi yang menggunakan kata M-A-L-U.
Kedua puisi ini memang sama- sama menyatakan merasa malu, yang satu (TI) merasa malu sebagai bangsa Indonesia, karena sejumlah kemunduran karakter ….. sedangkan yang lain (AS) menyerukan agar kita jangan teriak Merdeka, karena hal itu buat kita MALU.
Karena apa? Karena utang kita, hutan kita, TKI kita, kekayaan alam kita, … semuanya itu memang memalukan sehingga membuat kita tak layak berteriak MERDEKA.
Kalau ada film yang berjudul Bayi yang tertukar, sedangkan ketika UAS bertemu dengan Sandiaga Uno, dengan mengatakan Cawapres yang tertukar, maka judul puisi yang menggunakan kata MALU diatas boleh disebut sebagai nama Penyair yang tertukar.
Hanya soalnya, mengapa.nama Dr. AHMAD SASTRA selalu ditukar dengan nama Taufiq Ismail, khusus untuk penyebutan nama penyair yang memakai kata MALU itu ???
(Catatan Husnu Abadi, Penulis Buku Puisi Lautan TAJ MAHAL 2022, tinggal di Pekanbaru)