Kurikulum Sastra di Sekolah: Catatan Shafwan Hadi Umry

125

Di sekolah menengah, sastra muncul sebagai ilmu. Sebagai ilmu sastra mementingkan kejelasan dan penalaran. Namun kejelasan inilah yang kurang terlihat dalam apresiasi sastra. Dalam ilmu, pengajaran bersifat penalaran dan mudah dijabarkan. Sedangkan dalam apresiasi sastra yang penting adalah dominasi kepekaan penghayatan dibandingkan dengan dominasi nalar. Oleh karena ia bertolak dari peng-hayatan maka ia lebih mudah dirasakan daripada dijabarkan.

Permasalahan sastra sebagai ilmu dan sastra sebagai karya seni yang menuntut penghayatan menimbulkan kesulitan bagi guru yang mengajarkan apresiasi sastra di sekolah lanjutan. Namun demikian hal tersebut tidak menimbulkan sikap rendah diri dan sikap konservatip bagi guru dalam mengajarkan apresiasi sastra. Oleh karena sastra adalah mahkota bahasa. Ibarat seorang raja tanpa mahkota maka bahasa tanpa sastra akan menimbulkan kemarau kata-kata. Jantung bahasa adalah sastra dan bukan tata bahasa.

Menggunakan puisi, prosa dan drama kreatifitas siswa dapat dipupuk dan dikembangkan. Jika guru mementingkan kreativitas karya sastra maka ia harus menahan diri untuk mengajarkan konsep atau istilah yang verbalis. Bersastra artinya dapat melakukan proses kreatif menciptakan karya sastra dan dapat juga berarti menikmati dan mengapresiasi karya sastra secara aktif dan kreatif, sehingga terjadi keterlibatan mencintal spritual seseorang terhadap karya sastra tersebut.

Berikut ini disajikan strategi guru dalam menciptakan dan mengembangkan kreativitas siswa. Guru hendaknya menciptakan suasana seperti berikut ini. (Williams, 1970).

(1) Paradoks, artinya guru memberikan dugaan yang mungkin saling bertentangan: misalnya siswa selalu patuh bebas mengungkapkan pikirannya.
(2) Atribut, artinya ciri-ciri atau identitas yang mencerminkan lambang,
(3) Analogi, artinya situasi serupa, kesamaan hal-hal, membandingkan suatu hal dengan hal lainnya;
(4) Diskrepansi, artinya ketidaksesuaian karena ada bagian yang kurang dalam informasi.
(5) Pertanyaan yang bersifat provokatif;

Penjabaran yang dilakukan dalam teknik guru membimbing. siswa ini sebenarnya masih dapat dilanjutkan lagi seperti, tenggang rasa terhadap makna ganda, artinya memberikan kesempatan siswa untuk memberikan bermacam-macam interpretasi; mempelajari tokoh-tokoh kreatif dan proses kreatifnya, melatih membaca dan menulis kreatif dan melatih visualisasi.

Pengajaran Apresiasi Puisi

Pengajaran apresiasi puisi bertujuan membina apresiasi puisi dan mengembangkan kearifan manusia dalam menangkap isyarat-isyarat kehidupan. Paling sedikit puisi sebagai salah satu bentuk sastra yang tertua dalam sejarah kesusasteraan meliputi empat manfaat, yakni penunjang keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan rasa dan karsa serta pembentukan watak.

Dengan penyimakan pembacaan puisi, seseorang sesungguhnya terlihat dalam proses berpikir (keterampilan menyimak) yang memungkinkannya secara mandiri mampu membaca puisi (keterampilan membaca). Selanjutnya terlibat dalam kegiatan diskusi (keterampilan berbicara) dan menganalisa puisi (keterampilan menulis).
Kritikus I.A. Richards menjelaskan, suatu puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema (yaitu mengenai inti pokok puisi itu), perasaannya (sikap sang penyair terhadap bahan atau obyek), nadanya (yakni sikap penyair terhadap pembaca) dan amanat (yaitu maksud atau tujuan sang penyair).
Pada umumnya para penyair: mengatakan lebih banyak daripada yang dikandung oleh katakata atau kombinasi kata yang tersurat pada puisi mereka. Dengan kata-kata yang sedikit mungkin penyair ingin melukiskan sesuatu dengan sejelas dari seluas mungkin.

Di sini diturunkan sebuah puisi sebagai apresiasi puisi:

Tuhan, Kita Begitu Dekat
Oleh : Abdul Hadi W.M.
Tuhan
Kita begitu dekat 
Sebagai api dengan panas 
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat 
Seperti kain dengan kapas 
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat 
Seperti angin dan arahnya 
Kita begitu dekat

Dalam gelap 
Kini aku nyala 
Pada lampu padamu.

Kesan yang terdapat dalam puisi di atas betapa dekat; manusia dengan Tuhannya. Sikap penyair akrab dengan Tuhan dan memilih citra lihatan (imaji visual) api dan panasuntuk menyatakan kedekatan itu. Karena panas itu berasal dari api, manusia itu berasal dari Tuhan semangat ketuhanan seseorang berasal dari iman Tuhan. Seseorang yapg beriman dan merealisasi imaji kehidupan bagaikan api Tuhan yang menerangi dunia dan juga memberikan rasa panas atau hujan pada kemanusiaan. Penyair mengumpamakan dekatnya manusia dengan Tuhan sebagai angin dan arahnya.

Angin jelas punya arah yang pasti bila bertiup, yaitu kesatu tu¬juan. Begitu pula manusia yang khusuk memuja Tuhan tujuannya jelas satu yakni Tuhan. “Dalam gelap/Kini aku nyala/Pada lampu padammu”. Orang yang dekat atau beriman pada Tuhan, tenteram tinggal bersama Tuhan, bagaikan cahaya yang mampu memberikan nyala kepada lampu yang telah padam, lampu kepercayaan.

Demikianlah sedikit pengantar yang sederhana membangkitkan minat siswa dalam berapresiasi puisi khususnya dan umumnya pelajaran sastra yang lain.

*Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan