Dengan Semangat Pembauran, Danrem 031 Wirabima : Keberagaman menjadi sumber kekuatan berbangsa dan bernegara

PEKANBARU – TIRASTIMES || Seminar Forum Pembauran Kebangsaan menjadikan budaya sebagai panglima Pembangunan dengan tema “Penguatan Nilai-nilai Kebangsaan Kader FPK”, yang di taja oleh Forum Pembauran  Kebangsaan (FPK) Dibuka langsung oleh Damrem 031 Wirabima Brigjen. TNI Inf  M. Syech Ismed SE, M.Han pada Senen, (7/12/2020)

Pada seminar yang dimoderatori oleh Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Ir. A.Z. Fachri Yasin, M.Agr  menghadirkan Narasumber Kaban Kesbangpol Provinsi Riau Drs. Kaharuddin diwakilii Kabid Idiologi dan Wawasan Kebangsaan Sri Petri Haryanti SPd , M.Pd,Damrem 031 Wirabima Brigjen. TNI Inf M. Syech Ismed SE, M.Han,  dan Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom

“Dengan semangat pembauran tentu saya yakin dan percaya bahwa komitmen kita terhadap bangsa indonesia, terhadap pancasila semuanya hadir diruangan ini, ucap Danrem 031/Wirabima.

Dia mengakui bahwa seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, musyawarah mufakat yang sangat dikenal di Indonesia sudah mulai hilang. “Saya tidak mengatakan sudah tidak ada lagi, tapi sudah mulai terkikis, terdegradasi, mengalami kelunturan,” jelasnya

Dikatakan, hal itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena akan habis, sebab budaya bangsa Indonesia harus terus dikembangkan karena didalamnya terdapat banyak keberagamaan yang menjadi sumber kekuatan berbangsa dan bernegara. “Itu jangan dibiarkan berlarut-larut, karena akan melemahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat kita berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Danrem juga menyampaikan tentang nilai 4 konsensus nasional yaitu Konsensus Dasar Bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan mengimplementasikan Paradigma Nasional, yaitu Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, dan Kewaspadaan Nasional. 

Disela Seminar yang berlangsung Danrem 031 Wirabima juga memuji Penegakan Protokoler Kesehatan dalam acara Seminar Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi Riau.

“Dalam perjalanannya, 4 Konsensus Dasar Bangsa dan Paradigma Nasional akan selalu menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Oleh karena itu kita perlu untuk waspada, bersiap-siap apabila menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Budayawan/Wartawan Senior Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom  “Dalam memperkuat upaya pembauran dan semangat kebangsaan diterbitkanlah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembauran Kebangsaan di Daerah ditegaskan bahwa pembauran kebangsaan adalah proses pelaksanaan kegiatan integrase anggota masyarakat dari berbagai ras, suku, etnis, melalui interaksi sosial dalam bidang Bahasa, adat istiadat, seni budaya, pendidikan dan perekonomian untuk mewujudkan kebangsaan Indonesia tanpa harus menghilangkan identitas ras, suku dan etnis masing-masing dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pedoman FPK, 2013).

“Oleh sebab itu, kebhinnekaan bangsa Indonesia tak bisa lepas dari usaha pembauran dan semangat nasionalisme bersama. Setiap warga Indonesia merupakan tubuh yang satu dan tak bisa dipisahkan oleh kekuatan apa pun. Rasa nasionalisme dapat pula ditumbuhkan melalui pemahaman dan kepatuhan pada konsensus dasar negara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika” tegasnya.

“Pendapat Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menyatakan nasionalisme adalah pilar kekuatan bangsa-bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan”. tambahnya.

“Pembentukan organisasi FPK yang menghimpun seluruh paguyuban etnik di semua daerah dalam wilayah NKRI merupakan sebuah keniscayaan untuk mengikat hubungan baik antar etnik dan saling menghormati dan menghargai. Permendagri menegaskan dalam rangka pembinaan penyelenggaraan pembauran kebanini gsaan, gubernur melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan FPK di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dapat saling berkoordinasi dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dapat menghasilkan rumusan rekomendasi yang komprehensif dan strategis sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan terkait pembauran kebangsaan”. ungkap Fakhrunnas MA Jabbar (hs)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan