Pentigraf : Pesan Ayah – Lusa Indrawati

Foto stok gratis alam, anak, anak perempuan

Pesan Ayah

Langit hari ini begitu kelabu. Udara dingin menusuk tubuh. Perlahan, hujan turun sore ini. Aku masih bergeming di depan kaca jendela kamarku. Memandangi rintik air yang mengalir pada pohon-pohon, dedaunan dan jalan setapak. Suara tetes airnya membentuk melodi. Berdenting di atas atap-atap rumah, mengetuk setiap kaca jendela. Begitu menenangkan dan menyejukkan. Entah kenapa disaat hujan turun, aku merasa masalah yang kumiliki seperti luruh bersama derai air. Terasa ringan dan bebas. Hanya ada harapan dan kesempatan. Begitulah hatiku merasakannya. Hari ini adalah hari yang paling berat bagiku. Hati mana yang tidak tertusuk saat orang yang kau sayangi melukaimu dengan perkataan pahit. Hati mana yang tidak menangis disaat kau butuh sandaran, seseorang yang kau percaya justru meremehkanmu. Hanya ada kesedihan dan tangis menghujam.
“La, apa kamu sudah memutuskan mau kuliah ambil jurusan apa ?”
“Bu, Ela mau kuliah ambil jurusan sastra. Ela suka sekali dengan menulis. Ela mau jadi penulis. Bagaimana menurut ibu ?”
“Bodoh kau La, untuk apa kau ambil jurusan yang tidak menjanjikan. Masa depanmu pasti suram. Apa kamu tidak tahu, menulis itu tidak bisa menghasilkan banyak uang. Ibu lebih setuju kamu kuliah di bidang apoteker saja.”
“Tapi Bu, bukannya setiap anak berhak untuk memilih apa yang mereka suka. Selama hal itu positif kenapa tidak. Bukankah ibu ingin aku bahagia dengan pilihanku ?”
“Dasar kamu anak keras kepala. Tidak ada di dunia ini orang tua yang ingin menjatuhkan anaknya. Ibu berkata seperti itu, supaya di masa depan nanti kamu punya pekerjaan yang jelas dan terjamin. Bukan seperti impian konyolmu itu.”
“Tapi Bu ?”
“Tidak ada tapi-tapian. Kalau kamu nekat ambil jurusan sastra , cari sendiri biayanya. Ibu tidak mau ikut campur .”

        Mendengar perkataan ibunya, gadis yang akrab dipanggil Ela berlari menuju kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sedih. Hatinya terasa sakit. Bagaimana bisa orang yang paling ia sayang berkata hal yang menyakitkan. Bagi Ela menulis bisa membuatnya lebih hidup. Semenjak ayahnya meninggal karena kecelakaan, ia merasa kesepian. Ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Sehari-hari Ela membantu ibunya berjualan baju di pasar. Setelah ia lulus sekolah menengah, Ela ingin sekali menekuni hobinya menulis ke jenjang yang lebih tinggi. Ela ingin mewujudkan impiannya untuk menjadi penulis yang handal dan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

           Hujan masih belum reda. Begitu pun juga dengan air mata gadis itu yang masih mengalir. Kini, ia sedang mengalami dilema. Apakah ia harus menuruti perkataan ibunya ataukah hatinya. Ia takut jika keputusan yang ia ambil, akan menyakiti hati ibunya. Namun disisi lain, jika dia menuruti perintah ibunya bagaimana dengan impiannya. Apakah ia harus melepas mimpinya. Menghadapi masalah seperti ini, Ela merindukan ayahnya. Tempat ia berkeluh kesah dan menjadi pelindungnya. Melihat hujan, Ela merindukan masa-masa bersama ayahnya. Saat memori Ela memutar kenangan ayahnya, tiba-tiba ia teringat sebuah pesan.
“Jika suatu hari nanti ayah tidak bisa menemanimu, di mana pun kamu berada
jadilah versi terbaik dari diri kamu. Jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu. Ayah ingin bilang bahwa ayah bangga memiliki anak sepertimu”
. Teringat pesan ayahnya, Ela mengusap air matanya.
“Terimakasih ayah“. Kata itu lolos dari bibirnya. Sepertinya ia sudah mendapat jawaban dari masalahnya

Lusa Indrawati, seorang gadis pluviophile yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Saat ini masih aktif tergabung dalam anggota COMPETER (Community Pena Terbang), KEPUL (Kelas Puisi Alit) dan TIRASTIMES. Beberapa karyanya juga tergabung dalam buku antologi. Masih aktif juga menjadi author di redaksi IB.Times.id untuk menulis artikel. Salam Literasi dimanapun semoga selalu menginspirasi.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan