Esai : Daya Gugah Bahasa dalam Ruang Kreatif Visual – Riki Utomi

Daya Gugah Bahasa dalam Ruang Kreatif Visual

oleh Riki Utomi

Antara Akar Terawat dan Rapuh

Bahasa itu fleksibel; lentur, luwes, dan tidak kaku. Ia juga “bernyawa” karena dapat hidup dan mati, sesuai sejauh mana orang mau memakainya/menggunakannya. Penggunaan bahasa (dalam hal ini kalimat atau kata) dirasa menjadi hidup oleh sebab para pengguna (kita) merasa “sedap” pada saat menggunakannya. Didorong pula oleh sesuatu yang menyelaraskan pemakaian bahasa itu. Semisal adanya penyuluhan pentingnya mengucapkan bahasa dalam ragam baik formal atau non formal, atau bagaimana ragam resmi dan tidak resmi—semua memiliki batasan dan kebijakan. 

Bisa jadi suatu bahasa dapat memudar oleh sebab tidak ada lagi penutur asli yang menggunakannya dalam proses komunikasi lisan. Hingga ia hilang dan hanya menjadi slogan-slogan dalam kepentingan tertentu. Dapat kita lihat semisal, bahasa latin yang kini hanya memperkuat penamaan dalam ruang lingkup ilmu biologi atau kedokteran. Bahasa latin merupakan bahasa ibu dari banyak bahasa Eropa, namun sekarang bahasa ini tidak digunakan lagi dalam komunikasi sehari-hari. Perlahan-lahan tidak ada orang yang berbicara dalam bahasa latin sejak setelah kekaisaran Romawi runtuh. Namun bahasa ini turut menjadi pengaruh dalam munculnya bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Portugal, dan Rumania. Dalam tubuh bangsa kita, bahasa sansekerta yang banyak menjadi acuan bagi komunikasi kerajaan-kerajaan kuno Nusantara juga mengalami nasib yang sama. Ia hilang di telan zaman. Saat ini hanya memperkuat penamaan pada slogan-slogan pemerintahan baik lembaga instansi pemerintahan ataupun lembaga instansi militer dan kepolisian. Kalimat “Tut Wuri Handayani” yang menjadi motto dalam pendidikan memiliki arti (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), atau dalam korps TNI seperti Angkatan Darat dengan slogan “Kartika Eka Paksi (burung perkasa tanpa tanding), “Jalesveva Jayamahe” pada Angkatan Laut (di lautan kita jaya), juga dalam Angkatan Udara “Swa Bhuana Paksa” (sayap tanah air), begitupun dalam lambang Kepolisian semboyan “Rastra Sewakottama” (abdi utama nusa dan bangsa). 

Sedang pada bahasa yang hidup, ia akan terus memberikan daya dukung dalam porsi-porsi penuturnya. Ia juga, boleh jadi, rela diutak-atik, diubah-suai, dipreteli, atau direnovasi menjadi bahasa yang dinamis namun utuh dan terarah untuk digunakan. Bahasa Indonesia menjadi cerminan dalam hal ini. Dibentuk dari bahasa Melayu yang sejak dulu menjadi bahasa perantara (lingua franca) hingga terus digunakan oleh penutur. Hebatnya, bahasa Melayu (dalam hal ini Riau) sangat fleksibel, lentur, tidak kaku, dinamis, mampu dituturkan tanpa repot oleh “njelimet” masalah tata bahasa atau tingkatan kasta-kasta, juga tidak mengenal banyak penempatan kata dalam posisi obyek penutur. Selain menjadi bahasa penghubung oleh lintas entis di Nusantara, bahasa Melayu juga dirawat oleh para munsyi dan pujangga kerajaan. Mereka (para petinggi istana) cukup jeli dan cermat untuk merawat bahasa itu dan mengemasnya ke dalam ragam tulis hingga menjadi karya-karya yang bernas. Sebut saja semacam Salalatus Salatin, Tuhfat al Nafis, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan Gurindam Dua Belas yang melegenda itu yang masih bergema hingga kini.

Bahasa yang demikian menjadi pemicu dalam menjembatani pendidikan pada masa itu. Pendidikan yang menjadi ruh bagi kalangan kaum kelas atas untuk terus mengasah sekaligus berjuang dalam menentang kolonialisme penjajah. Sejarah juga begitu cepat berlari mengejar estafet peristiwa demi peristiwa kehidupan. Kaum muda seperti Muhammad Yamin bersama kawan-kawannya, sebelum kemerdekaan, bukan tanpa alasan menjadikan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu itu menjadi bahasa pemersatu untuk membangun negeri ini. Keputusan mereka sudah tentu berlandaskan mufakat yang mantap dan penuh perencanaan, sekaligus kebersamaan dalam tekad. Maka, gegap gempitalah bahasa nasional ini menjadi bahasa pemersatu yang mampu dimiliki oleh segenap manusianya.

Bahasa yang Bersilat

Bahasa ibarat seorang pendekar, yang memiliki kekuatan kanuragan yang bagus. Kekuatan bahasa terletak dari makna yang dituturkan dari kata-kata pilihan oleh penutur. Soekarno pernah bilang, “Berikan Aku sepuluh pemuda. Maka akan Aku guncang dunia ini!” sambil mengepal tangan ke udara. Abraham Lincoln, sang mantan Presiden Paman Sam yang melankolis itu, pernah berkata, “Seorang sahabat adalah yang memliki musuh yang sama, seperti yang anda miliki.” Albert Einstein sang ilmuan terkemuka nyentrik itu, pernah berujar, “Imajinasi adalah segalanya. Ini adalah tampilan atraksi yang akan datang dari kehidupan.” Masih banyak lagi kata-kata bijak yang diucapkan para tokoh berpengaruh yang menunjukkan bahwa mereka menggunakan kekuatan bahasa dalam menyalurkan keilmuannya, dan kekuatan bahasa dapat menjadi dahsyat untuk menyuarakan perlawanan membela martabat dan harga diri bangsa. Bukankah kita masih ingat dengan Bung Tomo yang melalui pidato berapi-apinya mampu membakar semangat anak-anak muda—yang bahkan sama sekali tidak memiliki pengalaman perang, pun sekadar untuk memegang dan menggunakan senjata—mampu spontan ikut berperang di garis depan menghadapi serangan Agresi Militer Belanda yang menyerang dari segala penjuru; darat, udara, dan laut. Maka, begitu sugestifnya bahasa yang mereka gunakan itu.

Kekuatan bahasa juga ibarat orang yang bersilat. Memiliki ilmu persilatan merupakan sesuatu yang berharga yang dapat membentengi diri. Tokoh-tokoh nasionalis dahulu adalah orang yang lihai atau mahir dalam menggunakan bahasa. Suatu kisah tentang sosok negarawan Haji Agus Salim (sosok inteletual muslim dan pejuang tanah air) dengan ciri khas berjanggut halus menjuntai runcing ke depan. Pernah suatu kali dalam menghadiri sidang/kongres besar di majelis PBB. Ia diejek ketika sedang menuju panggung. Ia mendengar dan sangat tahu bahwa orang-orang kulit putih itu mengejeknya sambil berkata “embek…embek….”. Namun, apakah Haji Agus Salim berdiam diri? Justru beliau membalas sangat halus sekali dengan berkata, “Saudara-saudara sidang yang terhormat. Sungguh sangat disayangkan bahwa di dalam ruangan semulia ini ternyata ada juga kambing-kambing yang ikut rapat.”

Memang, bahasa turut menjadi salah satu kekuatan (senjata) bagi para kaum intelektual tanah air. Kekuatan bahasa mereka mampu mematahkan keangkuhan kaum penjajah yang licik dan temperamen. Soekarno dijuluki “Singa Podium” dan Hatta yang lihai dalam menuangkan pemikiran di atas kertas. “Anda boleh memenjarakan saya, namun selama saya di penjara bersama buku, maka saya bebas!” Teriak Hatta tak gentar.

Lalu sejauh mana bahasa dapat “bersilat”? Hal ini bukan bermaksud bersilat lidah, tetapi “bersilat” dalam membantu meneguhkan jati diri sebagai manusia utuh, yang tak gampang disepelekan atau dilecehkan. Seperti kisah Haji Agus Salim di atas. Maka bahasa yang bersilat dapat dituturkan dengan hati lapang tanpa terburu-buru namun terkendali dalam irama yang teratur, hingga menjadi sebuah pameo yang indah namun tetap menohok.

Berbicara perihal pameo barangkali tidak segampang seperti melepaskan kata-kata yang biasa kita sebut. Pameo kadang tidak mudah untuk dirancang, ia membutuhkan kekuatan makna—terlepas negatif atau positif—yang nantinya mampu diterima oleh kebanyakan orang, sekaligus menjadi “asyik” untuk diucapkan dalam bentuk arti “kemanasukaan” dari si penutur itu.

Pameo atau pemeo (KBBI ed. 3) mengandung arti noun Perkataan yang lucu (untuk menyindir dsb.) misal, undang-undang hanya berlaku untuk rakyat kecil. Dalam sumber lain disebutkan, pameo atau pemeo merupakan kelompok kata atau kalimat yang menyatakan maksud, ataupun hal yang menyatakan maksud. Arti lain, disebutkan pameo juga bisa menjadi semboyan dalam memotivasi dan membakar semangat.

Bercermin dari arti di atas, ada satu hal yang saat ini menjadi tren untuk diucapkan. Tren yang berarti “selalu menjadi perhatian atau sering digunakan”, dapat pula mengacu kepada istilah saat ini “viral” yang senada dengan “ngetop”, “populer” karena sering diucapkan. Sebuah kata sederhana /mewah/ yang lazim diucapkan berulang /mewah-mewah/ yang akhirnya membentuk reduplikasi. Sebagai kata yang “bermetamorfosis” menjadi reduplikasi (kata yang mengalami proses pengulangan) menjadikan frasa /mewah-mewah/ semakin asyik untuk diucapkan—dalam konteks apapun. Hemat saya, frasa /mewah-mewah/ ini termasuk ke dalam bentuk Dwilingga (kata ulang utuh atau penuh). Reduplikasi pada kata ulang utuh ini terjadi pada semua atau keseluruhan kata. Sebagaimana juga /rumahrumah/, /tinggi-tinggi/, /sama-sama/, /macam-macam/, dll. Lalu, mengapa /mewah-mewah/ begitu menjadi viral diucapkan? Hal ini terjadi—sebagaiamana kita tahu—faktor cerita fiktif yang turut memviralkan frasa itu. Tidak dapat dinafikan bahwa karya fiksi mampu berperan—secara tak langsung—mempopulerkan sebuah kata yang memiliki kesan.

Tangan-tangan kreatif para sineas itu mungkin tak sadar telah memberi daya gugah pada bahasa. Meski melewati sebuah video (film?) pendek fiktif. Mereka memainkan unsur humor dari sudut pandang kata-kata. Singkat cerita, seorang pegawai negeri berpangkat tinggi dalam sebuah kantor dinas instansi yang merasa kurang senang pada sikap kerja bawahannya. Suatu ketika ia marah sambil mengucapkan kata “mewah-mewah” tapi dengan maksud untuk memberi motivasi (dapat pula semacam “janji”) pada anak buahnya itu. Hingga gayung bersambut dalam kerja sama. Si anak buahnya yang karyawan honor itu pun bangkit lagi menyelesaikan tugas dengan baik. Tetapi sang bos ternyata hanya manis di mulut dari ucapan “mewah-mewah” itu, hanya janji mentah. Si anak buah pun mendapat tugas yang lebih banyak kembali dan lebih berat lagi juga diminta untuk menyelesaikan tugas itu dalam satu hari. Sedangkan sang bos hanya mampu menyuruh sambil terus menjanjikan sesuatu bonus dengan kata “mewah-mewah”; yang seolah kata itu menjadi pamungkasnya. Bahkan ketika sang bos mau beranjak pulang, ia malah balik lagi menuju anak buahnya yang masih geleng-geleng kepala dan berat hatinya menyelesaikan tugas laporan itu. Sambil celingak-celinguk penuh waspada sang bos diam-diam berbisik “pakai lime puluh dulu…” (dengan alasan untuk minyak sepedamotor) yang membuat anak buahnya terperanjat dengan raut tambah mengkerut. Akhirnya dengan berat hati anak buahnya mengambil dompet sambil turut melampiaskan kesal dengan ucapan menyindir “mewah… mewah….”

Disinilah punca frasa /mewah-mewah/ itu menjadi sebutan khas. Terlepas ia (kata itu) tepat sasaran ditujukan sebagai pameo atau tidak, bergantung pada penutur dan sepertinya dalam proses ujar, hal itu terlepas bebas. Boleh jadi terlepas keluar menuju ke bentuk pameo karena dalam segala hal kita asyik menggunakannya tanpa mempertimbangkan konteks keadaan.

Namun secara sadar atau tidak, video pendek lawak Melayu itu, mampu memberikan kontribusi pemakaian kata. Kata yang mampu memberi daya pikat yang berkesan di hati hingga dapat menjelajah ke banyak orang untuk asyik mengucapkannya. Terlepas sejauh mana kata itu dapat bertahan, bergantung para penutur yang mengucapkannya dalam segala konteks pergaulan. Bisa jadi, suatu saat nanti muncul frasa-frasa lain yang juga dapat menjadi viral (yang pada umumnya dibuat dengan cara tak sengaja) tentu pula dibarengi sarana kreativitas baik dalam bentuk cerita visual ataupun cerita tulisan (teks), yang kedua-duanya sama-sama berbentuk fiktif.

Kita nantikan saja kreativitas anak-anak muda kita dalam bermain dengan bahasa. Atau kita masih asyik untuk bersenyum-ria mengucapkan “mewah-mewah” dalam momen-momen tertentu, tentu boleh-boleh saja. Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk bermewah-mewah, melainkan sedikit ingin mencoba ikut dalam ruang-ruang kajian sederhana. Ya, mari bersama kita sebut “mewah-mewah…!” (*)

———————————

Riki Utomi. bukunya yang telah terbit Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Amuk Selat (puisi, 2020), Anak-Anak yang Berjalan Miring (2020). Bekerja dan tinggal di Selatpanjang, Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan