Jadayat : Malam

MALAM

Para penikmat, gamang kehilangan malam. Dia adalah puncak singgasana penciptaan dan perjalanan. Dunia ini hadir dari gelap kemudian menjadi terang. Sebuah sampiran alegorik tentang awal sebuah malam. Perjalanan yang paling nikmat, senantiasa dilakukan pada malam hari, bukan siang hari. Baik perjalanan fisikal, perjalanan intelektual, apatah lagi perjalanan ruhani (spiritual). Manusia yang memiliki aparat nan tiga; jasad, nyawa dan ruh, merindukan malam untuk sebuah perjalanan spiritual. Perjalanan Israk dan Mi’raj (horizontal dan vertikal) dilaksanakan pada paruh malam. Seluruh pencapaian tertinggi hasrat spiritual manusia, didapat pada malam hari. Shalat sebagian besar dilakukan pada penggal malam (maghrib, isya, witir, tahajud, dan subuh). Di sini malam memberi energi spiritual bagi manusia yang mencari dan demi  menemukan alamat kembali.

Night, nacht, die Nacht (Abend) la nuit, setara dengan kata Arab Lailah dan Malam dalam ucapan Melayu, yang memberi sandaran dua makna (alegoris dan anagogis). Makna alegoris dari malam; sunyi, senyap, leka, gelap, kelam, diam, sepi, hening, sejuk, bergandeng dengan makna anagogis (spiritual) yang disediakan malam; khusyu, dekat, pasrah dan bersua, lembut, jeluk, getar, syahdu, kudus. Lalu, nyanyian kudus, lantun doa dan resitasi suci dipanjatkan senada garis malam nan memanjat perlahan dan perlahan, seakan tak hendak sudah. Manusia merindukan malam, sebab di malam harilah segala ihwal langit menjadi dekat. Wahyu juga turun memilih malam, tak siang. Seseorang mungkin, bukanlah sosok yang dikenal di muka bumi, tapi dia adalah sosok yang populer di langit, karena dia menghabiskan waktu dan energi spiritualnya dengan memanfaat dan mengenderai malam.

Para pencinta merindukan malam. Para penyair menggauli malam dan memangsanya dengan rapal kata. Kerajaan kata dan doa dirawat malam. Pemusik menunggu malam, seniman agung mendendam malam. Dalam malam, ada damai dan rahim. Dalam malam ada kelembutan (latif) dan sabar, ketelitian dan telaten. Dalam malam, penyair menenun cinta. Dalam malam, ilmuan menukil “imjinasi” intekektualitas. Dalam malam, anak muda merindu, dalam malam nan tua mengurai ragam. Dalam malam, pelukis mengurai bingkai. Lalu, bersusun argumen ilmiah sampai hujah tasawuf mengenai keperkasaan malam; jika hendak menjadi permata di langit, jadilah makhluk yang menggauli malam. Habiskan waktu dalam malam-malam yang kelam untuk membuai Tuhan, meng-ayun Tuhan, bergaul dan bercengkerama dengan Tuhan. Sebab, malam menyedia dan menghidang diam. Dalam diam, agama bersemai.

Muhammad suci menerima wahyu pertama di Gua Hira, pada malam hari. Ini menandai pelantikan Muhammad selaku rasul Allah, pada malam hari. Bukan siang hari. Yusuf yang terkaluk di dalam sumur akibat ulah saudara-saudaranya, memanjat langit spiritual di celah lubang sumur dengan mengeja bintang-gemintang dan makhluk langit di malam hari. Lalu, dia menjadi penakwil mimpi. Mimpi yang anggun, hanya mampir pada malam hari. Kita sebagai manusia biasa, senantiasa merindukan malam untuk bermunajat dan menemukan diri, dengan satu target ingin meningkatkan kualitas ruh mendekati kualitas ruh Allah. Manusia yang diciptakan, adalah sebagai persaksian tentang kehadiran Allah, dan secara kreatif, oleh seniman disebutkan bahwa kita (manusia) adalah makhluk imajinasi Tuhan; ketika Tuhan ingin diketahui tentang diriNya. Untuk mengenal Tuhan, manusia cukup menapak dengan tapak terdekat dengan cara mengenal diri sendiri.

Ketika manusia berserak di permukaan malam, malam dinukil dan dilukis dalam gairah sorak duniawi. Manusia mandatangi malam dengan alasan kebudayaan yang serba menghias; kebudayaan melakukan konstruksi terhadap malam. Malam menjadi liar; ada kehidupan malam, ada nightmare, ada red area, ada striptease demi mengungkai malam. Para pemabuk menyemprotkan “khamar” (gairah anggur) vertikal dan diagonal di sudut-sudut bar. Penari menggelinjang dalam balutan kilat blitz cahaya yang memecah malam. Melonjak dan menciptakan garis-garis dinamis. Romantisme malam dituai dalam makna pasar, dalam makna kapitalismus, dia menjadi dewa malam, sehingga siang hari tersungkur dalam kemabukan senyap nan berbuih. Malam selanjutnya, orang-orang berhimpun di sebuah taman malam; ada godaan, risikan, nyanyian dan cuap desah. Malam menjadi racun dan madu. Manusia diberi ruang untuk tafakur dan memilih; malam yang mana? Malam yang sibuk dan hingar bingar? Atau malam di seberang sana; sebuah malam untuk mencari, menemu dan bersua dengan alamat sejati.

Kebudayaan besar atau pun kecil, selalu memanfaatkan malam dalam sejumlah “permainan” dan perjumpaan. Sebab dalam malam, orang lebih santai dan ngaso. Syaraf lebih kendur. Dalam malam, permukaan air bak nirmala yang disiram nadi cahaya. Kemarahan malam berbeda dengan kemarahan siang. Dalam malam, marah dan murka masih memberi ruang untuk diam, namun diam itu bisa memusnah dan menyirna tentang kehadiran. Tak sedikit kisah penyiksaan dilakukan pada malam hari, pemukulan dan penistaan harkat martabat pada malam hari. Ruang-ruang bawah tanah sebagai ruang tahanan, juga menciptakan hari-hari sebagai malam yang kejam dan jahanam. Para tahanan tak  pernah bersua siang. Kudus, syahdu, takarrub yang dipikul oleh malam, berubah sontak menjadi jelaga neraka oleh sebuah malam. Penghilangan orang, amat efektif memanfaatkan malam. Lalu, para pegiat HAM agak lebih awas menatap malam. Sebab, dalam serba kelam semua ihwal bisa dirajut (super kebaikan dan bisa pula bersalin-jelma jadi mega kejahatan). Malam, bak dua sisi mata pedang. Salah mendatanginya, dia berubah sontak menjadi naga gergasi yang menyorong pada kezaliman (zulumat) kegelapan maha dalam. Pilihan ada di tangan kita dalam sebuah “ikhtiyar”, yang di situ manusia melakukan pilihan bebas. Hendak ke mana?…

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan