Esai : Membaca Perjuangan Hidup Tokoh Tia (Feminisme dalam Fiksi-Biografi) – Riki Utomi

Membaca Perjuangan Hidup Tokoh Tia
(Feminisme dalam Fiksi-Biografi)

oleh Riki Utomi

Tidak ada kata menyerah untuk merubah hidup. Garis hidup memang telah ditentukan oleh Tuhan, namun manusialah yang harus berusaha maksimal untuk memperolehnya. Bukankah Tuhan tidak akan merubah suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubah hidupnya? Pernyataan Tuhan itu sejalan dengan pikir kita sebagai manusia yang beriman kepada-Nya. Jelas, hal itu (nasib) memang sesuai jerih-payah yang kita lakukan. Semakin keras kita berjuang akan semakin dapat untuk memperoleh sesuatu yang kita harapkan itu.

Maka sejatinya hidup adalah perjuangan. Perjuangan dalam menggapai apa yang kita inginkan. Sama halnya perjuangan dalam melepaskan diri dari cengkraman penjajah mesti dilakukan dengan mengorbankan jiwa-raga hingga berdarah-darah yang semuanya diperoleh dengan jalan memperteguh diri serta yakin akan usaha yang dilakukan.

Membaca suka-duka kehidupan dalam karya fiksi jenis biografi, dalam hal ini novel, juga dapat membuat kita mendapatkan motivasi hidup. Adanya pelajaran atau hikmah untuk kita petik sebagai gambaran bahwa mereka (tokoh-tokoh itu) sejatinya tidak mudah menyerah begitu saja untuk dipandang berhasil saat ini. Dalam diri mereka ada proses yang berjalan bertahap (step by step) hingga tangga demi tangga mereka pijak dengan iringan air mata dan letih menusuk-nusuk tulang, yang akhirnya sampai di puncak keberhasilan.

Cerita fiksi jenis biografi sarat dengan motivasi hidup. Selain memang menunjukkan sisi perjuangan hidup tokohnya. Kita dapat membaca kisah hidup tokoh-tokoh berpengaruh baik dari negeri sendiri maupun luar negeri dengan kisah penuh ketegangan mampu memberikan dorongan agar hidup ini harus disikapi dengan bijak. Remy Sylado menulis novel berlatar sejarah yang mengisahkan tentang Pangeran Diponegoro, berjudul Pangeran Diponegoro (Menggagas Ratu Adil) yang mana perjuangan pahlawan bersorban itu mampu memberi rasa sugestif kita untuk semangat dalam perjuangan Tanah Air. Juga karangan-karangan penulis lainnya yang cukup getol mengangkat khasanah biografi para tokoh.

Dari hal itu, saya merasa bahagia oleh sebab diberikannya sebuah buku cerita yang ditulis oleh seorang guru muda bernama Nur Kholistiyawatin. Seorang guru energik yang penuh dedikasi dan motivasi tinggi dalam segala hal ini telah menerbitkan sebuah buku tunggalnya berjudul Semua Bermula dari Salah Pilih Jurusan (Pustaka MediaGuru, 2018). Buku berkulit cerah itu akhirya selesai saya lahap. Setelah melahap dengan perlahan-lahan dapat ditelisik bahwa terkait unsur intrinsik dalam—hemat saya buku ini jenis novel—cerita ini adalah fakta adanya. Apakah tokoh dan latar (tempat, peristiwa, waktu). Selain itu, novel ini sarat dengan motivasi hidup untuk mau merubah nasib dari keadaan terpuruk berubah kepada keadaan bahagia.

Bu Lilis (sapaan akrab Nur Kholistiyawatin) secara literer cukup berhasil menguraikan ceritanya. Ceritanya mengalir lancar, beruntut, jelas, sampai kepada akhir yang berujung kepada happy anding. Seperti cerita dalam model karya-karya fiksi klasik dengan jalan hidup apa adanya dan mudah ditebak. Mengalirnya cerita ini sebenarnya mampu memikat pembaca untuk lebih mengikuti suka-duka tokoh Tia sebagai tokoh sentral dalam novel ini. Namun cukup sayang, kurangnya konflik yang melekat pada tokoh Tia membuat cerita ini kurang menggigit. Dalam struktur teks fiksi, ada satu hal mendasar untuk dibangun yaitu puncak konflik. Dimana hal ini menyuguhkan bentuk konflik yang paling tinggi (capaian konflik) dari tokoh utama dalam menghadapi problematikanya. Hingga dikisahkan bagaimana tokoh dapat keluar dari keterpurukan, ketertindasan, dan segala bentuk hal yang menghantui batin dan pikirannya.

Tia yang digambarkan seorang gadis penurut, riang, supel, bersahabat, percaya diri, pintar, pendirian, dan penuh motivasi ini mampu berdikari. Lihatlah, ketika ia baru selesai kuliah memiliki tekad langsung mencari kerja sebisanya. Melamar kesana-kemari sampai akhirnya menemui tawaran untuk bekerja sebagai guru di Riau. Sebelum itu, ketika ia masih berstatus pelajar SMA pun, Tia juga semangat untuk meneruskan harapannya agar bisa kuliah, meski keadaan ekonomi orang tuanya pas-pasan. Tekad seorang perempuan desa yang ingin mengubah nasib ke arah lebih baik. Tia sadar untuk tidak larut dalam kehidupan yang “ringkih”. Sebagai orang yang berpendidikan ia tak menyia-nyiakan kesempatan—dalam hal apapun—meski suka-duka kelak akan dicicipnya yaitu akan jauh berpisah dari keluarganya di Jawa.

Hal itu cukup mengetengahkan konflik tokoh, namun belum berkesan “menggigit” untuk mengangkat cerita ke bentuk lebih menarik. Secara psikologi, tokoh Tia yang tipe nekad itu telah menunjukkan sikap percaya diri dan penuh pendirian telah tampak, namun—alangkah bagusnya—dalam pengembangan tokoh tersebut ada dikemukakan dengan deskripsi, katakanlah petentangan antara Tia dan keluarganya, antara Tia bersama koleganya (orang yang akan membawanya), atau konflik batin tokoh Tia sendiri yang cukup tragis akibat benturan-benturan pikiran yang terus berkecamuk dan harus segera ia ambil keputusan itu; apakah merantau atau tetap tinggal bersama keluarga di Jawa sambil meratapi nasib yang tidak berubah.

Pertama, antara Tia dan keluarganya, cukup menarik untuk dikembangkan lebih jauh menjadi cerita yang lebih panjang. Menjadi lebih berkesan karena adanya kelogisan cerita. Pada prinsipnya orang tua (keluarga) tidak mudah untuk melepaskan anaknya; lebih-lebih seorang yang masih gadis untuk merantau jauh, apalagi ke suatu daerah yang masih asing didengar. Keterasingan akan daerah bisa menjadi alasan prinsip pertentangan antara keluarga dengan sang tokoh. Meski Tia bersikeras untuk merantau. Dari benturan-benturan prinsip yang berbeda itu setidaknya mampu memberi kesan suka-duka Tokoh Tia dalam menjalani kehidupan ini, sehingga ia akan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang tuanya (keluarganya) bahwa ia sudah bertekad dan tidak perlu dicemaskan.

Kedua, konflik tokoh Tia bersama koleganya dapat diceritakan jauh ke bentuk cerita yang asyik, sebenarnya. Dalam novel tersebut, tokoh Tia digambarkan belum memahami daerah yang akan menjadi tempat bertugas. Tia tidak pernah mengira kalau nanti akan mendapatkan tempat tugas mengajar sebagai guru di wilayah Sumatera yaitu Riau yang sejak dahulu belum “terjamah” pikirannya tentang daerah itu. Rasa was-was dan serba salah muncul begitu spontan. Hal ini menarik untuk dikembangkan lebih jauh. Boleh jadi muncul adanya pertengkaran kecil antara ia dan koleganya juga mungkin dengan kawan-kawannya untuk sekadar ingin memberikan pandangan tentang daerah baru yang kelak akan mereka lalui menjalani kehidupan. Pertentangan itu menunjukkan Tia sebagai sosok perempuan yang juga sedikit rapuh walau berani, yang lebih jauh menandakan kelogisan cerita.

Ketiga, konflik batin yang berhubungan dengan tokoh Tia sendiri. Konflik batin adalah hal yang sangat menyiksa pikiran dan perasaan tokoh dimana tokoh akan terus berpikir menghadapi benturan-benturan pandangan dari lingkungannya; keluarga dan kawan-kawan, hingga ia merasa berat dan letih. Bahkan boleh juga sampai berujung berhalusinasi akan hal itu, yang menandakan konflik batin yang berat. Kesulitan mengambil keputusan, meneguhkan diri, memberikan pandangan, hingga timbul perasaan ragu untuk melangkah akibat pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitar akan mampu menjadikan cerita memiliki konflik besar walau hanya sisi perasaan-perasaan tokoh Tia sendiri.

Dari semua asumsi konflik yang dapat melandasai cerita tersebut, setidaknya akan memberi dampak menariknya cerita yang dipaparkan. Meskipun dalam konteks novel biografi, kisah-kisah yang berangkat dari pengalaman nyata sang penulis dapat juga dibumbui ke bentuk rekaan. Sebab sebuah karya fiksi sejatinya berangkat dari lima puluh persen fakta dan lima puluh persen fiksi. Tidak kesemuanya berangkat dari yang fiktif belaka atau sebaliknya berangkat pula kesemuanya dari yang fakta.

Feminisme di dalam karya fiksi

Secara keseluruhan novel yang ditulis oleh Nur Kholistiyawatin ini berbicara penuh tentang perempuan. Dengan tokoh sentral Tia, Buk Lilis (sapaan akrab penulisnya) melenggang gemulai membawa Tia ke arus nasib hidupnya. Deskripsi penggambaran tokoh perempuan dalam hal ini menjadi menarik karena didorong juga oleh sikap perjuangan hidup yang menjadi topik utama yang diusung oleh penulisnya. Berbicara tentang perempuan dalam sastra bukan suatu hal baru, sudah tentu. Banyak penulis yang mengedepankan perempuan yaitu tentang sepak terjangnya dalam kehidupan ini menjadi sebuah karya fiksi yang memikat dan menyentuh. Dapat kita baca novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang tersorhor itu.  Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan tokoh utama perempuan bernama Srintil. Novel Saman karya Ayu Utami dengan tokoh-tokohnya Wisanggeni, Sakuntala, Cok, Upi, Layla. Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana dengan tokoh Maria dan Tuti, dan masih banyak lagi. Mereka (para tokoh) menunjukkan sikap hidup keras, melawan zaman, sambil unjuk gigi menyuarakan “kemerdekaan” perempuan yang memang harus turut mengisi hidup ini. Tidak hanya sekadar suara emansipasi, namun lebih jauh adalah sikap eksistensi kaum hawa untuk bersaing lebih jauh dalam hidup ini, sambil melawan modernitas yang juga akan melingkupi kehidupan mereka di tengah-tengah kewajiban kodratnya sebagai perempuan.

Feminisme hadir menjadi pandangan berarti dalam aspek kehidupan. Termasuk karya sastra. Feminisme merupakan sebuah teori yang berpijak pada keadaan dimana jenis kelamin dipandang sebagai sebuah sumbu organisasi sosial yang fundamental dan tak bisa direduksi yang telah menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Banyak karya fiksi yang mengetengahkan kehidupan perempuan mencerminkan pandangan sikap pengarang untuk memihak atau menumbuhkan kekuatan bagi perempuan itu sendiri bahwa “perempuan memiliki peran penting dalam segala hal dan juga mampu menggapai cita-cita dalam bentuk apapun.” Tentu hal ini di belahan bumi manapun pernah terjadi.

Feminisme dalam kajian (karya) sastra dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu kajian ideologis dan ginokritik. Dalam novel Semua Berawal dari Salah Pilih Jurusan” karya Nur Kholistiyawatin ini, saya lebih tertarik membicarakannya dari sudut pandang tokoh utama, Tia. Jadi dapat diarahkan kepada kajian ideologis. Merupakan kajian yang menjadi pusat pembaca adalah penggambaran perempuan serta stereotipe perempuan dalam karya sastra. Satu sisi, tokoh Tia digambarkan cukup kuat hingga mendasari semua isi cerita, artinya cerita tidak berpeluang kepada arah pemikiran tokoh lain; dapat dikatakan tokoh lain ikut mengambil alih pembicaraan ataupun pengungkapan perasaan yang mendominasi—hal itu tidak terjadi. Tetapi Bu Lilis, hemat saya, cukup kuat menggawangi tokoh utamanya dalam tiap kisah-kisah yang melingkupi suka-dukanya.

Sebagai seorang perempuan yang berpendidikan tinggi, Tia memiliki pandangan hidup jauh ke depan. Terus memikirkan nasib dan ingin merajut harapan. Setinya, Tia adalah perempuan teguh pendirian. Tidak mudah goyah oleh keadaan yang akan dilaluinya kelak. Ini menandakan bahwa tokoh Tia sosok kuat, maju, berdikari, sambil menunjukkan eksistensinya sebagai seorang yang bisa dipercaya bagi keluarga dan lingkungan masyarakat kampungnya. Boleh jadi, Tia akan menjadi sosok “pendobrak” bagi kalangan kaumnya (yang juga perempuan) di kampungnya. Tia mampu memberikan kesan positif bahwa ia adalah perempuan yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja, atau perempuan yang terkurung dalam rumah, tetapi dengan keberanian merantau untuk mengubah nasib itu akan menjadi cerminan bagi kaumnya di kampung bahwa Tia menjadi sosok yang patut untuk ditiru perjuangan hidupnya.

Disinilah letak sisi ideologi dari tokoh. Pendirian adalah kuncinya. Sebab Tia dalam cerita ini tidak main-main untuk merantau dalam rangka merubah nasib hidupnya. Ideologi yang dapat diartikan keteguhan hati (prinsip hidup) yang mampu menjadikan diri termotivasi kuat untuk merantau sekaligus menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang kuat dan tidak bisa dianggap remeh.

Kisah novel ini berakhir dengan jalan kebahagiaan (happy anding). Dimana Tia mampu bertahan untuk menjalani kehidupan di daerah baru ketika telah sampai di Riau, Selatpanjang, dan menjalani aktivitas kerjanya sebagai seorang guru di sebuah sekolah Yayasan Agama Budha. Apalagi di pertengahan cerita ia berjumpa dengan sosok lelaki muda bernama Sam, yang akhirnya menjalin hubungan kasih hingga membangun rumah tangga di rantauan. Bertahannya Tia di rantauan menjadi bukti bahwa prinsip hidupnya berjalan baik dan lancar juga mampu memberi kepercayaan kepada mereka di kampung bahwa ia berhasil.

Kisah novel ini sarat motivasi—khususnya bagi sosok kaum perempuan. Tidak mudah menyerah dari keadaan dan yakin akan sikap (prinsip) untuk teguh dalam pendirian. Bu Lilis—secara tak langsung—seperti ingin mengatakan “perempuan juga harus bisa merantau untuk menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain.” Maka, kenyataannya adalah perempuan di era milenial ini memang bersaing ketat di segala lini aktivitas pekerjaan. Emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini atau Dewi Sartika atau yang lainnya menunjukkan kenyataan yang drastis kepada kita. Bahkan persaingan ketat di kursi-kursi kepemimpinan daerah, kini juga telah mampu di raih oleh perempuan.

Di akhir tulisan ini, terlepas dari kurangnya atau lebihnya novel ini, telah mampu memberikan pandangan pembaca ke arah positif. Terutama pandangan sikap hidup yang pantang menyerah dan terus menanamkan motivasi diri untuk berubah. Bu Lilis dari segi ekstrinsik setidaknya telah mampu memberikan nilai-nilai positif tersebut. Tahniah! Salam literasi. (*)

Selatpanjang, 19 Oktober 2019

 Riki Utomi menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karya puisinya tersiar di beberapa media Riau Pos, Batam Pos, Tanjungpinang Pos, Koran Riau, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Majalah Sabili, Redaksi Apajake, Media Indonesia, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Kompas. Juga terangkum dalam antologi Jazirah Sastra, Banjarbaru’s Rainy Day Festival, Puisi untuk Lombok, Negeri Sawit, Dari Negeri Poci, 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau, Matahari Sastra Riau, dll. Bekerja di SMA Negeri 3 Tebingtinggi, Selatpanjang, Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan