Seni menjadi media penghalus akal budi
Mosaic Analogy
Dalam kajian sosiologi pada bahasan masyarakat multikultural, ada beragam istilah yang mengiringi pembahasannya. Salah satunya menyebut teori Mosaic Analogy. Teori yang dikembangkan oleh Berkson ini berpandangan bahwa masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya, memiliki hak untuk mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis. Teori ini sama sekali tidak meminggirkan identitas budaya tertentu, termasuk identitas budaya kelompok minoritas sekalipun. Masyarakat yang menganut teori ini, terdiri dari individu yang sangat pluralistik, sehingga masing-masing identitas individu dan kelompok dapat hidup dan membentuk mosaik yang indah.
Untuk konteks Indoneisa, teori ini sejalan dengan semboyan negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Secara normatif, semboyan tersebut memberi peluang kepada semua kita untuk mengekspresikan identitas bahasa, etnik, budaya, dan agama masing-masing, dan bahkan diizinkan untuk mengembangkannya. Nah, teori tersebut mendasari beragam kegiatan kebudayaan yang menghimpun beragam latar seni, sosial, dan budaya. Dapat juga mendasari antara pendatang dan penduduk tempatan yang bertemu dalam satu titik atau tempat (melting pot).
Melting Pot
Menyebut istilah residensi, sesuatu yang melintas dalam pemahaman kita seperti kegiatan yang mengumpulkan sekelompok orang dari berbagai utusan wilayah atau negara. Dalam arti lain residensi dianggap sebagai sebuah praktik berkesenian baru yang berpengaruh pada perkembangan artistik seniman. Residensi memberikan ruang dan waktu yang intens kepada seniman untuk berkarya. Seniman tinggal dan berkarya di tempat tertentu agar menemukan pengalaman dan impresi yang baru. Residensi lebih menekankan pada proses berkarya daripada hasil karyanya.
Peserta residensi dengan latar perbedaan seni, sosial, budaya, dan perbedaan lainnya tersebut biasanya akan diarahkan untuk berkegiatan bersama dalam menghasilkan sesuatu produk karya. Residensi telah menjadi ajang mempertemukan pelaku seni untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimilikinya dengan menarik energi lokalitas pada daerah atau negara yang menjadi tujuan residensi.
Kali ini kita fokus pada residensi yang ada di Riau berupa Residensi Seniman Riau Tahun 2023. Residensi Seniman yang digagas oleh Komunitas Seni Rumah Sunting mengambil tempat di DesaTanjung Beringin pada tanggal 27 s.d 29 Januari 2023. Pilihan lokasi yang jauh hiruk pikuk dan bernuansa alam semula jadi serta kaya akan lokalitas memberikan sehampar ide yang tepat untuk seniman melakukan residensi.
Seniman yang terpilih dan diikutkan dari berbagai cabang seni berupa puisi, cerpen, teater, seni rupa, sastra lisan, musik, dan sineas. Ragam cabang seni yang dipilih tentunya menghadirkan orang-orang berbeda latar pula. Baik latar laku, sosial, dan budaya. Namun perbedaan tersebut sepertinya sengaja dipertemukan dalam even residensi ini untuk mewujudkan suatu misi besar yang tersembunyi. Misi apakah itu?
Merawat Seni
Seni dapat menjadi media penyatu perbedaan. Beragam latar seni sekaligus beda latar sosial dan budaya menyatukan keragaman tersebut. Beragam karya seni diwujudkan dan ditampilkan untuk memberikan hiburan dan sisi ruang “berseni” pada masyarakat.
Mengacu pada teori tentang proses kreatif Alma M. Hawkins, bahwa ada tiga tahap yang dilalui seniman dalam berkarya, yaitu eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Dalam residensi seniman kali ini proses kreatif tersebut telah diupayakan para seniman melalui tahapan tersebut. Tahap eksplorasi dilakukan dengan mengamati alam semula jadi, tradisi, dan sosial kemasyarakatan tempatan sebagai bahan dasar dalam berkarya. Tahap improvisasi dengan mengimajinasikan bahan mentah yang diperoleh dari eksplorasi. Sedangkan pembentukan dilakukan dengan mewujudkan atau menampilkan dalam karya yang telah jadi dan proses berwujud.
Akal Budi
Residensi Seniman yang mempertemukan para seniman dengan aktifitas budayanya menjadi penggerak akal budi. Akal budi yang dimaksud tindakan aktif maupun pasif yang mampu membuat kita berpikir. Ragam seni yang ditampilkan membuat penyaksi dan pelaku seni saling bersinergi untuk memberikan dan diberikan pagelaran yang memperhalus budi. Tentunya melalui proses diajak berpikir untuk menemukan sesuatu dari pertunjukan yang ditawarkan. Masyarakat diberikan suguhan yang tidak biasa bukan sekedar hiburan yang hanya membunyikan suara-suara yang “biasa-biasa”.
Penampilan dan eksplorasi beragam seni yang disuguhkan pada masyarakat memberikan siapapun yang menyaksikan akan berpikir bahwa seni itu bukan sekedar hiburan biasa, namun seni yang dapat membuat masyarakat berpikir dan secara jauh akan menghaluskan akal budi untuk modal lebih baik dalam menata masyarakat.
Residensi seniman telah menjadi tempat pertemuan yang menghimpun berbagai latar seperti mosaic analogy yang memancarkan keindahan dari perbedaan.
Bambang Kariyawan Ys, Sastrawan