In Memorium: Kenangan Bersama Wartawan Senior H. Mulyadi


Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
   
PERSIS di hari pertama bulan suci ramadhan, wartawan senior  H. Mulyadi wafat. Sebagian besar masyarakat Riau bahkan sebagian di tataran nasional mengenal wartawan senior yang menghembuskan napas terakhir di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru, Sabtu (27/5) sekitar pukul 16.39 WIB. Dialah salah satu wartawan yang setia pada profesinya. Sampai di  usia 74 tahun, Mulyadi masih menyandang profesi wartawan itu.

Wafatnya  H. Mulyadi tak terlalu mengejutkan. Sebab, hampir sepekan terakhir almarhum dirawat di rumah sakit karena konflikasi dan pendarahan di bagian rongga kepala yang sempat menjadikannya tidak sadarkan diri. Sehari sebelum wafatnya, Gubernur Riau, H. Arsjadyuliandi Rachman dan sejumlah pejabat dan karib kerabat sempat membezuknya saat terbaring di rumah sakit.

Wartawan senior  yang terlahir di Bandung 18 April 1943, meskipun bukan orang Melayu Riau, namun keberadaannya di negeri Lancang Kuning ini hampir seumur hidupnya. . Setamat Fakultas Sastra jurusan Bahasa Prancis, UNPAD, Mulyadi awalnya sempat  menjadi wartawan Pikiran Rakyat Bandung. Kemudian, dia pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan Sinar Harapan.

Setelah Mulyadi menikah dengan Wan Fauziah, putri Walikota Pekanbaru pertama, Wan Abdurrahman, Mulyadi pun  pindah ke Pekanbaru, menjadi koresponden Sinar Harapan. Ketika Sinar Harapan dibredel dan muncullah harian  Suara Pembaruan, Muljadi bertahan ikut bergabung di media yang baru ini  dan beratahan  sampai pensiun tahun 2003. Meskipun keberadaan Mulyadi waktu itu sebagai koresponden namun sesungguhnya dia berstatus sebagai redaktur sebagaimana namananya tercantum di dalam box  tim redaksi.

Tanah Melayu Riau benar-benar menjadi tanah air baru bagi Mulyadi. Bahkan, baginya nyaris taka da istilah balik kampung lagi ke Jakarta di mana kedua orangtuanya bertempat tinggal hingga wafatnya. Perhatiannya pada Riau tak perlu diragukan lagi. Banyak pemikiran dan pandangannya yang dituliskannya dalam berbagai liputan jurnalistik atau opini yang dipublikasikan di sejumlah media yang terbit di Riau memperlihatkan perhatiannya yang besar terhadap pembangunan dan kemajuan Provinsi Riau.

H. Mulyadi yang seangkatan dengan sejumlah wartawan senior Riau lainnya –sebagian besar di antaranya sudah tiada- di antaranya Rida K. Liamsi, Eddy Mawuntu, Syafri Segeh, dan masih banyak lagi, terlibat langsung dalam pendirian PWI Cabang Riau mulai sejak kepemimpinan Rustam S. Abrus, Moeslim Roesli, Moeslim Kawi, Rida K. Liamsi hingga masa kepemimpinan Dheni Kurnia.

Selama karir jurnalistiknya, Mulyadi termasuk wartawan yang paling banyak melakukan perjalanan ke mancanegara baik yang dilakukan atas penugasan media Suara Pembaruan maupun ikut dalam rombongan pejabat setingkat presiden, gubernur hingga bupati. Ini semua dimungkinkan kelebihan Mulyadi yang menguasai bahasa asing di antaranya bahasa Inggeris, Prancis dan Spanyol.

Setelah masa pensiun,  Mulyadi sempat  menjadi koresponden lepas Suara Pembaruan dan menulis opini  di berbagai media di Riau, Sumbar dan Jakarta hingga akhir hayatnya. Dalam usia yang sudah sepuh, Mulyadi tetap saja menunjukkan kegairahan yang luar biasa dalam menulis berita dan opini sebagai sumbangan pikiran dan pandangannya bagi kehidupan terutama tanah Melayu Riau.

Selama hidupnya, Mulyadi sudah menulis 5 buah buku tentang perjalanan jurnalistik terutama ke mancanegara. Bahkan, Mulyadi sempat menulis tetap di beberapa media daerah berupa opininya yang khas. Banyak pengalaman Mulyadi yang diluahkannya di media-media lokal itu sebagai kontribusi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mulyadi meninggalkan satu anak; Muhammad Emille Zola, dan dua orang cucu. Selama menjadi wartawan, sudah menunaikan rukun haji sebanyak 6 kali dan berkeliling dunia dalam tugas tugas jurnalistik. Antara lain ke wilayah Asia Tenggara, Asia, Eropah dan Amerika. Almarhum juga pernah menyambangi Makam Sjech Yusuf di Afrika Selatan.

Terus terang, saya selaku wartawan angkatan muda merasa beruntung karena sempat berteman dekat dengan H. Mulyadi. Sekitar era 1990-2000, saya yang semasa itu menjadi wartawan Media Indonesia, Panji Masyarakat dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), sering diajak Pak Haji atau Pak Mul –panggilan akrabnya- ke sejumlah negara tetangga terutama Malaysia dan Singapura.

Pada waktu  kepemimpinan Gubernur Riau, Soeripto, kami berdua sempat ditugaskan Gubernur Soeripto melakukan peliputan dan perjalanan jurnalistik dengan tugas tertentu. Hal yang paling sulit saya lupa saat kami ditugaskan meliput dan menga,amati situasi Malaysia pada detik-detik menjelang disidangkan mantan Timbalan PM Anwar Ibrahim yang berseteru hebat dengan PM Mahathir Mohamad.

Perjalanan kami sesampainya  di Kuala Lumpur,  sekitar tahun 1997, persis lepas magrib Pak Mul langsung mengajak saya naik taksi ke rumah kediaman Datuk Anwat Ibrahim di kawasan perumahan menteri di Bukit Damansara. Bagi saya tak masuk akal karena bertandang tanpa perencanaan yang rapi ke rumah mantan pejabat Malaysia benar-benar mendebarkan. Banyak pertanyaan muncul di pikiran saya. Bagaimana kalau situasi tidak kondusif yang bisa-bisa saja kami ditangkap karena situasi politik Malaysia yang tak menentu waktu itu.

Saat kami minta sebuah taksi mengantar kami ke perumahan pejabat penting di Malaysia itu, supir taksi juga geleng kepala waktu dibilang Pak Mul minta diantar ke rumah kediaman mantan timbalan PM, Datuk Anwar Ibrahim. “Encik, sudah 20 tahun lebih saya bawa taksi, belum pernah ada penumpang yang minta diantar ke rumah timbalan PM itu,” ucap supir dengan bahasa Melayu yang kental.

Alhamdulillaj. Hasil wawancara  kami dengan Wan Azizah Wan Ismail –istri Datuk Anwar- di rumah dinasnya itu setelah melewati banyak fase mendebarkan karena sekeliling rumah waktu itu dipenuhi puluhan intel polisi Malaysia, memang memberi hasil yang gemilang. Wawancara khusus kami dengan Wan Azizzah dimuat di halaman satu di Media Indonesia dan Suara Pembaruan pada hari bersamaan.

Pada hari wawancara khusus kami tersebut  dimuat, kami berdua sudah berencana langsung meninggalkan Malaysia menuju Singapura lewat darat. Di hari yang sama, PM Mahathir memberlakukan Undang-undang Internal Security Act –semacam UU Subversif di Indonesia dulu. Situasi itulah yang menggelisahkan Gubri Soeripto karena dikhawatirkan kami ditangkap sewaktu masih berada di Malaysia. Namun, saat kami berkomunikasi dengan Pak Soeripto justru sudah berada di Singapura yang membuat orang nomor satu di Riau itu begitu senangnya.

Pak Mulyadi, selamat jalan. Kami  akan  selalu mengenang jasa dan sumbangan pikiranmu bagi Tanah Melayu Riau.

Fakhrunnas MA Jabbar adalah Pemimpin Redaksi TirasTimes.com.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan